Sunday, 26 June 2022


Vanili, Emas Hijau dari Kota Salatiga

27 Sep 2021, 07:12 WIBEditor : Yulianto

Vanili menjadi emas hijau bagi petani di Salatiga | Sumber Foto:Humas Ditjen Perkebunan

TABLOIDSINARTANI.COM, Salatiga --- Vanili menjadi komoditas yang mempunyai prospek cukup cerah, bahkan ibarat emas hijau bagi petani yang membudidayakan. Bayangkan saja, harga vanili bisa mencapai Rp 4 juta/kg. Siapa yang tak tergiur?

Salah satu wilayah Indonesia yang petaninya banyak membudidayakan vanili adalah Salatiga. Dengan dukungan agroklimat, kota kecil di Jawa Tengah dengan luas wilayah sekitar 54,98 km⊃2; ini mejadi sentra pengembangan vanili.

“Dengan posisi ketinggian antara 450-800 meter dari permukaan lau (mpdl) dan curah hujan 2044 MM/tahun, Salatiga siap siap berkontribusi meningkatkan ekspor vanili,” kata Walikota Salatiga, Yulianto.

Yulianto mengatakan, dengan meningkatknya ekpor vanili, bukan hanya negara yang mendapatkan pendapatan melalui pajak ekspor, tapi juga masyarakat pelaku budidaya. “Terlebih, saat ini harga vanili kering mencapai diangka Rp 4 juta per kilogram (kg),” tegasnya.

Ditempat terpisah, Kepala Dinas Pertanian Kota Salatiga, Nunuk Hartini pun membenarkan, Kota Salatiga siap menjadi kota penghasil vanili. Bahkan, pada dasarnya tanaman vanili sudah lama dibudidayakan masyarakat Kota Salatiga. Salah satu warga yang konsisten dalam melakukan budidaya vanili yakni Mbah Harjo di Randuancir.

“Beliau konsisten melakukan budidaya vanili. Dari budidaya tersebutlah dia bisa mengubah ekonomi keluarganya dan hingga menguliahkan anak-anaknya. Ini karena harganya yang menjanjikan,” kata Nunuk.

Seperti diketahui, di Kota Salatiga, Jawa Tengah harga vanili basah sekitar Rp 1 juta/kg dan vanili kering mencapai Rp 4 juta/kg. Bahkan harganya pun cenderung stabil, karena pasarnya cukup luas baik untuk dalam maupun luar negeri. Diantaranya, Thailand, Korea Selatan, Jerman, Denmark, India, Prancis, Belanda, Korea Selatan, Filipina, Malaysia dan Singapura.

Nunuk mengungkapkan, luasnya pasar karena vanili bisa untuk berbagai macam produk, seperti bahan makanan dan minuman, kosmetik hingga obat stamina tubuh.

“Optimisme Kota Salatiga akan menjadi Kota Vanili karena selalin agroklimat yang mendukung untuk dibudidayakan vanili sehingga menghasilkan kualitas vanili terbaik,” katanya.

Nunuk mengatakan, saat ini sudah ada sekitar 9 ribu batang dengan luas lahan 3,74 hektare (ha) yang tersebar di 4 Kecamatan yang sudah dibudidayakan.  “Kita optimis dan yakin Kota Salatiga bisa menjadi kota vanili,” katanya.

Bantuan Bibit

Nunuk menambahkan, pada tahun 2021 Kota Salatiga mendapat bantuan bibit vanili sebanyak 10 ribu batang dan sudah tersalur ke masyarakat sebanyak 5.500 batang. Sisanya akan segera disalurkan ke masyarakat setelah bantuan dari Direktorat Jenderal Pekerbunan (Ditjenbun), Kementerian Pertanian (Kementan) tutun. Kemungkinan bantuan tersebut turun sebelum akhir tahun 2021.

Bantuan untuk masyarakat dalam mengembangkan vanili tidak hanya dari Pemerintah Pusat tapi juga dari Pemerintah Daerah melalui APBD. Misalnya, tahun 2020 Dinas Pertanian Kota Salatiga telah memberikan benih vanili sebanyak 3 ribu batang dan pupuk organik sebanyak 12 ribu kg. Tidak hanya itu masyarakat pun dilatih untuk melakukan budidaya vanili secara good agriculture parctices (GAP).  

Hal ini juga sejalah dengan program Pemerintah Pusat dalam hal ini Kementan melalui program Gerakan Tiga Kali Ekspor (Gratieks). Dengan meingkatnya produksi vanili, otomatis meningkat pula ekspornya, mengingat pasar ekspor vanili masih cukup luas dan banyak permintannya.

 

Reporter : Humas Ditjen Perkebunan
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018