Wednesday, 10 August 2022


Ingat ! Kemitraan Bukan Sekedar Kontrak Jual Beli TBS

29 Jun 2022, 17:19 WIBEditor : Gesha

Peran Swasta dalam PSR | Sumber Foto:DITJENBUN

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) terus membuka jalur kemitraan untuk mempercepat Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). Namun pekebun perlu mengingat bahwa kemitraan dilakukan menyeluruh oleh perusahaan kelapa sawit atau pihak swasta.

"Kemitraan bukan hanya berdasarkan azas jual beli. Tetapi mendampingi mulai dari pemilihan bibit, mengawali pemilihan lokasi, penanaman hingga pemanenan. Itu menjadi satu kata kunci wadah kemitraan,” tegas Direktur Tanaman Tahunan, Ditjen Perkebunan Kementan, Hendratmojo Bagus Hudoro dalam Webinar Membangun Jembatan Kemitraan dengan Perusahaan 'Alternatif Dorong Peremajaan Sawit Rakyat' yang digelar TABLOID SINAR TANI bekerjasama dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit ( BPDPKS), Rabu (29/06).

Karenanya, kemitraan harus didasari saling menguntungkan dan berkesinambungan/berkelanjutan sehingga perlu dibuat perjanjian kerjasama antara masing-masing pihak yang bersifat mengikat kedua belah pihak (pekebun dengan perusahaan sawit).

Baca Juga : Pacu PSR dengan Kemitraan

Kemitraan, Jalan Tol Percepat PSR

Pekebun Wajib Tahu, Begini Pengajuan PSR Jalur Kemitraan

Bagus menjelaskan, semenjak dibukanya jalur kemitraan dalam mempercepat Program Peremajaan Sawit Rakyat, perusahaan sawit (swasta) memegang peranan kuat. Minimal akan terkontrol standar teknisnya, penyediaan bahan tanam unggul, pendampingan peremajaan sawit, menjadi penjamin/off taker dan juga kemitraan dengan kelembagaan pekebun rakyat.

“Dengan kebun yang terbangun dengan standar teknis, akan terwadahi pengelolaan aspek budidaya dan aspek hilirnya melalui kemitraan usaha antara kelembagaan pekebun dan perusahaan sawit,” tambahnya.

Namun, untuk melindungi pekebun, Kementerian Pertanian memiliki kriteria perusahaan perkebunan yang layak menjalin jalur kemitraan. Mulai dari keputusan penilaian usaha perkebunan yang masih berlaku dengan nilai paling rendah kelas III (tiga), memiliki unit pengolahan hasil sendiri atau memiliki kerja sama dengan pabrik kelapa sawit pihak ketiga, memiliki sarana alat berat atau daftar pihak ketiga dalam rangka peremajaan kelapa sawit; dan memiliki akses sumber benih kelapa sawit atau memiliki kerja sama dengan sumber benih kelapa sawit.

Reporter : NATTASYA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018