Kamis, 30 Mei 2024


Buka Bunex 2023, Pesan Mentan: Perkuat Hilirisasi Perkebunan

07 Sep 2023, 17:36 WIBEditor : Yulianto

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo dan Dirjen Perkebunan, Andi Nur Alam Syah membuka Bunex 2023 di Jakarta, Kamis (7/9) | Sumber Foto:Humas Kementan

TABLOIDSINARTANI.COM, Tangsel---Komoditas perkebunan saat ini menjadi penyumbang terbesar pertumbuhan sektor pertanian. tak sekadar produk mentah, ke depan, Kementerian Pertanian melalui Ditjen Perkebunan akan memperkuat hilirisasi untuk meningkatkan daya saing di pasar global.

Saat membuka Perkebunan Indonesia Expo (Bunex) bertema Penguatan Hilirisasi Perkebunan untuk Ketahanan Ekonomi Global di ICE BSD City Tangerang (7/9), Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL) berharap, Bunex 2023 ini dapat menjadi tempat pengembangan perkebunan Indonesia yang Maju, Mandiri dan Modern.

Selain itu, dapat menyediakan sarana promosi bagi wirausaha (investasi) di sub sektor perkebunan, dapat memotivasi pekebun/petani agar menjadi tangguh dan mampu bersaing baik secara lokal maupun global. Bukan hanya itu, juga dapat menyediakan ruang kolaborasi dan sinergi bagi pekebun/petani Indonesia untuk saling berinteraksi, bekerjasama dan berinovasi.

SYL mengapresiasi Direktorat Jenderal Perkebunan dapat membangun perkebunan tidak hanya mengandalkan skema penganggaran dari APBN atau APBD. Program Perkebunan Partisipatif (Pasti) merupakan kolaborasi dan kemandirian dalam pembangunan perkebunan. Dalam.

“Membangun perkebunan Indonesia untuk maju, mandiri dan modern harus ada keterlibatan dan kolaborasi dari berbagai pihak, korporasi besar harus membantu perkebunan masyarakat atau rakyat. Begitupula perkebunan rakyat harus mendukung melalui penyediaan bahan baku dengan baik, yang bermutu dan berdaya saing,” katanya.

Meski ada ancaman pandemi Covid-19 dan El Nino, SYL mengatakan, pertumbuhan PDB (Produk Domestik Bruto) perkebunan pada triwulan II tahun 2023 masih menunjukkan kinerja positif dibandingkan Year on Year dengan tahun 2022 sebesar 3,71 persen dari Rp 200,48 triliun menjadi 207,92 triliun. Kontribusi PDB perkebunan untuk PDB pertanian sebesar 37,16 persen dari Rp 559,52 triliun.

PDB sektor perkebunan mengacu pada peningkatan nilai produksi dan kontribusi ekonomi yang dihasilkan aktivitas pertanian yang fokus pada tanaman-tanaman seperti kelapa sawit, karet, kopi, teh, kakao, dan lain-lain.

Jika dilihat dari capaian nilai ekspor-impor perkebunan sampai dengan triwulan II mengalami kenaikan dari Januari dengan Juni sebesar 4,27 persen dari Rp 43,66 triliun menjadi Rp 47,93 triliun. Kontribusi terbesar berasal dari komoditas sawit sebesar 78,55 persen (Rp 37,64 triliun).

"Capaian ini patut kita syukuri karena hal ini membuktikan bahwa roda pemulihan ekonomi domestik terus bergerak cepat di tengah perlambatan ekonomi global yang saat ini tengah berlangsung di berbagai negara di dunia,” katanya.

Ekspor komoditas perkebunan yang melonjak pada tahun 2023 paling besar disumbang komoditas kelapa sawit, karet, kakao, kelapa dan kopi. Hal ini menunjukkan peluang ekspor komoditas perkebunan sebagai salah satu sumber devisa negara masih terus meningkat. Kopi, kelapa, kakao dan aren merupakan komoditas yang banyak dikembangkan rakyat (99,29 persen).

Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Perkebunan Andi Nur Alam Syah mengatakan, pemerintah terus berupaya meningkatkan nilai tambah produk perkebunan tersebut supaya langsung dapat meningkatkan kesejahteraan petani. Salah satu upaya peningkatan nilai tambah dimulai dengan penyediaan benih perkebunan yang unggul dan bermutu melalui pembangunan nursery komoditas perkebunan yang tersebar pada lokasi Kawasan pengembangan.

Ada beberapa produk hilirisasi yang telah dilakukan Direktorat Jenderal Perkebunan meliputi Kopi Java Preanger Lestari Mandiri yang berada di Kabupaten Bandung, Atar Aroma Atsiri (Produk Turunan Minyak Atsiri) di Kabupaten Purwakarta, Gula Aren Hariang yang berada di Kabupaten Lebak, Gula Kelapa di Kabupaten Purbalingga, Kelorina-Moringa Organik Indonesia di Kabupaten Blora, Kakao Kolut Madai di Kabupaten Kolaka Utara dan Kopi Kopinta yang berada di Kabupaten Tana Toraja.

Menurutnya, kehadiran produk turunan merupakan wujud nyata bahwa produk perkebunan non sawit dalam posisi naik kelas menjadi produk olahan yang berskala ekspor dan memiliki dampak langsung ke petani.

“Saat ini pemerintah sedang fokus terhadap hilirisasi yang mendorong pekebun untuk tidak berhenti dan bangga dengan produk primer, namun bagaimana pekebun dapat menghasilkan produk jadi yang mempunyai nilai tambah yang bermutu dan berdaya saing,” tuturnya.

Di Bunex 2023 ini akan ada kegiatan launching pabrik mini turunan minyak atsiri dan launching Pabrik Pupuk Organik Mandiri. Selain itu juga akan ada Rembug Nasional Pekebun, FGD, Talkshow, Pameran UMKM, Business Matching (Forum Investasi) dan Klinik Perkebunan, Taksi Alat dan Mesin Perkebunan (TITAN).

Selain itu ditampilkan juga nursery Perkebunan, Minimarket Bun (Bazaar murah produk perkebunan), Kuliner Hasil Perkebunan, Job Fair Perkebunan, dan rangkaian acara menarik lainnya. Aneka produk kopi dari berbagai nusantara ikut memberikan aroma pada Bunex kali ini.

Reporter : Julian
Sumber : Humas Ditjen Perkebunan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018