Monday, 08 August 2022


Sentra Pala Sikka jadi Sumber Benih Unggul Lokal  

26 Jul 2022, 11:39 WIBEditor : Yulianto

Bij pala | Sumber Foto:Humas Ditjen Perkebunan

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Mendukung peningkatan produksi pala, pemerintah menetapkan kebun sumber benih. Salah satunya berada di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur.

Pala merupakan salah satu komoditas pertanian yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Data Ditjen Perkebunan, luas areal 253.322 hektar (ha) dengan produksi 38.150 ton dan produktivitas 446 kg/ha.

Saat ini sentra produksi pala di Indonesia yakni, Aceh, Jawa Barat, Lampung, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, dan Gorontalo.

Sejak tahun 2016-2022, pemerintah telah menetapkan kebun sumber benih. Terdapat di Jawa Barat, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Timur, Lampung, Maluku, Aceh, Sumatera Barat, Papua Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Kepulauan Riau, dan Nusa Tenggara Timur.

Dengan adanya kebun sumber benih yang telah ditetapkan Direktur Jenderal Perkebunan atas nama Menteri Pertanian dapat mendukung langkah pemerintah dalam peningkatan kualitas dan produksi bahan tanam untuk pengembangan tanaman pala.

Untuk meningkatkan kualitas dan produksi pala yaitu penyediaan bahan tanaman berupa sumber benih, pemerintah telah melakukan penilaian kebun BPT dan PIT tanaman pala pada Maret 2022. Lokasi kebun benih sumber unggul lokal berada di Desa Desa Rubit, Desa Baomekot, Desa Kajowair (Kecamatan Hewokloang) dan Desa Kloangpopot (Kecamatan Doreng), Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur.

Tim penilai yakni, dari Direktorat Jenderal Perkebunan, Pemulia Tanaman Pala Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro) Bogor, Pengawas Benih Tanaman (PBT) dari Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengawasan dan Sertifikasi Benih Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Calon BPT merupakan populasi yang tingkat produktivitasnya melebihi rata-rata produktivitas nasional. Produksi minimal 5.000 butir perpohon per tahun.

Pada tahun 2022, pemerintah telah menetapkan taksasi produksi benih sebanyak 648.080 butir. Benih itu dapat digunakan sebagai data potensi benih unggul lokal yang tersedia untuk kegiatan pengembangan.

Kebun BPT dan PIT pala unggul lokal Kabupaten Sikka yang telah ditetapkan. Kemudian, dievaluasi kelayakannya oleh Tim UPTD provinsi yang menyelenggarakan tugas dan fungsi Pengawasan dan Sertifikasi benih/UPT Pusat paling kurang satu tahun sekali.

Saat ini perkebunan pala di Indonesia sebagian besar diusahakan perkebunan rakyat (98 persen) dan sisanya 2 persen oleh perkebunan besar. Salah satu kelemahan usahatani perkebunan rakyat adalah menggunakan benih asalan dan kurang menerapkan budidaya anjuran. Misalnya, kurang pemeliharaan dan pemanenan serta pengolahan hasil yang tidak tepat waktu.

Dengan kondisi kepemilikan lahan pala yang sebagian besar oleh rakyat, mwmbuat komoditas pala mempunyai kedudukan yang cukup strategis di Indonesia. Apalagi produk utamanya biji, fuli dan minyak atsiri adalah komoditas ekspor yang mempunyai nilai ekonomi cukup tinggi. Biji, fuli dan minyak atsiri pala banyak digunakan dalam industri makanan, minuman, farmasi dan kosmetika.

No.

Nama Pemilik/Produsen Benih

Tahun  Tanam

Luas

(Ha)

Populasi tanaman (pohon)

Pohon induk terpilih (pohon)

Produksi buah/tahun (butir)

Taksasi Produksi Benih pada saat dilakukan penilaian (butir/tahun 2022)

1.

Yakobus Sefni

(Rubit 1 – 16)

1976 dan 1989

1,10

97

16

 

 

7.070

113.120

2.

Fabianus Lawe

(Rubit 17 – 42)

1989 - 1992

2,50

256

26

 

 

8.049

209.280

3.

Simon Sumanto Balik

(Rubit 43 – 51)

1982 - 1983

1,0

90

9

 

 

7.164

64.480

4.

Agustinus Maong (Kloangpopot 1 – 17)

1986 dan 1994

1,5

160

17

 

 

6.602

112.240

5.

Herman Soru

(Kajowair 1 – 10)

1979 - 1982

1

80

10

 

 

7.392

73.920

6.

Yulius Markus Marung (Baomekot 1 – 12)

 

 

1986 1999

1

90

12

 

6.253

75.040

Reporter : Rotua Melisa Sidabutar
Sumber : Humas Ditjen Perkebunan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018