Minggu, 14 April 2024


Bioindustri, Arah Baru Perkebunan Indonesia

29 Des 2022, 03:13 WIBEditor : Yulianto

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo bersama Dirjen Perkebunan, Andi Nur Alam Syah saat Perkebunan Ekspo di Jakarta, beberapa waktu lalu | Sumber Foto:Dok.Sinta

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta--Tak perlu diragukan lagi, di tengah badai covid-19 selama 3 tahun terakhir, sektor pertanian, khususnya sub sektor perkebunan menjadi penopang ekonomi dengan sumbangan devisa dari ekspor. Guna memantapkan lagi peran perkebunan dalam ekonomi nasional, Kementerian Pertanian melalui Ditjen Perkebunan mencanangkan bioindustri perkebunan.

Bioindustri perkebunan diharapkan menjadi solusi mengatasi segala permasalahan pembangunan perkebunan di Tanah Air. Badan Pusat Statistika (BPS) mencatat, pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal III tahun 2022  tumbuh 5,72 persen, dan  sektor pertanian menyumbang sebesar 12,91 persen atau bertumbuh sebesar 1,65 persen.

Pertanian mengalami tumbuh meyakinkan, baik produktifitas maupun ekspor. Dengan PDB pertanian tumbuh 2,2 persen pada triwulan III tahun 2022 dan nilai ekspor pertanian Januari-Oktober 2022 sebesar Rp 550,11 triliun atau naik 7 persen dibanding 2021.

Sub sektor perkebunan memberikan andil besar dalam berbagai pencapaian tersebut. Pada tahun 2021 sub sektor perkebunan menyumbang PDB terbesar di sektor pertanian sebesar Rp 425,04 triliun, dengan pertumbuhan rata-rata 3,66 persen dari 2019. Hal itu didukung nilai ekspor positif sektor perkebunan dengan pertumbuhan 9,41 persen, bahkan pada tahun 2021 naik sebesar 50,5 persen atau sekitar 14,20 miliar dollar AS.

Hilirisasi dan Industri Kecil

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengatakan, Kementerian Pertanian sudah memiliki dua program kerja yang fokus pada pengembangan produk perkebunan. Pertama, memperkuat hilirisasi. Kedua, memperkuat peranan industri baik skala kecil maupun besar.

"Hilirisasi harus makin kuat, misalnya kelapa kita tidak hanya dijual kopra tetapi juga sudah harus dijadikan santan dan berbagai turunan lain terhadap kelapa. Itu contohnya” kata SYL saat membuka Perkebunan Expo (Bunex) 2022 di Jakarta, Rabu (21/22).

Bahkan mantan Gubernur Sulawesei Selatan itu berharap pelaku usaha lebih banyak masuk pada bioindustri. Artinya, -hasil perkebunan bisa menjadi bahan bakar minyak yang dibutuhkan dunia. “Saya kira ini juga yang bisa meningkatkan pendapatan masyarakat,” tambahnya.

Ke depan, SYL meminta ada lebih banyak rakyat/pekebun dapat mengolah sawit yang mereka tanam sendiri untuk menjadi produk olahan seperti minyak goreng. “Minimal bisa dipakai goreng sendiri. Kalau minyak goreng merah tentu saja bisa untuk vitamin dan lain-lainnya,” katanya.

Sementara itu, Dirjen Perkebunan, Andi Nur Alam Syah mengakui, ditengah berbagai pencapaian positif sektor perkebunan, masih banyak permasalahan yang dihadapi dalam pembangunan perkebunan nasional. Dimulai dari kepemilikan lahan perkebunan yang rata-rata masih kurang dari 0,5 hektar, tingginya tanaman rusak dan tua yang mencapai 30 persen, keterbatasan pembiayaan mengakibatkan bantuan yang diberikan ke pekebun tidak full paket.

“Selain itu ketersediaan dan keterjangkauan benih unggul dan bermutu yang masih terbatas yang menyebabkan pekebun belum berkembang maskimal. Kualitas produk yang dihasilkan masih jauh dari standar yang diingikan kosumen juga menjadi masalah yang harus dibenahi,” ungkap Andi Nur.

Karena itu, dalam upaya meminimalkan dampak dari permasalahan yang dihadapi dan meningkatkan produksi, serta daya saing produksi komoditas perkebunan, Direktorat Perkebunan terus melakukan terobosan dan inovasi. ”Dalam menciptakan era baru perkebunan Indonesia bisa dilakukan melalu perkebunan bioindustri,” ujar Andi Nur saat talkshow Era Baru Perkebunan Bioindustri diajang Bunex 2022.

Menurutnya, Andi Nur, ke depan perkebunan bioindustri harus dikembangkan melalui pemanfaatan teknologi modern. Cirinya, penggunaan varietas unggul, efisien, efektif dan integrative, serta penerapkan GAP dan GHP, mekanisasi pertanian dan pemanfaatan IOT (internet of thinking).

Sawit Paling Siap

Direktur Bioenergi Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Edi Wibowo mengatakan, dari berbagai komoditas perkebunan yang ada di tanah air, kelapa sawit dan tebu menjadi komoditas yang siap untuk dikembangkan sebagai sumber energi terbarukan.

Edi mengaku energi terbarukan berbasis sawit memiliki potensi yang besar. Dengan lebih dari 800 PKS (pabrik kelapa sawit) dan luasan lahan lebih dari 16 juta ha, sawit memiliki pontensi energi lebih dari 28 Gigawatt (GW), baik dari biomassa maupaun biogas berbasis buah sawit.  Termasuk pemanfaatan untuk listrik (PLT berbasis sawit) sebesar 874,57 Megawatt (Mw) dan untuk biodisel atau biofuel lainnya 10,15 juta Kiloliter (Kl).

Terkait pembangunan program Energi Baru Terbarukan (EBT) berbasisi sawit, Edi mengatakan, pihaknya memanfaatan sawit sebagai bahan bakar nabati khusus untuk BBN/Green fuel B30. Bahkan kini tengah diriset batang tua sawit menjadi bioetanol, bensin sawit (bensa). “Saat ini target capaian EBT tahun 2022 sudah terlampaui lewat biofuel yaitu dari target 10 juta Kl tercapai sebesar 10,5 juta Kl,” katanya.

Kepala Divisi Program Pelayanan Badan Pengelolaan Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), Arfie Thahar mengatakan, pihaknya telah membiayai penelitian pengolahan sawit menjadi bahan baku industri. Penelitian dari  mulai pengolahan tandan sawit menjadi bioethanol hingga pengolahan batang sawit menjadi tepung pati yang bisa diolah menjadi berbagai produk turunan lainnya .

“Kita juga membiayai penelitan yang dikerjasamakan dengan kelapa sawit rakyat yaitu mini plant pabrik pengolahan kelapa sawit menjadi minyak sawit. Dengan teknologi baru yang menggabungkan teknologi dry prosesing dengan alat De-MCP, ternyata bisa menghasilkan minyak makan sehat yang tinggi betakarotin,” ujarnya. Tidak sampai disitu, produk samping dari industri sawit rakyat ini juga akan diolah menjadi bensin sawit (bensa). 

Reporter : Gsh/Herman
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018