Tuesday, 17 May 2022


Pinang Indonesia Menembus Pasar Global

09 May 2022, 14:07 WIBEditor : Yulianto

Presiden Joko Widodo saat melepas ekspor pinang di Jambi | Sumber Foto:Humas Ditjen Perkebunan

TABLOIDSINARTANI.COM, Jambi---Komoditas perkebunan menjadi salah satu penyumbang devisa negara yang cukup besar. Selain minyak sawit, kopi, teh, kakao dan produk rempah, kini satu lagi yang banyak permintaannya di pasar global adalah pinang.

Pinang menjadi suatu peluang usaha yang menggiurkan bagi petani.  Pinang adalah tanaman yang memiliki banyak manfaat, sayangnya selama ini belum dianggap sebagai komoditas utama. Namun dengan adanya pelepasan ekspor pinang dari Jambi oleh Presiden Joko Widodo, beberapa waktu lalu, diharapkan pamor pinang akan naik.

Untuk memenuhi kebutuhan pasar dunia, baik secara kuantitas maupun kualitas, Presiden meminta agar produktivitas pinang di Indonesia dapat ditingkatkan. Untuk itu, Kementan agar secara masif menghasilkan berbagai varietas unggul dengan produktivitas yang tinggi.  

“Ini nanti yang kita harapkan dalam jumlah yang besar dan tidak hanya menggantungkan pada pohon pinang yang sudah ada, tapi saya sudah perintahkan kepada Menteri Pertanian untuk menyiapkan varietas yang unggul yang baik yang memiliki kualitas yang bagus,” kata Presiden Jokowi.

Presiden menambahkan, tahun 2021 nilai ekspor pinang diseluruh tanah air mencapai Rp 5 triliun lebih dan memberikan income pada petani. Karena itu Jokowi memiliki harapan pinang menjadi salah satu komoditas unggulan, dengan pengelolaan manajemen modern yang lebih baik.

Tingkatkan Produksi

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL) pun mengakui, pinang sekarang menjadi komoditi yang berskala ekonomi. Karena itu, sesuai arahan Presiden, Kementerian Pertanian akan mendorong agar berbagai provinsi yang memiliki potensi besar, termasuk Jambi memperkuat agar ekspornya dapat berjalan lebih baik.

Mengikuti petunjuk Presiden, kata SYL, pihaknya berkomitmen untuk mendukung pengembangan pinang diberbagai wilayah termasuk Jambi. Kementan akan mendorong produktivitas pinang melalui penyediaan bibit berkualitas.

Ia berharap upaya ini dapat meningkat ekspor pinang ke mancanegara dan memperkuat posisi Indonesia dalam perdagangan global. “Tadi ada perintah Bapak Presiden untuk memperbaiki bibit bibit pinang kita agar kualitasnya lebih terjamin, sehingga pemasarannya ke berbagai negara dapat lebih maksimal,” kata SYL.

Sebagai informasi, saat ini produktivitas pinang  biji rata-rata sebesar 651 kg/ha. Bahkan varietas Betara di Jambi dapat mencapai 7,81 ton kernel kering/ha/tahun dengan umur produktif mencapai 25 tahun.

Selama ini perkebunan pinang hampir seluruhnya dikelola oleh rakyat. Produk turunan pinang berpotensi dikembangkan di dalam negeri, dengan tujuan meningkatkan investasi, nilai tambah dan serapan tenaga kerja, antara lain berupa produk kosmetik/kecantikan, olahan, pangan dan farmasi.

Adapun untuk pengembangan pinang di provinsi Jambi, Direktorat Jenderal Perkebunan Kementan telah memfasilitasi kegiatan yang menunjang peningkatan ekspor, antara lain bantuan perluasan 300 ribu pohon benih pinang dan sarana produksi, serta 8 paket prasarana Pasca panen.

Varietas Pinang

Sejak tahun 1980-an Balai Penelitian Tanaman Palma telah melakukan eksplorasi pinang unggul di berbagai daerah di Indonesia dan berhasil mengoleksi 41 aksesi pinang. Dalam koleksi tersebut, 24 aksesi diantaranya memiliki keunggulan produksi.

Berdasarkan produktivitas buah per tandan per pohon, beberapa aksesi memperlihatkan produktivitas tinggi. Aksesi-aksesi tersebut adalah Betara (131.35 butir), Bengkulu-1 (119 butir), Sumbar (100 butir), Nifasi-1 (91 butir), Oyehe (83 butir), Sumbar-2 (81 butir), Sumut-2 (79 butir), Jaharun (79 butir), Sumut-1 (75.38 butir).

Selain itu, Muara Sabak Timur3 (73.07 butir), Kalisusu (71 butir), Molinow-2 (67 butir), Sumbar-3 (65.36 butir), Kampung Harapan (65 butir), Kaliharapan (63 butir), Bengkulu-2 (61.92 butir), Galangsuka (60 butir), Mongkonai (59 butir), dan Muara Sabak Timur-2 (53.17 butir).

Varietas pinang yang sudah dilepas Menteri Pertanian Indonesia dan menjadi varietas unggul ialah Pinang Betara. Ketersediaan pohon induk pinang produksi tinggi sebagai sumber benih merupakan persyaratan yang harus dipenuhi dalam pengembangan tanaman pinang ke depan, apalagi jika Indonesia ingin menjadi eksportir.

Luas tanaman pinang di Indonesia saat ini sekitar 147.890 ha dengan penyebaran hampir di semua wilayah Indonesia, terutama di Pulau Sumatera 42,388 ha, Nusa Tenggara/Bali 42.388 ha, Kalimantan luas 4,475 ha, Sulawesi 2.407 ha, dan Maluku/Papua 1.428 ha. Produksi biji kering dapat mencapai 69.881 ton.

Sebagai informasi kandungan tanin dan alkaloid  adalah dua senyawa yang dominan pada biji pinang.  Tanin yang berkisar 15%, tergolong senyawa polifenol  yang  dapat larut dalam gliserol dan alkohol, sedangkan  alkaloid berkisar 0,3-0,6%.

Selama ini masyarakat Indonesia memanfaatkan buah pinang  sebagai ramuan  yang dimakan  bersama sirih. Bahkan menjadi kebiasaan secara turun temurun pada beberapa daerah tertentu di Indonesia, tetapi konsumennya terbatas. 

Dari hasil penelitian, secara empiris biji pinang dapat mengatasi berbagai jenis penyakit.  Berbagai manfaat yang dapat diperoleh dari pemanfaatan biji pinang diantaranya, sebagai kebutuhan pokok, sumber energi dan untuk upacara adat dan pengganti rokok, mengatur pencernaan dan mencegah ngantuk. Pinang juga dimanfaatkan sebagai bahan kosmetik dan pelangsing, bahan baku obat, dan antidepresi.

Agar biji pinang dapat dinikmati banyak orang, perlu ada inovasi untuk memanfaatkan biji pinang dalam  pengolahan berbagai produk pangan, sehingga mudah dikonsumsi.  Dengan demikian akan lebih banyak konsumen yang merasakan manfaat biji pinang, terutama untuk kesehatan.

Reporter : Humas Ditjen Perkebunan
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018