Senin, 22 April 2024


Lada Putih bagian Budaya Masyarakat Babel

10 Des 2021, 20:45 WIBEditor : Yulianto

H. Sukri, petani lada Bangka Belitung | Sumber Foto:dok. H. Sukri

TABLOIDSINARTANI.COM, Bangka Tengah---Salah satu komoditas rempah yang membuat Bangsa Eropa saat masa kolonial tergiur datang ke Indonesia adalah lada. Salah satu sentra lada di Indonesia yang kini tetap bertahan adalah Bangka Belitung.

Bicara mengenai lada putih, Bangka Belitung memang tempatnya. Disamping pertambangan timah yang menjadi salah satu sumber daya pikat, berkebun lada juga merupakan salah satu mata pencaharian utama bagi sebagian masyarakat di Bangka Belitung.

Tak heran jika sepanjang rute jalan di Bangka maupun di Belitung sepanjang mata memandang masih didapati pemandangan hijau pohon lada di kanan kiri jalan. Salah satu petani Lada yang tetap eksis di Bangka Belitung adalah, H. Sukri.

“Kalau disini lada bukan semacam tanaman budidaya lagi, sudah membudaya pada diri masyarakat. Artinya, tidak akan pernah hilang lada dari Bangka Belitung. Lada ini menjadi komoditas terlama dan paling lama, jadi tidak akan mungkin hilang,” ujar Ketua Koperasi Petani Lada Bangka Belitung.

Lahan perkebunan lada di Bangka Belitung cukup luas yakni sekitar 5.000 ha. Namun diperkirakan hanya 2.500 ha yang produktif.  H Sukri sendiri mulai menekuni dunia lada sejak awal tahun 2000-an, karena turun temurun dari orang tuanya.  “Saya mulai berkebun itu pada tahun 2000-an, dengan luas kebun sekitar 2 ha,” katanya.

Sukri bercerita, hasil panen lada kemudian digunakan untuk menambah area kebun lada. Perlahan tapi pasti, sejak tahun 2006 hingga kini luas lahan perkebunan lada yang terletak di Desa Puput, Kecamatan Simpang Katis, Kabupaten Bangka Tengah ini sudah mencapai 50 ha.

Sebagian kebun ladanya itu merupakan bekas tambang timah yang ditimbun kembali dan ditanami lada serta buah-buahan. Dengan luas lahan kebun lada miliknya itu, H. Sukri mempekerjakan masyarakat sekitar sebanyak 100-200 orang, bahkan akan bertambah saat memasuki panen raya.

Tak puas hanya panen dari hanya satu kali dalam setahun, Sukri melakukan terobosan dengan berbagai inovasi agar bisa panen dua kali dalam setahun. “Saya mencoba berinovasi, bagaimana caranya agar kebun lada saya bisa panen dua kali dalam setahun,” katanya.

Perawatan Lada

Untuk perawatan tanaman lada, Sukri mengakui mengacu pada GAP (good agriculture practices) yang pemerintah tetapkan. Jika sebelumnya pemberian pupuk organik diawal tanam sebanyak 3 kg per lubang, maka  GAP terbaru sebanyak 10 kg per lubang tanam. “Ini karena unsur hara tanah rata rata disini sudah menyusut karena petani banyak menggunakan pupuk kimia,” katanya.

Peningkatan penggunaan pupuk organik menurut Sukri selain membantu kesuburan lahan, juga mencegah penyakit tanaman lada. Salah satunya, penyakit kuning. “Dengan GAP yang baru dengan menggunakan pupuk organik 1 lubang tanam 10 kg, inshaa Allah ngak akan terjadi lagi (serangan penyakit),” tambahnya.

Selain menjual lada dalam bentuk mentah, Sukri bersama koperasinya juga telah memproduksi lada bubuk. Namun produksinya memang belum banyak hanya sekitar 3 ton/bulan. “Produksi bubuk lada kita ngak bisa membuat banyak, tergantung permintaan,” ujarnya.

Satu harapan Sukri dan petani lainnya, adalah harga lada bisa lebih lebih baik dari saat ini Rp 100 ribu/kg. Dengan biaya usaha tani yang kian meningkat, paling tidak harganya bisa mencapai Rp 150 ribu/kg. 

Reporter : Echa
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018