Rabu, 28 September 2022


Alpukat Ajaib, Alasan Tri Kebunkan Alpukat Boo Am

18 Peb 2022, 14:09 WIBEditor : Herman

Tri Winda Istansi, Pekebun Alpukat Boo Am | Sumber Foto:Soleman

TABLOIDSINARTANI.COM, Malang – Siapa yang tidak kenal alpukat? Buah kaya nutrisi, serat, vitamin dan mineral ini enak dikonsumsi ketika buah sudah tua, baik itu dimakan langsung, menjadi minuman maupun kudapan lezat lainnya. Namun ada yang berbeda dengan buah Alpukat yang dikebunkan Tri Winda Istansi, Alpukat Boo Am adalah alpukat ajaib yang walaupun masih muda dan berukuran kecil namun sudah memiliki rasa yang enak, gurih, berlemak seperti alpukat tua pada umumnya.  

Alpukat bisa dibilang menjadi salah satu buah vaforit sebagian besar masyarakat. Dengan kandungan nutrisi, serat, vitamin dan mineral membuat alpukat bisa dikonsumsi semua usia mulai dari balita hingga orang tua.  

Di Indonesia sendiri banyak sekali varietas alpukat yang dikebunkan, bukan hanya alpukat lokal, varietas alpukat terbaik seperti miki, rifa’I, siger atau alpukat berbuah jumbo seperti alligator, kendil dan lain sebagainya sudah banyak ditanam. 

Salah satunya adalah Tri Winda Istansi, ibu rumah tangga yang juga pekebun alpukat ini mengatakan, tanaman alpukat itu seperti fenomena roket, ada euforia dalam pencarian varietas unggul. 

“Masing-masing berlomba mencari varietas yang terbaik dan mencoba melakukan penilaian, mereka berlomba untuk mendapatkan pengakuan, di sini tidak tahu apakah ada ajang bisnis atau tidak, paling tidak membuat orang untuk berlomba mencari varietas yang terbaik, tapi ujung-ujungnya jualan bibit juga,”katanya.  

Menurut Tri, dari berbagai varietas yang ada saat ia sedang mengembangkan alpukat Boo Am yang punya keistimewaan dipetik dalam kondisi masih muda dan berukuran kecil namun sudah memiliki cita rasa yang enak.  

“Pernah dikirim masih kecil sekali mungkin hanya 1 ons, awalnya tidak percaya apakah alpukat matang atau tidak, setelah dibuka ternyata benar rasanya sudah seperti alpukat yang sudah tua, lunak dan enak.  Dan ini menurut saya sebuah solusi, karena itu sedang saya kembangkan, dengan teknik kesambung pucuk walaupun bisa dengan teknik okulasi juga,”tuturnya. 

Selain dengan cara generatif yaitu melalui biji, pengembangan alpukat juga bisa dilakukan dengan teknik sambung pucuk yang saat ini banyak dilakukan para pekebun alpukat. Dalam teknik sambung pucuk, batang pokok atau batang bawah menggunakan hasil persemaian dari biji. Alasanya karena pohon yang dihasilkan melalui persemaian biji memiliki perakaran yang lebih kuat dan umur tanaman lebih lama.  

“Biji alpukat sebaiknya disemai pada tanah yang gembur dan subur, selain itu juga memerlukan peneduh, dan memiliki pembuangan air yang lancar untuk menghindari busuk akar, persemaian bisa langsung menggunakan polibag supaya mudah dalam pemindahan kelokasi,” terangnya.

Tri menjelaskan, dalam menanam alpukat sebenarnya lebih mudah, karena tidak green house alpukat bisa tumbuh dengan baik, hanya perlu naungan seperti paranet atau diletakkan di bawah pohon.  

Tri sudah mengembangkan alpukat Boo Am sejak 2 tahun yang lalu dan saat ini di kebun miliknya sudah ada pohon alpukat Boo Am yang sudah mulai berbuah. 

 

“Untuk masyarakat yang ingin berkebun Alpukat harus mematangkan dulu varietas apa yang ingin ditanam, Dan harus membeli bibit ke penjual yang mempunyai kapasitas dan validitas yang bagus, kebanyakan petani kita itu gagal di varietas yang salah, karena menunggu waktu 3 tahun cukup lama apabila hasilnya tidak sesuai harapan tentu akan merugi,”ujarnya. 

Reporter : Soleman
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018