Wednesday, 10 August 2022


Pengembangan Benih, Belajar dari Industri Sawit

31 Jul 2022, 11:20 WIBEditor : Yulianto

Bibit sawit menjadi segitiga emas peningkatan produktivitas tanaman | Sumber Foto:Humas Perkebunan

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Industri sawit mungkin menjadi salah satu contoh yang cukup berhasil dibandingkan komoditas pertanian lainnya. Bermula dari sebatas tanaman pagar, kini sawit menjadi usaha perkebunan menggiurkan dan banyak dilakoni banyak pengusaha.

Keberhasilan pertumbuhan sawit yang cukup pesat tak lepas dari dukung benih unggul. “Benih merupakan faktor pertama kunci keberhasilan dalam industri perkebunan kelapa sawit,” kata Ketua Forum Produsen Benih Kelapa Sawit Indonesia, Dwi Asmono.

Saat webinar Mewujudkan Kemandirian Perbenihan dan Perbibitan dalam Mengantisipasi Krisis Pangan Global yang digelar MPPI bekerjasama dengan Tabloid Sinar Tani di Jakarta, Kamis (27/7), Direktur RnD PT Sampoerna Agro mengungkapkan, Indonesia kini menjadi super power kelapa sawit dunia.

Luas perkebunan kelapa sawit saat ini mencapai 16,3 juta hektar (ha), sehingga menempatkan Indonesia menjadi nomor satu produsen sawit terbesar di dunia. Bahkan setara dengan luas industri jagung di Amerika Serikat. “Jika dirunut ke belakang yang paling berhasil adalah dari sisi up stream atau on farm,” ujarnya.

Berbicara on farm menurut Dwi Asmono, ada beberapa kunci. Pertama adalah planting material atau benih. Di Indonesia ada 58 varietas benih sawit dengan kapasitas produksi mencapai 250 juta kecambah. “Positioning kita ini luar biasa, dari sisi planting material kita tidak perlu khawatir. Indonesia adalah super power di bidang kelapa sawit,” tegasnya.

Dwi Asmono mengungkapkan, pertumbuhan sawit yang cukup pesat memiliki sejarah panjang, sehingga bukan secara tiba-tiba. Tanaman sawit diakui bukan asli Indonesia, tapi hasil introduksi ke Indonesia tahun 1848 ke Indonesia. Jadi status sawit sebenarnya mirip padi yakni tanaman introduksi. “Center of Origin-nya bukan Indonesia. Center of biodiversity sawit itu South is Asia,” katanya.

Dwi bercerita, ada perubahan fundamental dalam perkembangan sawit di Indonesia. Saat masuk pertama kali, sawit hanya sebagai tanaman koleksi. Kemudian pada rentang tahun 1900-an sampai 1980 menjadi tanaman pagar. Jadi sawit bukanlah tanaman perkebunan. “Artinya ada satu perubahan fundamental dan sistematis. Jadi, jika saat itu tidak ada sinergi, maka sawit akan tetap menjadi tanaman pagar dan tidak akan terkonversi menjadi tanaman industri,” katanya.

Bermula dari 4 pohon yang ditanam Tahun 1848, Dwi mengungkapkan, kini perkembangan sawit telah mencapai 16,4 juta ha dengan total produksi pada tahun 2021 sebanyak 46 juta ton. Bahkan tahun 2022, diproyeksinya naik menjadi 49 juta ton. “Posisi kita sangat strategis di dunia. Jadi yang tadinya hanya tanaman pagar bergeser menjadi tanaman industri,” ujarnya.

Jaga Kualitas Benih

Pesatnya pertumbuhan sawit, menurut Dwi, bisa dicapai salah satunya menjaga kualitas benih unggul. Saat ini ada 18 perusahaan yang menghasilkan benih sawit. Tiga terbesar yakni Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), PT Socfin Indonesia dan PT. PP London Sumatra Tbk. “Bergeraknya industri sawit swasta bisa menjadi pelajaran bahwa harus ada kemauan mendorong industri, termasuk private sektor. Sekarang ada  62 varietas unggul dari 19 produsen benih kelapa sawit,” katanya.

Bahkan Dwi mengakui, kini dominasi sawit sebagai sumber minyak nabati di dunia mencapai 40 persen. Di dunia ada empat sumber minyak nabati yakni, minyak kedelai, bunga matahari, repseed dan sawit. Luas pertanaman sawit yang hanya 40 juta ha jauh lebih kecil dibandingkan kedelai yang mencapai 200 juta ha. Luas sawit di Indonesia hanya sekitar 25 juta ha.

“Transformasi sawit yang tadinya tanaman pagar kemudian menjadi tanaman yang dikelola dengan pendekatan industi dan kini menjadi raksasa sebenarnya tidak terlepas dari peran benih unggul,” tuturnya. Karena itu, perlu adanya pendekatan riset yang sistematis dan breeding yang kontinu dalam membangun sistem perbenihan.

Menurut Dwi, membangun industri sawit itu luar biasa. Bahkan untuk menghasilkan benih percobaannya minimal 10 tahun. Jadi hanya pelaku industri yang berfikir untuk masa depan yang berani masuk membangun industri sawit. Apalagi industri benih adalah industri input. “Kalau on farm-nya tidak berjalan baik, maka industri input tidak akan bergerak,” tegasnya.

Dwi menjelaskan, pihaknya mempunyai komitmen tinggi terhadap riset dan pengembangan sawit. Semenjak awal, riset menempati peran utama sebagai bagian misi bisnis perusahaan PT. Sampoerna Agro. “Industri skala besar pasti membutuhkan inovasi. Saya percaya dengan inovasi, kita lebih mudah memenangkan pertempuran. Tanpa inovasi, kita akan rugi dan menjadi tertinggal,” ujarnya.

Sampoerna Agro melalui anak perusahaan PT. Bina Sawit Makmur mulai meniti berdirinya unit riset sejak 1992. Lokasinya di Desa Surya Adi Kecamatan Mesuji, Kabupaten OKI, Sumatera Selatan. Fasilitas ini dibangun untuk mendukung proses pemuliaan kelapa sawit untuk merilis varietas DxP Sriwijaya.

Pemuliaan benih memang menjadi fokus utama riset Sampoerna Agro. Sebab masalah paling fundamental adalah kekurangan benih sawit yang terjadi tahun 2006. Sejak itu kami rancang strategi pemuliaan benih. Karena, kunci utama perkebunan adalah material benih unggul. Makanya, fokus kami ditujukan kepada pemuliaan benih,” tuturnya.

Dwi berkeinginan riset sawit Indonesia tidak boleh ketinggalan dengan negara tetangga seperti Malaysia. Seharusnya, riset sawit ini dapat berkembang pesat di sektor swasta. “Sampoerna Agro punya komitmen kuat terhadap riset. Kami mengalokasikan dana hingga 30 persen dari total revenue bisnis unit yang berasosiasi langsung dengan aktivitas riset dan produksi benih unggul pada tiap tahunnya. Ini untuk menunjang kegiatan dan fasilitas riset,” ungkapnya.

Hasil penelitian sudah terbukti. Saat ini, enam varietas unggul Sampoerna Agro masuk jajaran benih elit dan berkualitas terbaik.  Keenam varietas tersebut adalah DxP Sriwijaya 1 sampai DxP Sriwijaya 6. Varietas ini merupakan kombinasi terbaik dari dura elit dengan pisifera unggul dengan karakteristik sesuai kebutuhan pembeli,” tuturnya.

Reporter : Echa
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018