Rabu, 28 September 2022


Petani Tebu Rasakan Manisnya Program Makmur  

01 Sep 2022, 09:47 WIBEditor : Yulianto

Petani tebu | Sumber Foto:Yulianto

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Program Makmur ibarat oase di padang pasir bagi petani di tengah serba keterbatasan, baik dari permodalan, sarana produksi dan pemasaran. Dengan adanya program ini , petani bukan hanya dimudahkan dalam ketersediaan sarana produksi, tapi juga penghasilannya terdongkrak.

Seperti dirasakan Ahmad Lukman Sonhaji, Ketua Kelompok Tani Tebu Barokah Agung, Kabupaten Malang. Dengan Program Makmur, menurutnya, petani mendapat kemudahan kebutuhan bibit dan pupuk.

Tahun 2020 dengan adanya aturan baru mengenai pupuk bersubsidi, petani semakin sulit mengaksesnya, terutama petani tebu. Tapi kami sangat bersyukur sekali dengan adanya program makmur,” ujarnya saat webinar Petani Makmur, Petani Merdeka yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani bersama PT. Pupuk Indonesia di Jakarta, Kamis (18/8).

Sonhaji bercerita, selama ini petani tebu menggunakan pupuk Urea untuk pertumbuhan tanaman, ZA untuk meningkatkan bobot tebu dan NPK phonska plus untuk rendemen. Ketiga pupuk tersebut bersubsidi. “Karena kini sulit mendapatkan pupuk subsidi, petani menggunakan pupuk non subsidi,” ujarnya.

Namun lanjut Sonhaji, pada tahun 2021 Kelompok Tani Barokah Agung mendapat tawaran mengikuti Program Makmur. Dalam program tersebut, petani mendapatkan pengawalan dari budidaya hingga pemasaran. “Tim dari Program Makmur beberapa kali mendatangi petani dan mengecek kandungan tanah. Apa yang kurang, apa yang lebih dan apa yang dibutuhkan tanah kita,” tuturnya.

Sonhaji mengakui, dengan bimbingan dalam program Makmur ini, termasuk dalam pemupukan, hasil panen tebu petani meningkat. Bahkan tingkat kemanisan tebu tidak ada yang di bawah 16 brix (tingkat kemanisan). Bahkan ada yang mencapai 18 brix.

Bukan hanya itu, sistem pembelian tebu oleh Pabrik Gula (PG) Krebet Baru menggunakan mekanisme identifikasi realtime. Artinya pengukuran brix tebu dilakukan di lokasi saat petani mengirim tebu ke PG. “Dengan cara itu berpengaruh pada pola penanaman tebu. Petani akan berlomba-loma memperbaiki kandungan atau brik tebu,” ujarnya.

Keuntungan petani lainnya menurut Sonhaji, jika brix tebu 16, maka harganya Rp 3.000 atau Rp 71 ribu/kuintal tebu. Namun jika brix di atas 17, petani akan mendapatkan harga Rp 5.000 atau menjadi Rp 76 ribu/kuintal.

Dengan sistem tersebut, Sonhaji mengaku, pabrik gula dan petani saling diuntungkan. Sebab, pabrik gula akan mendapatkan brix yang bagus, sehingga secara otomatis hasil gula juga bagus.

“Petani juga untung kalau penanamannya baik, brix yang didapatkan juga bagus. Kalau brix dan bobot bagus, maka ada tambahan harga dari pabrik gula. Jadi hasil petani akan jauh lebih maksimal,” imbuhnya.

 

 

 

Reporter : Echa/Atun
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018