
Menteri Pertanian, SYL bersama Dirjen Perkebunan, Andi Nur Alam Syah
TABLOIDSINARTANI.COM, Garut---Kopi menjadi komoditas perkebunan yang selama ini mempunyai nilai jual di pasar mancanegara. Kementerian Pertanian punya target, Indonesia menjadi penghasil kopi nomor satu dunia.
“Pengembangan kopi melalui produksi benih kopi harus diwujudkan sekaligus untuk memenangkan tantangan krisis pangan dan energi di masa depan. Ekspor kopi pun meningkatkan dan kopi kita nomor satu di dunia," kata Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) saat meninjau nursey benih kopi di Desa Cikandang, Kecamatan Cikajang, Garut, Minggu, (28/8).
Berdasarkan status keadaan tanaman, luas kopi nasional terdiri dari Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) seluas 188,91 ribu ha dan TM (Tanaman Menghasilkan) seluas 947,92 ribu ha. Adapun luas areal Tanaman Tidak Menghasilkan atau Tanaman rusak (TTM/TR) mencapai 122,16 ribu ha.
Secara nasional, kata SYL, luas areal kopi nasional pada Tahun 2021 mencapai 1,26 juta ha. Terdiri dari luas kopi Perkebunan Rakyat (PR) seluas 1,23 juta ha atau 98 persen dan Perkebunan Besar (PB) seluas 0,03 juta ha atau 2 persen.
“Inovasi bibit kopi harus dapat dikembangkan di berbagai daerah sehingga Indonesia yang saat ini menduduki posisi ketiga produksi kopi dapat dengan cepat menduduki posisi pertama di dunia ke depannya,” katanya.
Jawa Barat merupakan wilayah penghasil benih kopi nasional dengan total target produksi mencapai 3 juta batang tahun 2022. Produksi kopi Jawa Barat terus berkembang pesat, pada Januari-Maret 2022 total penanaman mencapai 499.000 batang.
Kemudian bertambah lagi pada April-Junuari 2022 sebanyak 1,01 juta batang, Juli-September 300.000 batang dan pada Oktober-Desember mencapai 900.000 batang. "Jawa Barat masuk sepuluh besar kawasan pengembangan Kopi di Indonesia. Termasuk Aceh, Sumut, Sumsel, Lampung, Sulsel, Bali, dan NTT," ujar SYL .
Direktur Jenderal Perkebunan Kementan, Andi Nur Alam Syah menambahkan saat ini produksi kopi nasional mencapai 774,70 ribu ton yang terdiri dari produksi kopi Perkebunan Rakyat (PR) sebesar 769 ribu ton atau 99,33 persen dan produksi kopi Perkebunan Besar (PB) sebesar 5,67ribu ton atau 0,67 persen. Semua kopi tersebut tersebar hampir di seluruh provinsi di Indonesia dengan produktivitas 817 kg/ha.
Produksi kopi yang dihasilkan sebagian besar di ekspor dengan volume ekspor tahun 2021 sebesar 382,93 ribu ton dan memberikan kontribusi devisa senilai Rp. 12,35 triliun. “Nilai itu menjadikan kopi penghasil devisa sektor perkebunan terbesar kelima setelah kelapa sawit, karet, kakao dan kelapa,” katanya.
Namun Andi menilai, perolehan devisa yang ada belum mencerminkan kontribusi nilai optimal. Hal ini, mengingat sebanyak 98,01 persen kopi yang diekspor masih dalam bentuk produk primer atau kopi biji dengan kualitas ekspor didominasi 70 persen oleh mutu sedang sampai rendah grade IV hingga VI. Kendati demikan,.
Kementan sejak tahun 2020 menggencarkan kegiatan BUN500 yakni penyediaan benih uggul bermutu tanaman perkebunan 500 juta batang. Upaya tersebut diantaranya membangun Nursery BUN dan memproduksi benih kopi secara swakelo dan mendorong produsen benih mitra untuk membangun dan memproduksi benih di dalam atau sekitar Kawasan Pengembangan Kopi.
"Yang pasti saat ini jumlah produsen nurseri mitra benih kopi mencapai 47 unit yang tersebar di 14 Provinsi. Pemerintah terus mengembangkan kopi nasional untuk memenuhi kebutuhan ekspor dan dalam negeri," tambah Nur Alam.