Friday, 01 July 2022


Kelembagaan Petani Angkat Daya Saing Kopi Java Preanger

20 Jun 2022, 13:30 WIBEditor : Yulianto

H. Aleh, salah satu petani kopi yang sudah membidik pasar bisnis | Sumber Foto:Dok. Sinta

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Jawa Barat menjadi salah satu sentra penghasil kopi di Indonesia. Bahkan kopi Jawa Barat memiliki kekhasan tersendiri yang biasa disebut Java Preanger. Dengan membangun kelembagaan petani diharapkan nilai tambah dan daya saing kopi Java Preanger akan terangkat.

Dengan letak geografisnya, potensi Jawa Barat sangat mendukung pengembangan kopi, Bahkan kopi yang dihasilkan memiliki citra khas tersendiri atau specialty coffee Indonesia. Karena itu, pemerintah berupaya menaikan nilai tambah dan daya saing kopi yang dihasilkan koperasi dan kelompok tani.

Selama ini untuk ekspor, koperasi kopi di Kabupaten Bandung harus melalui distributor atau pedagang besar. Akibatnya nilai tambah produk kopi tidak dapat dinikmati langsung oleh petani. Di sisi lain, perkebunan kopi di Kabupaten Bandung masih mengalami beberapa permasalahan, salah satunya adalah produktivitas yang belum maksimal.

Prof. Bustanul Arifin, Guru Besar Ekonomi Pertanian dan Sumberdaya Alam, Universitas Lampung, mengatakan, Pemerintah melalui Kementerian Pertanian dalam hal ini Direktorat Jenderal Perkebunan mendorong pembentukan dan pengembangan Korporasi Petani Kopi Kabupaten Bandung.

Bahkan petani kopi Kabupaten Bandung telah membentuk kelembagaan petani yang bertujuan meningkatkan nilai tambah dan kesejahteraan petani dengan nama PT. Java Preanger Lestari Mandiri (PT. JPLM). Lembaga tersebut telah disahkan SK Kemenkum HAM Nomor AHU-0058287.AH.01.01 tanggal 9 November 2020, yang juga telah ditetapkan sebagai Korporasi Percontohan Nasional (KPN).

Data Ditjen Perkebunan, Provinsi Jawa Barat memiliki  luas areal kopi hampir tersebar di seluruh kabupaten dengan luas areal seluas 49,83 ribu ha, produksi sebesar 22,98 ribu ton dan produktivitas sebesar 786 kg/ha. 

Kopi Perkebunan Rakyat (PR) di provinsi Jawa Barat seluas 49,68 ribu ha dengan produksi sebesar 22,92 ribu ton dan produktivitas sebesar 786 kg/ha. Terdiri dari Kopi Robusta seluas 18,64 ribu ha dengan produksi sebesar 10,12 ribu ton dan produktivitas 835 kg/ha dan Kopi Arabika seluas 31,04 ribu ha dengan produksi sebesar 12,8 ribu ton dan produktivitas 754 kg/ha.

Kopi java preanger salah satunya dihasilkan dari Kabupaten Bandung, Jawa Barat ini telah berprestasi di tingkat nasional dan internasional. Diantaranya Kopi Gunung Puntang pernah menjadi juara Specialty Coffee Association of America (SCAA) Expo 2016 di Atlanta, Kopi Gunung Malabar juara kopi filter MICE Melbourne di Australia.

Kopi lainnya yaitu dari Gunung Patuha, kopi ini juga menjadi pemenang lelang kopi micro lot yang digelar SCAI pada 20 Oktober 2017 berbarengan dengan acara Asia Pasifik Coffee Conference di Jakarta dengan dihargai senilai Rp. 2.050.000 per kg dan mendapatkan sertifikat rekor MURI sebagai kopi termahal di Indonesia.

Bustanul mengatakan, selain pada sisi hilir juga pengembangan pada sisi hulu yaitu pengembangan kawasan kopi untuk meningkatkan produksi kopi. Menyiapkan benih unggul kopi bersertifikat, budidaya kopi yang sesuai GAP dan GMP, serta ramah lingkungan menjadi strategi dalam meningkatkan produktivitas dan mutu dari kopi java preanger ini.

Melalui gerakan tanam kopi yang pernah digalakan pada awal tahun 2022 di Kabupaten Bandung diharapkan menjadi solusi jangka panjang mendukung ketersediaan bahan baku kopi sebagai bisnis korporasi petani. Pengembangan areal kopi di Kabupaten Bandung ini juga berkolaborasi dengan Perhutani dengan penyediaan lahan melalui mekanisne LMDH.

Jadi kata Bustanul. selain untuk tujuan pemenuhan rantai pasok kopi berkelanjutan juga bertujuan konservasi dan meminimalkan deforestasi dan degradasi hutan. “Tentu Kementerian Pertanian dalam hal ini Direktorat Jenderal Perkebunan harus berperan aktif dalam membantu korporasi petani meningkatkan nilai tambah dan daya saing produk kopinya,” tegasnya.

Bahkan lanjut Bustanul, rutin untuk mengikuti acara-acaea atau pameran di luar negeri agar lebih dikenal dan dapat dirasakan sensasi dan kelebihan kopi java preanger oleh pencita kopi dunia. Harapannya cafe-cafe di luar sana bisa mengekspor kopi Java preanger.

Saat ini Indonesia menjadi negara penghasil kopi dengan produksi 762.380 ton peringkat ke empat setelah Brazil (3,70 juta ton), Vietnam (1,76 juta ton), Columbia (833 ribu ton).

Selama 13 tahun terakhir (2008-2020) volume ekspor kopi mengalami kenaikan dengan laju pertumbuhan rata-rata 4,50 persen per tahun, sedangkan laju pertumbuhan 10 tahun terakhir 2,01 persen. Rata-rata laju volume impor kopi 44,35 persen (turun dibandingkan tahun sebelumnya 100,64 persen per tahun).

Namun dengan luasan areal kopi sebesar 1.250.452 ha, ternyata produktivitas tanaman hanya 811 kg/ha. Angka itu masih jauh dibawah potensi maksimum produksi yaitu 1.300 kg/ha.

Pada tahun 2020, volume ekspor sebesar 379,35 ribu ton dan memberikan kontribusi devisa senilai Rp. 11,99 triliun. Kopi menjadi penghasil devisa sektor perkebunan terbesar kelima setelah kelapa sawit, karet, kakao dan kelapa.

Perolehan pendapatan dan devisa tersebut belum mencerminkan kontribusi nilai yang optimal. Selama ini kopi yang di ekspor sebagian besar (98,01 persen) masih dalam bentuk produk primer (kopi biji) dengan kualitas ekspor didominasi (lebih dari 70 %) oleh mutu sedang sampai rendah (grade IV s/d VI).

Reporter : Humas Ditjen Perkebunan
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018