Monday, 06 December 2021


Ekonomi mulai Pulih, Permintaan Karet Kembali Melar

18 Nov 2021, 10:21 WIBEditor : Yulianto

Petani karet sedang menyadap | Sumber Foto:Ditjen Perkebunan

TABLOIDISNARTANI.COM, Jakarta - Harga karet akhir-akhir ini menunjukan tren kenaikan. Data Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (GAPKINDO) menunjukkan sampai 19 Oktober harga SIR 20 sebesar 184 cent dollar AS/kg naik dibanding 1 Oktober 172 cent dollar AS/kg,

Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan, Ditjenbun, Dedi Junaedi mengatakan, kenaikan tersebut terjadi dengan kian pulihnya ekonomi di beberapa negara tujuan ekspor utama karet, sehingga permintaan meningkat. Vietnam sebagai salah satu produsen karet terbesar sempat lock down, konsumen kuatir pasokan akan kurang sehingga mereka berusaha melakukan pembelian lebih besar.

Pemicu lainnya adalah naiknya harga minyak bumi. Indonesia saat ini sedang memasuki periode La Nina sehingga produksi karet berkurang dan diperkirakan harga akan naik lagi. Apalagi pemulihan ekonomi di negara-negara tujuan ekspor terus berlanjut. Kontribusi volume ekspor karet dari total volume ekspor perkebunan tahun 2020 adalah 6 persen. Sedang dari sisi nilai 12 persen.

Widyantoko Sumarlin, Direktur Sustainable Natural Rubber Indonesia (SNARPI) menyatakan, tahun 2020 permintaan karet dunia menurun, terutama setengah tahun pertama terjadi penurunan drastis. Tahun 2019 produksi karet alam sebanyak 13,8 juta ton, sedangkan konsumsinya 13,9 juta ton. Pada tahun 2020 produksi 13,6 juta ton dan konsumsi 12,9 juta ton.

Menurutnya, dunia dihadapkan pada kondisi kelebihan karet dibandingkan permintaan, harga karet alam tertekan. Waktu itu sampai karet petani tidak dibeli pabrik. Bersamaan waktunya juga ada serangan penyakit gugur daun Pestalotiopsis sehingga produksi menurun. Petani beralih mencari pendapatan lain dan tidak lagi menyadap karet,: ujarnya.

Menjelang akhir tahun 2020 industri ban mulai pulih. Permintaan karet dunia mendadak naik tetapi pasokan karet dunia menurun. Hal ini menyebabkan harga karet dunia melonjak naik. Tahun 2021 diperkirakan produksi karet dunia 13,8 juta ton sedang konsumsi 14,1 juta ton.

Karet alam di Indonesia juga mengikuti dinamika yang terjadi di dunia. Karena ada time lag dalam reaksi di tingkat kebun rakyat maka saat ini kekurangan bahan baku ditengah permintaan yang naik. Tahun 2019 ekspor Januari-Juni 1,29 juta ton, Juli-Desember 1,29 juta ton total 2,58 juta ton; tahun 2020 Januari-Juni 1,13 juta ton, Juli-Desember 1,33 juta ton, total 2,45 juta ton; 2021 Januari-Juni 1,25 juta ton.

Saat ini dunia sedang menghadapi masalah logistik perkapalan sehingga terjadi penundaan pengiriman sampai beberapa minggu. Kapal di Amerika Serikat untuk masuk pelabuhan saja harus menunggu 2 minggu,” tuturnya

Dalam situasi seperti ini karena kebutuhan bahan baku mendesak ada pabrik ban minta pengiriman karet lewat udara. Sebab, jika menggunakan kapal laut akan menunggu lama sekali. Meskipun biaya pengiriman lewat udara tinggi sekali tetapi hal ini harus dilakukan supaya pabrik bisa berproduksi.

Pada masa lalu supaya tidak ada biaya penyimpanan, pabrik ban biasanya menyesuaikan produksi dengan datangnya karet. Begitu karet datang langsung digunakan sehingga tidak ada biaya penyimpanan. Untuk mengamankan bahan baku, saat ini mereka harus punya persediaan di gudang sehingga permintaan karet semakin tinggi

Data Luas Tanam, Produksi dan Produktivitas Karet

Tahun               Luas Lahan         Produksi                Produktivitas      

2016                3,639 juta ha      3,358 juta ton         1.104 kg/ha

2017                3,659 juta ha      3,68 juta ton           1.250 kg/ha

2018                3,671 juta ha      3,301 juta ton         1,161 kg/ha

2019                3,676 juta ha      3,63 juta ton           1.025 kg/ha

2020 (ASEM)    3,681 juta ha.     2,885 juta ton.         1.018 kg/ha

Reporter : Humas Ditjen Perkebunan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018