Wednesday, 10 August 2022


Replanting Demi Keberlanjutan Kakao di Pidie

25 Jul 2022, 15:11 WIBEditor : Gesha

Ketua FKA T. Iskandar bersama petani kakao | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Pidie Jaya -- Di Aceh luas areal eksisting Kakao mencapai 99.488 ha dangan keterlibatan 127.000 KK Tani. Secara umum areal tanaman kakao kini sudah tua, rata-rata di atas 20 tahun. 

"Secara akademik umur Kakao di atas 16 tahun sudah harus di rehabilitasi dan replanting secara bertahap," ungkap Teuku Iskandar Ketua FKA saat meninjau kebun Kakao di Glumpang Tiga Pidie (23/7).

Menurutnya, berdasarkan hasil pengamatan di lokasi semua tanaman kakao sudah pernah dilakukan sambung samping. Tapi kondisi tanamannya sudah tua dan tidak vigor lagi.

T. Iskandar yang juga staf ahli Distanbun Aceh menyebutkan, hasil evaluasi di Gampong Amud Masjid semua tanaman Kakao terawat dan sudah dilakukan pemangkasan. 

"Namun, akibat kurangnya pemupukan sehingga pertumbuhannya tidak optimal. Walaupun masyarakat masih aktif merawat kakao, tapi kemampuan ekonomi dan modal mereka untuk memupuk tanaman sangat kurang," ungkapnya.

Padahal, klon kakao yang terdapat di Gampong Amud Masjid seperti MCC-01, MCC-02, RCC-70 dan RCC-73 merupakan klon unggul dan relatif tahan terhadap penyakit dan berbiji besar.

Menurutnya, Klon S1 tahan terhadap penyakit, tapi kalau tanpa perawatan yang baik, maka pertumbuhan bijinya kecil. "Untuk itu kita sarankan kepada petani agar diberikan pupuk berimbang," imbuhnya.

Sementara Sulaiman ketua kelompok tani Bina Usaha mengatakan klon MCC-02 sangat dominan dan bagus. "Sehingga bila diaplikasikan ini menjadi  peluang dalam perbanyakan bibit kakao di Pidie," harapnya. 

Dikatakan, dengan terdapatnya areal Kakao di Gampong Amud Masjid seluas 300 ha, diharapkan menjadi areal existing, tanpa perluasan areal lagi. "Untuk mempertahankan luasan tersebut perlu dilakukan replanting secara bertahap," pintanya. 

Model replanting dapat diterapkan melalui intercroping dengan Food Crops jagung, kedelai dan pisang.

Pun begitu Sulaiman tetap memiliki komitmen pada program kakao miliknya. "Luas areal Kakao yang sudah tua 2,5 ha, sedangkan areal baru 1,5 ha dan berumur 2 tahun," sebutnya.

Menurutnya, selama 5 tahun sebagai pioner petani Kakao dan Keujruen Chik Geulumpang Tiga, Pidie, terdapat beberapa masalah karena kebunnya tidak ada pagar kawat berduri. Sehingga hama kerbau dan sapi menjadi problem utama.

Atas kunjungan tim FKA Sulaiman menyampaikan ucapan terimakasih karena telah mengunjungi kebunnya. Tak hanya mengamati harapannya dapat juga ditindaklanjuti penyebab kakao tidak produktif lagi. "Semoga keluhan petani menjadi bahan evaluasi dan mendapatkan solusinya. Kalau kakao subur petani akan makmur," ujarnya berfilosofi. 

Petani Gampong Panjau M. Yusuf menambahkan, dengan merawat kebun secara serius (terpenuhi GAP) dapat menambah penghasilan. "Dari luasan 2 hektar  tanaman Kakao mampu menghasilkan pendapatan Rp.70 Juta/tahun," timpalnya.

Reporter : AbdA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018