Sunday, 26 June 2022


Pekebun Wajib Tahu, Inilah Ceklis Kriteria dalam Sertifikasi ISPO

31 Mar 2022, 14:56 WIBEditor : Gesha

Pekebun Sawit | Sumber Foto:ISTIMEWA

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Untuk memperoleh sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO), setidaknya ada 7 prinsip dengan berbagai kriteria yang dipenuhi pekebun. Apa sajakah ceklis kriteria tersebut?

Dalam Permentan 38/2020 mengenai Penyelenggaraan Sertifikasi Perkebunan Sawit Berkelanjutan Indonesia, telah diatur prinsip dan kriteria ISPO yang wajib dipenuhi pekebun. Selain mengatur prinsip dan kriteria ISPO, Permentan 38/2020 ini juga mengatur berbagai hal seperti kelembagaan sertifikasi ISPO, alur sertifikasi ISPO, pembinaan dan pengawasan, pendanaan hingga sanksi administrasi bila sertifikasi yang yang diberikan itu tidak diterapkan dengan konsisten sesuai dengan kaidah ISPO.

"Prinsip dan kriteria perkebunan kelapa sawit berkelanjutan, dalam Permentan tentang ISPO ini ada 7 prinsip yang ditetapkan. yakni kepatuhan terhadap peraturan dan perundangan, penerapan praktek perkebunan yang baik, pengelolaan lingkungan hidup, sumber daya alam dan keanekaragaman hayati, tanggung jawab terhadap pekerja, tanggung jawab sosial dan pemberdayaan ekonomi masyarakat, penerapan transparansi hingga peningkatan usaha berkelanjutan," ungkap Kasie Pembinaan Usaha Perkebunan Berkelanjutan dari Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian, Prasetyo Djati dalam Webinar "Mendorong Pencapaian Sertifikasi ISPO Perkebunan Sawit Rakyat, 11 Tahun ISPO, Bagaimana Pekebun Kedepan" yang digelar Tabloid Sinar Tani bersama Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPSDPKS), Rabu (30/3).

Prinsip tersebut diuraikan dalam kriteria dan berbagai indikator, di mana untuk perusahaan kelapa sawit dari 7 prinsip tersebut terdapat 37 kriteria dan 173 indikator, sementara untuk pekebun ada 21 kriteria dan 33 indikator.

Prasetyo menguraikan beberapa diantaranya. Mulai dari prinsip Kepatuhan terhadap peraturan dan perundang-undangan yang terdiri dari kriteria legalitas dan pengelolaan pekebun, lokasi pekebun, sengketa lahan dan kompensasi maupun sengketa lainnya, legalitas usaha pekebun, kewajiban usaha pekebun, serta kewajiban ijin lingkungan.

Kemudian prinsip Penerapan praktek perkebunan yang baik, terrdiri dari kriteria organisasi kelembagaan pekebun, pengelolaan perkebunan, hingga penerapan teknis budidaya dan pengangkutan kelapa sawit. Dalam penerapan teknis budidaya ini, perlu memerhatikan proses pembukaan lahan, perbenihan, penanaman pada lahan mineral, penanaman pada lahan gambut, pemeliharaan tanaman, pengendalian OPT, pemanenan hingga pengangkutan buah.

Prinsip ketiga yakni Pengelolaan Lingkungan Hidup, Sumberdaya Alam dan Keanekaragaman Hayati yang terdiri dari Pencegahan dan penanggulangan kebakaran serta pelestarian keanekaragaman hayati. Prinsip keempat yaitu Transparansi yang meliputi Penjualan dan Kesepakatan Harga TBS serta Penyediaan Data dan Informasi. Prinsip kelima yakni Peningkatan Usaha Berkelanjutan yang meliputi peningkatan kinerja dengan mengembangkan dan mengimplementasikan rencana aksi yang mendukung peningkatan produksi kelapa sawit berkelanjutan. 

Sejalan SDGs

Prinsip-prinsip ISPO tersebut ternyata sejalan dengan 12 indikator dari 17 indikator tujuan dari pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pertumbuhan inklusif dan pengentasan kemiskinan. Untuk diketahui, SDGs merupakan agenda pembangunan dunia yang disepakati di PBB untuk dicapai oleh dunia hingga 2030. Hal inilah yang menjadi kekuatan Indonesia dalam meningkatkan eksistensi sertifikasi ISPO agar diterima di pasar internasional.

Pentingnya sertifikasi kelapa sawit berkelanjutan tersebut untuk memastikan bahwa proses dalam industri minyak sawit memperhatikan berbagai aspek lingkungan hidup dan sosial untuk memastikan keberlanjutannya. 

Seperti diketahui, Kelapa sawit Indonesia banyak diterpa isu kampanye hitam karena dinilai merusak lingkungan dan juga produk turunan kelapa sawit Indonesia yang diboikot oleh negara-negara Eropa. Oleh karena itu pemerintah Indonesia menerbitkan sertifikasi sawit berkelanjutan ISPO yang prinsip-prinsipnya memperhatikan aspek lingkungan hidup dan sosial sebagaimana sertifikasi sawit berkelanjutan lainnya.

Reporter : NATTASYA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018