Sunday, 26 June 2022


Harga TBS Makin Menggiurkan, Pekebun Tahan Diri Ikut PSR

09 Mar 2022, 13:43 WIBEditor : Gesha

Panen TBS sawit | Sumber Foto:ISTIMEWA

 TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) digulirkan pemerintah sejak tahun 2016 hingga saat ini. Menariknya, geliat pekebun rakyat untuk melakukan PSR terlihat di tahun 2019-2020 dan menurun di tahun 2021. Ada apa?

Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) mencoba membuat perbandingan realisasi jumlah pekebun rakyat yang mengikuti program PSR dengan harga tandan buah segar (TBS) yang diterima petani. "Begitu ada pandemi di tahun 2021 dan harga TBS naik, realisasi PSR cenderung menunda peremajaan pertanaman sawitnya," ungkap Peneliti Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), Ratnawati Nurkhoiry M.Si dalam webinar "Mendorong Realisasi PSR" yang digelar Tabloid Sinar Tani bersama Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS ), Rabu (09/03).

Baca Juga : Mempercepat Realisasi Peremajaan Sawit Rakyat

Karenanya, di tahun 2022 ini, realisasi PSR memiliki tantangan tersendiri ditengah merangkak naiknya harga TBS di tingkat petani. Adapun harga TBS kelapa sawit periode 29 Desember 2021 hingga 4 Januari 2022 di Riau berada di angka Rp3.148,11 per kilogram. Sementara harga TBS kelapa sawit di Aceh tercatat di kisaran Rp2.780 per kilogram. "Januari-Februari 2022 ini TBS sudah hampir tembus Rp 4 ribu/kg. Kenaikan harga TBS ini tentunya membuat petani senang karena otomatis laba yang diterima pekebun menjadi meningkat dibandingkan tahun 2019/2020," jelasnya.

Ratna menuturkan, laba tersebut cukup merata dirasakan pekebun yang sudah menerapkan Good Agriculture Practices (GAP), maupun yang belum. "Kita coba kelompokkan laba dari pekebun yang memiliki tanaman muda, tanaman remaja, tanaman dewasa, tanaman tua, dan tanaman renta (lebih dari 25 tahun). Hasilnya, pekebun yang memiliki tanaman renta dan non GAP, masih mampu menghasilkan laba Rp 2,7 juta per bulan per dua hektar. Apalagi jika tanaman tua, tetap dipupuk bisa mendapatkan Rp 4,3 juta per bulan," jelasnya. 

Kondisi inilah yang menyebabkan pekebun lebih menahan diri untuk ikut mendaftar program PSR. "Petani akan hitung-hitungan dengan kondisi TBS yang tinggi, mereka akan kehilangan pendapatan yang cukup besar. Karenanya, perlu jaminan agar petani masih tetap berpendapatan disaat mereka memutuskan melakukan peremajaan tanaman sawit mereka sampai 3 tahun (tanaman belum menghasilkan/TBM)," urainya.

Berdasarkan data milik Direktorat Jenderal Perkebunan per 4 Januari 2021, realisasi peremajaan sawit baru mencapai 256.893 hektare sejak tahun 2016 lalu. Torehan itu relatif kecil jika dibandingkan dengan target yang dipatok selama enam tahun terakhir mencapai 745.780 hektare.

Batal Ikut

Kondisi menahan diri ikut PSR ini dialami oleh Dinas Pertanian Kabupaten Mukomuko, Bengkulu. Sejumlah pekebun rakyat di Desa Lubuk Talang batal mengikuti PSR karena harga TBS yang tengah merangkak naik. Contohnya, Kelompok Tani Harapan Bersama di Desa Lubuk Talang, Kabupaten Mukomuko, Bengkulu. Sebelumnya, Poktan ini mengusulkan mengikuti PSR karena menggunakan bibit asalan dan berusia tua. "Dari 70 hektar yang diusulkan, sekarang tinggal 67 hektar saja yang tetap ikut PSR. Sisanya batal ikut," ungkap Kasi Produksi dan Proteksi Perkebunan, Dinas Pertanian Mukomuko. Muhammad Asri dalam keterangan tertulisnya.

Diakui Asri, pekebun yang batal mengikuti PSR tersebut sebenarnya memiliki tanaman sawit usia diatas 25 tahun, namun produktivitasnya masih tinggi dan dengan harga TBS yang tinggi, keuntungan yang dirasakan pekebun masih menggiurkan. 

Pekebun lainnya dari Desa Lubuk Pinang, Kecamatan Lubuk Pinang yakni Poktan Tandan Mas dengan luasan 80 hektar dan Poktan Sejahtera dengan luasan 90 hektar juga membatalkan diri ikut serta PSR. Poktan dari Desa Sungai Gading, KRP Sinar Abadi dengan luasan 132,43 hektar, Poktan dari Desa Talang Sakti, Poktan Cahaya Sejahtera dengan luasan 120,47 hektar serta Poktan Maju Bersama dari Desa Sungai Lintang dengan luasan 92,78 hektar juga tercatat oleh Dinas Pertanian Kabupaten Mukomuko Bengkulu menjadi Poktan yang membatalkan diri ikut serta PSR. Padahal di tahun 2022 ini, Dinas Pertanian Mukomuko menargetkan melakukan PSR pada lahan sawit tidak produktif dan tua seluas 1500 hektar. 

 

Reporter : NATTASYA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018