Monday, 24 January 2022


Mentan Minta Ada Komoditas Unggulan Baru Di Sektor Perkebunan

29 Dec 2021, 14:31 WIBEditor : Herman

Rapat koordinasi perkebunan

TABLOIDSINARTANI.COMendorong , Bogor --- Tidak bisa dipungkiri sektor Perkebunan menjadi pendorong utama nilai ekspor pertanian saat pandemi. Namun Mentan berharap tahun 2022 Sektor Perkebunan Indonesia harus lebih maju, mandiri dan modern serta mampu kuasai pasar ekspor. Bahkan seluruh pihak yang terlibat dapat menampilkan komoditas unggulan baru di sektor perkebunan   

Saat membuka Rapat Koordinasi Pembangunan Perkebunan di Bogor (28/12), Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo mengungkapkan bahwa perkebunan telah menjadi strategi sektor yang mendukung kinerja positif pertanian khususnya selama pandemi covid 19.

Hal tersebut dapat dilihat dari catatan Badan Pusat Statistik yang menunjukkan nilai ekspor Pertanian Januari-November 2021 sebesar 569,11 triliun rupiah naik 42,47 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2020 yang hanya mencapai 399,45 triliun rupiah, dan sebagian besar dari nilai tersebut merupakan kontribusi dari sektor perkebunan.

Mentan SYL mengungkapkan, di tahun 2022 Sektor Perkebunan Indonesia harus lebih maju, mandiri dan modern serta mampu menguasai pasar ekspor.

“Ini adalah momentum untuk konsolidasi atas apa yang sudah kita lakukan satu tahun ke belakang, dan apa yang akan kita lakukan ditahun mendatang, maka pada 2022 Perkebunan harus menjadi sektor yang semakin maju mandiri dan modern” harap Mentan SYL.

Sektor Perkebunan, kata Syahrul harus memiliki program unggulan yang dapat mengaktualisasikan sektor ini di tahun mendatang, karena itu mendorong agar sektor perkebunan mampu melakukan berbagai bentuk akselerasi baik dari sisi hulu hingga hilir, meminta semua pihak yang terlibat di sektor ini berani menampilkan unggulan baru di sektor perkebunan.

“Tidak hanya sawit, kita punya komoditas unggulan perkebunan lain yang juga memiliki potensi besar bahkan dipasar dunia, ada kopi, kelapa, jambu mete, kakao, karet, lada, pala, dan cengkeh serta komoditas perkebunan lainnya, potensi ini dapat menjadi modal kita untuk melakukan lompatan - lompatan” tegas Syahrul.

 “Kinerja ini harus terus di tingkatkan, kedepan saya ingin warung - warung kopi di dunia harus ada kopi Indonesia, dan produk - produk perkebunan lainnya harus ada di tempat - tempat strategi di dunia”.

Dikesempatan yang sama, Plt. Direktur Jenderal Perkebunan, Ali Jamil, mengatakan dari 27,5 juta hektar luas perkebunan Indonesia, 65% diantaranya adalah perkebunan rakyat. Perkebunan rakyat ini memerlukan dukungan berbagai pihak untuk menghadapi berbagai tantangan baik dalam aspek produktivitas, skala usaha, kepemilikan lahan, hingga permodalan, pembiayaan maupun inovasi teknologi.

"Pekebun rakyat memerlukan dukungan untuk bangkit dalam menghadapi beberapa tantangan yang dihadapi dalam mengembangkan pembangunan perkebunan, sehingga perlu ada pemerintah, kerjasama dan sinergi antara lembaga dan pemangku kepentingan lainnya", kata Jamil.

Skema anggaran dalam pembangunan perkebunan rakyat, lanjut Jamil mulai diarahkan agar tidak hanya mengandalkan APBN, tetapi diarahkan pada pemanfaatan KUR, CSR dan sumber pembiayaan lainnya.

"Oleh itu, kami meminta kepada pihak perkebunan untuk bekerja karena pertanian dan pemangku kepentingan terkait agar bersama-sama pelaksanaan kegiatan tersebut tercapai tujuan pengembangannya,".

Sumber : Humas Kementan
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018