Wednesday, 10 August 2022


Aspekpir : Pekebun Jangan Salah Pilih Mitra

30 Jun 2022, 11:53 WIBEditor : Gesha

Panenan sawit di sebuah pabrik. | Sumber Foto:Gora

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Ketua Umum Asosiasi Petani Kelapa Sawit Plasma Inti Rakyat (Aspekpir), Setiyono mengingatkan agar pekebun yang akan bermitra dengan perusahaan agar memilih perusahaan yang baik. Sebab, jika tidak menurutnya, ada kasus justru saat pelaksanaan, pekebun malah dirugikan.

"Dalam Permentan No, 03 Tahun 2022 dijelaskan persyaratan perusahaan sawit yang memenuhi syarat untuk Kemitraan. Karena dari pengalaman kami, kalau perusahaannya kurang bonafid, memang banyak kendala. Bahkan membayar TBS saja tidak mampu, disinilah rusak (esensinya) dari kemitraan," ungkapnya saat Webinar Membangun Jembatan Kemitraan dengan Perusahaan 'Alternatif Dorong Peremajaan Sawit Rakyat' yang digelar TABLOID SINAR TANI bekerjasama dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit ( BPDPKS), Rabu (29/06).

Setiyono menilai, dengan adanya Permentan No. 03 Tahun 2022 cukup baik. Pasalnya, pelaksanaan kemitraan di kebun eks PIR/Plasma yang mempunyai satu hamparan bisa dipermudah. Selain itu, terintegrasi dengan perusahaan inti dan legalitas kebun jelas. Namun ia berharap, pemerintah segera menyelesaikan persoalan lahan yang sudah tersertifikasi tapi ternyata masuk kawasan hutan.

“Petani senang dengan kemitraan atau sistem plasma. Apalagi kini untuk PSR sudah ada perubahan kebijakan tidak lagi untuk luasan 4 ha per kepala keluarga, tapi 4 ha per orang,” tuturnya.

Dengan kemitraan lanjut Setiyono juga memberikan keuntungan. Diantaranya, kepastian pasokan bagi perusahaan mitra, kepastian penjualan hasil bagi pekebun, harga TBS sudah ada peraturan Permentan. Keuntungan lainnya, kelembahaan pekebun berkembang, usaha perkebunan terprogram baik dan pekebun bisa menerapkan sawit berkelanjutan.

Lebih lanjut Setiyono mengibaratkan, kemitraan layaknya gigi roda mesin yang saling terkait, saling ketergantungan, saling membutuhkan dan saling menguntungkan. Namun dirinya tidak memungkiri adanya permasalahan dalam roda kemitraan tersebut. "Disinilah peranan pemerintah yang harus jeli menangani hal tersebut, supaya masing-masing komponen harus taat," tambahnya.

Tak hanya seperti gigi roda, Setiyono juga mengibaratkan jika kemitraan seperti telur dengan pemerintah menjadi pengikat pola kemitraan melalui Undang-Undang. 

Reporter : NATTASYA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018