Monday, 24 January 2022


Kemitraan Solusi Sawit Rakyat Berkelanjutan

31 Dec 2021, 11:06 WIBEditor : Yulianto

Logo ISPO jamin ketelusuran produk sawit Indonesia | Sumber Foto:Humas Perkebunan

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Tahun 2021 akan berakhir. Memasuki tahun 2022, di sektor perkebunan, khusus sawit rakyat, masih banyak pekerjaan rumah yang harus dibenahi.

Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) saat menggelar Refleksi Sawit Rakyat 2021 mencatat, selama 2021 upaya peningkatan daya saing perkebunan sawit rakyat berkelanjutan setidaknya mencakup lima aspek. Pertama, bagaimana menjaga harga TBS (tandan buah segar). Kedua, bagaimana mengoptimalkan produktivitas dan menekan biaya pokok produksi.

Ketiga, bagaimana mengelola kepastian dan perlindungan asset petani. Keempat, bagaimana meningkatkan SDM petani. Kelima, bagaimana membangun komunikasi lintas sectoral terkhusus dalam regulasi sawit.

Ketua Umum APKASINDO; Dr. Ir. Gulat M.E. Manurung, mengatakan, salah satu strategi dalam pemenuhan kelima aspek tersebut, konsep kemitraan strategis dan setara menjadi solusi. Sebab, tanpa kemitraan mustahil tujuan mulia tersebut akan tercapai.

Kemitraan yang dimaksud menurut Gulat, mempunyai dimensi ganda. Pertama, kemitraan rantai pasok, mulai dari pelaku sektor hulu sampai sektor hilir kelapa sawit. Kedua, kemitraan antar lembaga, baik dengan Kementerian/Lembaga terkait, maupun kelembagaan sektor swasta.

APKASINDO sebagai penjembatan antara petani kelapa sawit Indonesia dengan program pemerintah (reversible). Dalam hal ini peningkatan kesejahteraan petani kelapa sawit Indonesia dalam payung APKASINDO,” kata Gulat.

Dengan berbagai kegiatan, Gulat mengungkapkan, pada tahun 2021 terjadi peningkatan kesejahteraan petani kelapa sawit. Terlihat dari berbagai parameter. Parameter yang terlihat jelas. Pertama, peningkatan harga Tandan Buah Segar (TBS) yang memecahkan rekor nasional dengan titik tertinggi mencapai Rp. 3.500/kg di Riau.

Kedua, pemerataan harga TBS di seluruh provinsi di Indonesia yang termungkinkan karena hadirnya pengawalan oleh pengurus DPW APKASINDO di setiap rapat. Penetapan harga diadakan Dinas Perkebunan atau Dinas Kehutanan di masing-masing provinsi.

Ketiga, pendataan lahan petani kelapa sawit yang terklaim dalam kawasan hutan. Secara proaktif diinisiasi tim satgas DPP APKASINDO. Keempat, pendampingan peremajaan sawit rakyat. Kelima, sebanyak 27 negara di bawah UE, telah melihat peran petani sawit dalam industri sawit Indonesia melalui pertemuan dengan Dubes UE dan dilanjutkan dengan kunjungan lapangan.

Keenam, termotivasinya sebanyak 16 provinsi pernghasil sawit untuk menerbitkan Pergub Tentang Tataniaga TBS. Ketujuh, APKASINDO telah menjadi motor penggerak komunikasi petani sawit antar negara penghasil CPO melalui kemitraan dengan CPOPC.

Secara global, program kerja APKASINDO 2021 telah membawa petani kelapa sawit menjadi setara dalam kemitraan dan juara dalam pergerakan hulu-hilir kelapa sawit nasional. Bahkan garda terdepan melawan kampanye pembenci sawit,” tuturnya.

 

Reporter : Julian
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018