Jumat, 23 Februari 2024


Tujuh Program Unggulan, Mentan Minta Perkebunan Indonesia Jadi Etalase Dunia

20 Nov 2022, 13:47 WIBEditor : Yulianto

Mentan SYL saat jumpa pers kegiatan Launching Corporate Identity Ditjen Perkebunan di Bogor, Sabtu (19/11) | Sumber Foto:Julian

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor---Ditjen Perkebunan saat ini menetapkan tujuh program unggulan. Dengan program tersebut, Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL) meminta agar perkebunan Indonesia menjadi etalase dunia yang memiliki kekuatan besar terhadap tumbuh kembangnya ekonomi bangsa.

Sebagai etalase dunia, semua produk perkebunan seperti kopi, cokelat maupun komoditas lainya selalu ada di semua pasar dunia. "Saya yakin perkebunan Indonesia akan menjadi perkebunan yang paling hebat besok, perkebunan Indonesia adalah etalase bagi semua perusahaan di dunia yang menyediakan kopi cokelat dari Indonesia," katanya saat melaunching corporate identity Ditjen Perkebunan di Bogor, Sabtu (19/11).

SYL mengatakan, perkebunan merupakan salah satu penopang ekspor pertanian Indonesia dengan capaian total Rp 485,16 triliun atau naik 7,29 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada Tahun 2021. Untuk mentransformasi nilai kerja bioindustri perkebunan, SYL meminta, seluruh jajaran perkebunan fokus, responsif dan kolaboratif.

"Memang kita harus fokus dan terarah dalam membangun perkebunan. perkebunan itu harus mempunyai prioritas terhadap komoditas yang akan ditingkatkan. Karena itu, efisien pemanfaatan sumberdaya harus terukur untuk menetapkan target dan tujuan. Semua petani harus bersatu dalam corporate ini," ujar SYL.

Sementara itu, Direktur Jenderal Perkebunan Kementan, Andi Nur Alam Syah menambahkan bahwa saat ini terdapat 7 program prioritas yang menjadi reorientasi ke depan. Pertama, program Logistik Benih Perkebunan (BUN500) yang terdiri dari penguatan nursery dan perbenihan mandiri.

Kedua, program Perkebunan Partisipatif atau PASTI  yang terdiri dari peningkatan kapasitas usaha kelapa genjah pandan wangi. Ketiga, program Pabrik Mini Minyak Goreng atau PAMIGO. Keempat, Ekosistem Perkebunan (EKSIS) melalui Korporasi Kopi (Java Preanger Lestari Mandiri-JPLM).

Kelima, Peningkatan Produksi, Produktivitas dan Pengendalian OPT. Keenam, Peningkatan Mutu dan pengembangan Produk. Ketujuh, Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) melalui program kelapa sawit tumpang sari tanaman pangan (Kesatria).

Karena itu Nur Alam menegaskan, inilah saatnya Indonesia membangun kekuatan bersama melalui subsektor perkebunan yang jauh lebih maju, mandiri dan modern melalui lembaga era baru corporate identity.

"Kami percaya perkebunan adalah mata rantai harmonis yang selaras dengan harapan masyarakat dan bangsa Indonesia. Inilah saatnya perkebunan membangun kekuatan untuk menjawab tantangan ke depan," jelasnya.

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018