
Ifah Syarifah sang pemilik usaha Arafa Tea
TABLOIDSINARTANI.COM, Bandung - Tak dapat dipungkiri teh Indonesia semakin diminati pasar dunia. Kementerian Pertanian melalui Ditjen Perkebunan terus mendorong pelaku usaha perkebunan agar terus berinovasi dengan olahan komoditas perkebunan. Tentunya mengajak generasi muda untuk menyukai berbagai produk turunan komoditas perkebunan, khususnya konsumsi teh Indonesia.
"Tantangan pengembangan tanaman perkebunan tidak hanya persoalan produktivitas, tetapi juga nilai tambah yang sangat perlu perhatian besar. Tentunya perlu inovasi-inovasi yang lebih baik lagi di sisi petani dan pelaku usaha agar produk teh mendapat branding yang positif dalam pemasarannya, karena produk turunan teh beragam dan memiliki potensi sangat besar," ujar Dirjen Perkebunan Kementan, Andi Nur Alam Syah, beberapa waktu lalu.
Salah satu inovator olahan teh adalah Ifah Sarifah, pemilik usaha Arafatea yang tinggal di Bandung, Jawa Barat. Beberap produk Arafatea adalah greentea fruit leather yang dikolaborasikan dengan varian rasa buah stroberi, lemon, mangga dan nanas.
Produk inovasi ini bisa menjadi solusi untuk pemanfaatan hasil produksi yang melimpah saat pasca panen raya, karena bisa diawetkan dengan proses dehidrator, tanpa mengubah rasa, warna maupun zat. “Produk tersebut melalui proses pengerigan dehidrator dengan tanpa menghilangkan kandungan nutrisi dan serat di dalamnya,” ujar Ifah, pemilik Arafatea saat dihubungi Tim Ditjen Perkebunan.
Menurut Ifah, Greentea fruit leather milik Arafatea untuk perdana sudah terjual sebanyak 1.000 toples yang dibeli tamu dari Arab Saudi. Selain itu, produk olahan teh milik Arafatea berhasil diminati buyer asal Maroko, yaitu PT Banafa, khususnya produk greentea lemon.
“Arafatea menjalin kerjasama dengan PT Banafa mulai tahun 2022 pada tahap awal 15 ton selanjutnya akan bertambah hingga 2025, dengan produk teh hijau lemon, dan teh rempah-rempah. Adapun manfaat greentea lemon ini sangat berpotensi, karena kaya akan manfaat bagi kesehatan tubuh,” ujar Ifah.
Sementara itu Plt. Direktur PPH Perkebunan, Baginda Siagian menyatakan, Kementerian Pertanian melalui Ditjen Perkebunan selalu berupaya mendorong kerjasama perdagangan seperti komoditas teh ini. Kerjasama ini tentunya berdampak positif bagi pekebun teh dan pelaku usaha perkebunan.
“Selain dapat menambah pendapatan, juga sebagai ajang promosi teh Indonesia agar semakin dikenal dan diminati di pasar dunia,” ujarnya.