Monday, 06 December 2021


La Nina Datang, Waspadai Ganggu Produksi Karet

18 Nov 2021, 10:38 WIBEditor : Yulianto

Petani karet berharap jika harga lebih baik sehingga bisa merasakan keuntungan yang terbaik | Sumber Foto:ISTIMEWA

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta----Iklim ekstrim La Nina dikhawatirkan akan berpengaruh besar terhadap penurunan produksi karet dalam negeri. Apalagi banyak tanaman karet milik rakyat yang kurang terawat baik.

Kepala Pusat Penelitian Karet Indonesia, PT Riset Perkebunan Nusantara, Edy Suprianto mengatakan, penurunan produktivitas tahun 2020 karena serangan penyakit gugur daun Pestalotiopsis yang pengaruhnya terus berlanjut sampai sekarang. Apalagi sudah lama harga karet rendah, sehingga petani tidak lagi merawat pohonnya, tidak diberi pupuk dan dipelihara dengan benar, ditambah Pestalotiopsis maka produksi semakin turun.

“Saat ini kita memasuki La Nina. Hujan yang terus menerus akan menjadi pemicu meningkatnya Pestalotiopsis. Produksi diperkirakan akan semakin menurun. Pabrik karet remah sekarang harus memperhitungkan penurunan produksi untuk kecukupan bahan baku dalam pemenuhan kontrak ekspor,” kata Edy.

Menurutnya, Pestalotiopsis harus dikendalikan bersama-sama dalam bentuk konsorsium. Saat ini banyak perusahaan perkebunan karet mengendalikan kebunnya sendiri. Namun di sekelilingnya ada kebun rakyat yang juga terkena dan tidak dikendalikan. Akibatnya pengendalian sia-sia karena tertular lagi.

Data Ditjen Perkebunan menunjukkan produktivitas karet tahun 2016 1,104 kg/ha, tahun 2017 1,205 kg/ha, tahun 2018 1,181 kg, tahun 2019 1,023 kg/ha dan 2020 1,018 kg/ha. Artinya sejak tahun 2018, produktivitas tanaman karet semakin menurun.

Arifin Panggaribuan, Koordinator Karet dan Tanaman Getah Lainnya, Direktorat Tanaman Tahunan dan Penyegar, Ditjenbun menyatakan, karena keterbatasan anggaran program peremajaan karet semakin menurun setiap tahunnya. Tahun 2017 peremajaan 12.675 ha, perluasan 100 ha. Namun tahun 2018 alokasi peremajaan hanya 3.315 ha, perluasan 2.090 ha.

Sedangkan tahun 2019, peremajaan 5.060 ha, perluasan 800 ha, intensifikasi 10.000 ha. Adapun tahun 2020 peremajaan hanya 3.850 ha, perluasan 125 ha, intensifikasi 100 ha. Kemudian  tahun 2021 peremajaan 800 ha, perluasan 300 ha. Sedang tahun 2022 direncanakan perluasan 100 ha, peremajaan 1.125 ha dan intensifikasi 4.550 ha.

Sekarang harga karet membaik, supaya produktivitas terjaga petani perlu merawat kebunnya,” katanya. Program intensifikasi dengan memberikan bantuan pupuk adalah upaya membantu petani merawat kebun. Karena itu Arifin berharap tahun 2022 ada anggaran biaya tambahan untuk karet baik peremajaan, perluasan, maupun intensifikasi sehingga semakin banyak petani yang bisa dijangkau.

Dengan minimnya anggaran pemerintah, diharapkan KUR (Kredit Usaha Rakyat) menjadi salah satu alternatif pembiayaan. Realisasi KUR karet tahun 2020 sebanyak Rp 2,4 triliun dengan debitur 92.604 orang. Sedang sampai September 2021 KUR sudah tersalurkan sebanyak Rp2,67 triliun denga debitur 93.252 orang. 

Reporter : Humas Ditjen Perkebunan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018