Sabtu, 24 Februari 2024


El Nino Melanda Lahan Kopi Jember, Produktivitas Menurun Drastis

26 Jan 2024, 12:03 WIBEditor : Gesha

Kopi di Jember | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Jember -- Dalam beberapa bulan terakhir, Jember, tanah subur yang dikenal dengan keindahan lahan kopinya, menghadapi tantangan serius akibat datangnya fenomena alam yang mendebarkan, El Nino. Perubahan iklim ini bukan hanya sekadar mengubah cuaca, tetapi juga menorehkan dampak mendalam pada produktivitas lahan kopi di daerah tersebut.

Saturi, seorang petani kopi di Jember, menyampaikan bahwa pada tahun 2023, hasil panennya mengalami penurunan yang signifikan, mencapai lebih dari 50 persen.

"Musim ini sangat ekstrim, terjadi banyak kebakaran yang memengaruhi tanaman kopi kami. Bunga-bunganya kering dan banyak daun yang gugur karena pohon-pohon mati akibat cuaca kemarau yang panjang," ungkap Saturi.

Kebun kopi Saturi seluas dua hektar menghasilkan kurang dari satu ton biji kopi, dan dapat mencapai 2,5 ton jika iklim mendukung. Saturi khawatir bahwa panen musim depan juga akan terpengaruh, terutama jika bunga-bunga kopi rontok dan kemarau berlanjut. 

Sebelumnya, cuaca yang tidak stabil telah mengakibatkan curah hujan berlebihan hingga buah kopi membusuk. 

Dengan 3.200 pohon kopi robusta, Saturi biasanya memetik tiga kali dalam satu musim, namun musim ini, bunga pertama banyak yang rontok, sehingga kemungkinan panen terfokus pada bunga kedua dan ketiga.

Sebagai solusi, beberapa petani kebun kopi di Jember mencoba menggunakan pepaya sebagai pohon pelindung dan tanaman tumpang sari. 

Ini memberikan keuntungan ganda, karena selain melindungi tanaman kopi, mereka juga dapat panen pepaya jika hasil kopi kurang memuaskan. 

Namun, tantangan muncul saat suhu terlalu panas akibat kemarau panjang, yang dapat menyebabkan kematian pepaya dan tanaman kopi. 

Beberapa petani juga mencoba menanam cabai di sela-sela tanaman kopi sebagai upaya diversifikasi.

Pujianto, Tenaga Ahli Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (Puslitkoka), menjelaskan bahwa pengaruh El-Nino terhadap kopi di Indonesia dapat bersifat negatif atau positif, tergantung pada daerah dan kondisi kebun seperti pencahayaan. Kondisi kebun yang berbeda-beda akan menghasilkan dampak produksi yang beragam.

Di beberapa daerah, El-Nino dapat memiliki dampak positif terhadap kualitas kopi karena menurunnya intensitas hujan. Namun, bentuk dampaknya bervariasi sesuai dengan kondisi masing-masing.

Pujianto menyatakan bahwa pada tahun 2023, dampak negatif El-Nino pada kopi tidak begitu signifikan, tetapi dapat berdampak pada tahun 2024, sesuai dengan jangka waktu panen sejak proses penyerbukan.

Di daerah-daerah perkebunan kopi di Pulau Sumatera, diperkirakan mutu kopi akan lebih baik dari biasanya karena adanya penurunan curah hujan. Menurut Pujianto, proses pengeringan kopi di sana akan menjadi lebih sempurna karena kemungkinan pertumbuhan jamur akan berkurang.

Namun, situasinya berbeda di perkebunan kopi di daerah daratan rendah yang kurang mendapatkan naungan. 

Pujianto menyebutkan bahwa tingkat kematian pohon kopi akibat kemarau panjang dapat mencapai 30 persen, dan terjadi penurunan produksi sekitar 27% di kebun-kebun besar. Untuk perkebunan rakyat dengan skala kecil, dampaknya bisa bervariasi.

Dia merekomendasikan penggunaan pupuk organik sebagai cara untuk meningkatkan kualitas perkebunan kopi. Pupuk organik tidak hanya lebih aman untuk tanah, tetapi juga berdampak positif dalam mengatasi defisit kejenuhan air. Semakin banyak penggunaan pupuk organik, menurutnya, akan meningkatkan produksi kopi.

Secara keseluruhan, Pujianto menyimpulkan bahwa perubahan iklim umumnya berdampak negatif, meskipun ada beberapa tempat atau spot tertentu yang mengalami perubahan akibat El-Nino. Meskipun ada efek positif terhadap mutu kopi di beberapa tempat dengan curah hujan tinggi, namun secara umum, produksi kopi diperkirakan akan mengalami penurunan.

Reporter : NATTASYA
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018