Thursday, 30 June 2022


Mengenal Sistem Perkecambahan Benih Sawit

18 May 2022, 14:59 WIBEditor : Yulianto

Bibit sawit menjadi segitiga emas peningkatan produktivitas tanaman | Sumber Foto:Humas Perkebunan

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Komoditas kelapa sawit saat ini menjadi salah satu pendulang devisa negara. Data menyebutkan pada tahun 2021 nilai ekspor minyak sawit Indonesia mencapai 35,53 miliar dollar AS. Bahkan hingga Februari 2022 nilai ekspornya sebanyak 5,62 miliar dollar AS.

Karena itu, peluang pengembangan sawit di Indonesia sangat besar. Terlihat dari perkembangan luas areal perkebunan sawit. Jika sebelum tahun 1983 masih kurang dari 1 juta ha, tapi berdasarkan publikasi terakhir dari data statistik Ditjen Perkebunan tahun 2019 angka tetap berkembang menjadi 14.46 juta ha dengan produksi 47.12 juta ton (Ditjenbun, 2021).

Sedangkan perkembangan produksi sawit terus naik. Jika pada tahun 2018, produksi minyak sawit (CPO) masih 43,1 juta ton dengan ekspor sebanyak 36,33 juta ton, maka tahun 2021 produksi naik menjadi 46,88 juta ton dan ekspor sebanyak 33,67 juta ton.

Faktor pendukung peningkatan produksi sawit adalah benih. Benih sawit yang berkualitas tinggi adalah benih hasil persilangan antara pohon induk betina dura dengan pohon induk jantan pisifera.

Masalah Produksi Benih

Namun salah satu permasalahan dalam meningkatkan produksi benih kelapa sawit adalah pada tahap awal perkecambahan. Benih kelapa sawit memiliki kulit yang sangat keras, sehingga harus melalui perlakuan khusus agar benih dapat berkecambah menjadi serempak. Benih kelapa sawit mengalami dormansi dan perkecambahan alami sangat jarang terjadi. 

Proses pengecambahan benih kelapa sawit cukup sulit, karena benih memiliki kulit yang keras sehingga bersifat dorman. Adanya kondisi dormansi ini menyebabkan benih harus diberi perlakuan untuk mematahkan dormansi.

Secara morfologi perkecambahan benih adalah perubahan bentuk dari embrio menjadi kecambah. Secara fisiologi perkecambahan benih adalah dimulainya kembali proses metabolisme dan pertumbuhan struktur penting embrio yang tadinya tertunda ditandai dengan munculnya struktur tersebut menembus kulit benih.

Secara biokimiawi perkecambahan benih merupakan rangkaian perubahan lintasan oksidatif dan biosintetis. Secara teknologi benih adalah muncul dan berkembangnya struktur penting dari embrio, serta menunjukkan kemampuan untuk berkembang menjadi tanaman normal dan diharapkan berproduksi normal pada kondisi yang optimal.

Kelapa sawit berkembang biak dengan biji dan akan berkecambah untuk selanjutnya tumbuh menjadi tanaman. Benih kelapa sawit akan mengalami kesulitan untuk berkecambah karena keadaan fisik benih yang rumit.

Benih kelapa sawit mempunyai beberapa lapisan pembalut buah yaitu kulit buah, daging buah dan lapisan lunak. Keadaan tersebut menghalangi penyerapan air yang diperlukan untuk berkecambah yang mengakibatkan daya berkecambah menjadi terhambat dan waktu berkecambah menjadi lebih lama.

Secara alami sulit didapatkan semaian benih sawit yang serempak dalam jumlah yang besar. faktornya, benih kelapa sawit lambat berkembang, tumbuhnya tidak merata dan dalam waktu tertentu daya kecambahnya rendah.

Benih sawit mempunyai masa dormansi, sehingga tidak langsung dapat berkecambah dengan serentak. Dormansi benih sawit terjadi karena kulit benih (cangkang) yang tebal dan bukan karena embrionya yang dorman.

Kulit benih sawit yang keras dapat menghambat perkecambahan akibat tingginya kadar lignin pada tempurung benih kelapa sawit. Metode pematahan dormansi karena kerasnya kulit benih dapat dengan skarifikasi mekanis untuk menipiskan testa, pemanasan, pendinginan (chilling), perendaman dalam air mendidih, pergantian suhu drastis dan skarifikasi kimia dengan asam sulfat untuk mendegradasi testa.

Karena itu, pengenalan struktur setiap benih menjadi kunci keberhasilan perkecambahan benih yang memiliki daya viabilitas dan vigor yang tinggi.

Reporter : Saipulloh/Nono Suharyono
Sumber : Humas Ditjen Perkebunan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018