Kamis, 09 Februari 2023


Hari Pahlawan, Petani Sawit Pahlawan Devisa Negara

10 Nov 2022, 11:28 WIBEditor : Yulianto

Petani sawit berharap pemerintah meninjau ulang RPP UU Cipta Kerja | Sumber Foto:Dok. Sinta

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Memperingati Hari Pahlawan 10 November 2022 menjadi momentum memberikan pengharagaan kepada petani sebagai pahlawan pangan. Petani/pekebun sawit adalah pahlawan dalam membangun industri sawit yang kini kian tumbuh membesar. Apalagi kini komoditas sawit menjadi penyumbang devisa negara yang sangat besar.

Dengan asumsi sebesar 40 persen produksi bersumber dari perkebunan sawit milik petani, sekitar 19,6 juta ton produksi CPO Indonesia bersumber dari kebun petani. Tentunya, perkebunan sawit rakyat memiliki kontribusi besar bagi konsumen masyarakat dunia.

Apalagi permintaan pasar global yang selalu meningkat akan sejalan dengan pertumbuhan perkebunan sawit rakyat yang terus berkembang. Karenanya dengan kontribusi terhadap ekonomi nasional yang besar, perkebunan sawit rakyat harus mendapatkan prioritas dan dukungan besar bagi keberlanjutannya.

Direktur Utama Badan Pengelolaan Dana Peremajaan Kelapa Sawit (BPDPKS), Eddy Abdurrahman mengatakan, komoditas sawit dari hulu hingga hilir memiliki peranan penting bagi pembangunan nasional. Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, tercatat empat aspek indikator.

Pertama, menciptakan lapangan kerja sebanyak 4,2 juta orang pekerja langsung dan 12 juta orang pekerja tidak langsung. Kedua, mampu mendorong pertumbuhan ekonomi sebesar 3,5 persen dari total Pendapatan Domestik Bruto (PDB).

Ketiga, berkontribusi terhadap perolehan devisa negara, rata-rata sebesar 13,5 persen dari ekspor non migas setiap tahunnya. Keempat, mendorong kemandirian energi melalui bahan bakar nabati atau biodiesel yang menghemat devisa impor solar senilai 8 miliar dollar AS per tahun.

Eddy mengakui, melalui keberadaan minyak sawit berkelanjutan mampu membuka lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan manusia, dan menjaga harmonisasi sosial dan kelestarian lingkungan. “Hal ini selaras dengan tujuan pembangunan nasional dalam menjaga harmonisasi People, Profit dan Planet (3P). Sesuai pula dengan prinsip dan kriteria Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO) yang secara mandatori telah dilaksanakan,” katanya.

Sementara itu Direktur Penghimpunan Dana BPDPKS, Sunari menambahkan, hampir separuh perkebunan kelapa sawit indonesia adalah perkebunan petani swadaya. Mereka hadir di setiap pulau di Indonesia. Pulau Sumatera dan Kalimantan memiliki luas lahan sawit terbesar. Bahkan kini perkebunan sawit telah menyebar ke wilayah timur Indonesia seperti Sulawesi, Maluku dan Papua.

Pemerintah telah melakukan upaya strategis dalam meningkatkan kinerja sektor sawit. Namun kata Sunari, persoalan utama yang dihadapi sektor sawit adalah menurunnya harga CPO yang berdampak pada kesejahteraan petani.

Untuk memperbaiki kondisi ini dan meningkatkan kinerja sektor sawit Indonesia, Sunari mengatakan, beberapa inovasi program perlu dilakukan dalam jangka pendek dan panjang untuk mengatasi masalah tersebut. Pertama, perbaikan dukungan untuk petani sawit rakyat melalui peningkatan ketepatan sasaran yakni pendataan petani sawit rakyat.

Kedua, dukungan perbaikan rantai pasok petani sawit rakyat dan peningkatan daya saing. Misalnya, perbaikan tata kelola pasokan dari petani ke PKS, daya saing PKS dan perbaikan infrastruktur logistik.

“Lantas ketiga, penyediaan layanan informasi kepada petani sawit rakyat atau penyediaan referensi harga TBS dan aplikasi petani sawit,” katanya dalam Diskusi online Ngopi Sawit dan Launching Buku Panduan Sawit: Perkebunan Sawit Rakyat, yang diterbitkan InfoSAWIT didukung BPDPKS, Kamis (10/11).

Tantangan petani sawit cukup besar. Bagaimana jalan keluarnya. Baca halaman selanjutanya.

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018