Sunday, 26 June 2022


Permintaan Ekspor Tinggi, Peluang Pinang Menggiurkan

28 Sep 2021, 11:00 WIBEditor : Yulianto

Gulzam bersama Kabid Penyuluhan, M. Taufik | Sumber Foto:Gultom

TABLOIDSINARTANI.COM, Serdang Bedagai---Pinang merupakan salah satu tanaman jenis palem yang mudah tumbuh dan berkembang di Indonesia. Selama ini tanaman tersebut menjadi tanaman pelindung dan pagar pembatas tanah atau untuk kepentingan lainnya.

Namun dibalik fungsi tersebut, ternyata tanaman pinang dimanfaatkan sebagai sumber bahan baku obat-obatan, sehingga sangat dibutuhkan sepanjang tahun. Bahkan menjadi salah sumber devisa ekspor. Karena itu peluang bisnis pinang sangat mudah dan menjanjikan, apalagi semua orang dapat membudidayakan.

Peluang bisnis pinang ini telah ditekuni Gulzan Ahmad selama 18 tahun. Ia membeli barang dari para pengumpul pinang  di Kecamatan Deli Tua, Pancur Batu, Sibolangit dan beberapa daerah yang masyarakatnya banyak membudidayakan pinang. Misalnya, Kabupaten Deli Serdang, Kota Madya Tebing Tinggi, Asahan, bahkan Pekanbaru (Riau), terkadang dari Aceh.

Bahan baku pinang ini saya dapatkan dari pedagang pegumpul. Pinang tersebut kemudian dijemur, selanjutnya dibelah sesuai permintaan,” kata Gulzan yang bisa mengumpulkan pinang hingga  150-200 ton.

“Pada waktu yang lalu pinang pinang ini dikirim hingga ke Pakistan, India, Bangladesh sampai Denmark sesuai permintaan,” katanya saat team Kabid Penyuluhan Serdang Bedagai, M. Taufiq Batubara dan Fredy Siegar dari Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumatera Utara, serta Dinas Pertanian Kabupaten Serdang Bedagai berkunjung ke gudang pengumpulan dan penjemuran Desa Sei Ranpah, Kecamatan Sei Rampah, Serdang Bedagai.

Gulzan biasanya membeli pinang dari pengumpul sesuai pasaran lokal atau Sumatera Utara dengan harga Rp 15.000- 20.000/kg. Harga akan disesuai dengan kualitas pinang yakni kadar air yakni 15 persen. “Pembeli tidak akan menerima pinang yang basah akibat masalah cuaca,” katanya.

Pinang basah akan mempengaruhi kualitas dan kadar air. Apalagi pembeli umumya tidak mempunyai open untuk pengeringan. “Pinang basah juga kurang diminati pembeli luar negeri,” ujarnya Gulzam yang juga mengaku masih kekurangan pasokan pinang karena permintaan pasarnya cukup tinggi.

Kabid Penyuluhan Dinas Pertanian Serdang Bedagai, M. Taufik mengatakan, dalam budidaya pinang harus memperhatikan penggunaan benih unggul, perawatan dan pemupukan serta penanganan pasca panen. Kami harapkan masyarakat petani mau bertanam pinang sebagai sambilan pembatas tanah dengan jarak tanam dua meter,” ujarnya.

 

Reporter : RE. Gultom
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018