Senin, 04 Maret 2024


Pacu Pertumbuhan dengan Perkebunan Berkelanjutan

29 Des 2022, 03:16 WIBEditor : Yulianto

Pekebun sawit | Sumber Foto:Dok. Sinta

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Meskipun subsektor perkebunan sudah mendominasi pertumbuhan sektor pertanian yang menyangga perekonomian Indonesia. Nyatanya pertumbuhan subsektor perkebunan terus didorong untuk merajai perekonomian Indonesia.

Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, sektor pertanian menjadi salah satu leading sector tumpuan ekonomi Indonesia. Sebagaimana diketahui, BPS mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,72 persen (y-on-y) pada triwulan 3 tahun 2022. Hal ini menjadi indikator penguatan dalam pemulihan ekonomi nasional, yang didukung leading sector utama, yaitu industri, pertambangan, pertanian, perdagangan dan konstruksi melanjutkan tren pemulihan. 

Berdasarkan data tersebut, tumbuh kembang sektor pertanian selain sub sektor perikanan, ditopang subsektor perkebunan dengan andil 2,74 persen, seiring kenaikan produksi minyak kelapa sawit senilai 8,95 miliar dollar AS dan permintaan komoditas teh.

Deputi Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya Alam, Kementerian PPN/Bappenas, Dr.Vivi Yulaswati, MS mengapresiasi capaian tersebut. Namun, kedepan perlu dicari terobosan termasuk emerging subsektor (subsektor yang baru muncul) untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lebih besar lagi.

Dengan terdisrupsinya beberapa target pembangunan, termasuk pertanian dan perkebunan, Vivi mengakui perlu upaya yang lebih besar lagi untuk mendorong pertumbuhan menjadi 6-6,5 persen agar mencapai visi 2045. "Dengan pertunbuhan pertanian (stabil) sampai lebih dari 5 persen, bisa menghantarkan Indonesia ke 2045 menjadi negara maju sekaligus keluar dari middle class trap di tahun 2036," tuturnya.

Lantas bagaimana caranya? Vivi menuturkan, perkebunan berkelanjutan menjadi strategi yang bisa ditempuh Kementerian Pertanian untuk boosting (mengakselerasi) subsektor perkebunan. Dalam RPJMN, Perpres 18/2020 ada dua tugas besar terkait pertanian dan perkebunan secara khususnya.

Mengenai ketersediaan dan akses pangan, serta mendukung peningkatan nilai tambah, lapangan kerja dan investasi di sektor riil dan industrialisasi "Ini sangat terkait dengan perkebunan karena isu subsektor perkebunan sangat berkaitan dengan peningkatan nilai tambah, lapangan kerja dan investasi di sektor riil dan industrialisasi," tuturnya.

Strategi Berkelanjutan

Meskipun tidak berkaitan dengan pangan yang dikonsumsi langsung, subsektor perkebunan juga berkaitan dengan upaya menghadapi krisis pangan. Saat ini paling tidak ada tiga upaya yang harus dilakukan yakni affordability, accesbility dan resiliensi. Bicara ketahanan pangan pastinya kedepan akan bicara juga ketahanan energi kita," tegasnya.

Vivi menjelaskan, dalam UU 39 Pasal 62 dinyatakan juga perkebunan perlu dilakukan secara berkelanjutan. Karena itu strategi berkelanjutannya bisa dilakukan dengan peningkatan produktivitas dan kualitas produksi perkebunan, pengembangan dan penguatan perbenihan.

Selain itu, penguatan hilirisasi dan nilai tambah, pengembangan food estate perkebunan dan korporasi petani perkebunan, penguatan ketersediaan dan aksesbilitas sarana produksi.  “Bahkan penguatan basis data berbasis geospasial, akses permodalan bagi pekebun dan peningkatan presisi dan kelembagaan pekebun,” tambahnya.

Dalam SDGs, perkebunan harus dipandang sebagai satu sistem bisnis industri biomassa yang menganut prinsip yang sama dengan institusi lain harus dilihat secara komprehensif (hulu-hilir) dengan menerapkan prinsip kualitas dan kuantitas, delivery dan cost. Prinsip ini dapat dicapai secara excellent dalam menjalankan aktivitas.

Pemerintah telah menetapkan pembangunan perkebunan berkelanjutan yang berorientasi pada kegiatan usaha yang tersertifikasi ISPO (Indonesia Sustainable Palm Oil). “Salah satu upaya kita menerapkan prinsip pembangunan perkebunan berkelanjutan yakni kebijakan ISPO. Penguasaha harus bisa menaati kebijakan ini sebagai upaya bersama melaksanakan kegiatan usaha yang memperhatikan lingkungan dan sosial,” tuturnya.

Untuk itu, Vivi mengatakan, ke depan sektor perkebunan diharuskan menjadi sebuah bisnis dan industri. Jadi mau tidak mau harus beradaptasi. Faktor tersebut mendorong sustainable development yang dibangun atas dasar faktor terkait dan saling memperkuat pengembangan ekonomi, sosial dan perlindungan lingkungan. “Yang harus diterapkan pada tingkat lokal, nasional, regional dan global,” ucapnya. 

Reporter : Gesha
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018