Sabtu, 24 Februari 2024


Didampingi BPSIP Bengkulu, Kepahiang Bakal Produksi Kopi Ber-SNI

29 Jan 2024, 14:14 WIBEditor : Gesha

Penyerahan serttifikat kesesuaian IKM Bukit Coffee oleh BSPJI Palembang | Sumber Foto:BSIP Bengkulu

TABLOIDSINARTANI.COM, Bengkulu --- Dengan semangat inovasi dan dedikasi tinggi, Kepahiang siap membuat sejarah sebagai produsen kopi pertama di Bengkulu yang memenuhi standar kualitas tinggi dengan Sertifikat Standard Nasional Indonesia (SNI). Keberhasilan ini tidak hanya menjadi kebanggaan bagi Kepahiang, tetapi juga sebuah langkah maju dalam memajukan industri kopi di wilayah ini.

Bengkulu, bersama dengan Lampung dan Sumatera Selatan, membentuk segitiga emas kopi Robusta nasional, menjadi kawasan yang menghasilkan 381.639 ton green bean atau 49,25 persen produksi nasional pada tahun 2022. 

Kabupaten Rejang Lebong dan Kepahiang, sebagai produsen kopi terbesar di Provinsi Bengkulu, memimpin dengan menghasilkan rata-rata 34,86 ribu ton kopi pada tahun tersebut, mencapai 62,22 persen total produksi di Bengkulu.

Tidak hanya menjadi penyumbang utama produksi, namun kedua kabupaten tersebut juga menjadi pusat pengembangan beberapa jenis kopi Robusta berkualitas ekspor yang tidak dapat ditemui di daerah lain. 

Sosialisasi SNI kopi oleh KLT BSN Sumatera Selatan

Varian kopi unggul lokal, seperti Sintaro 1, Sintaro 2, Sintaro 3, dan Sehasence, menjadi kebanggaan Bengkulu dan mendapat perhatian khusus dalam pengembangan.

Ditanam di dataran tinggi di atas 800 mdpl, kopi Robusta Kepahiang memiliki cita rasa unik yang membedakannya dari daerah lain. 

Dengan mutu 1-3 sesuai SNI 01-2907-2008 dan ukuran biji kecil hingga besar, kopi ini telah mencapai standar kualitas yang tinggi. 

Hasil uji profil cita rasa menempatkannya dalam kategori excellent, dengan final score berkisar antara 81,33 hingga 84,42. Aroma cokelat, manis, karamel, bunga, buah (salak), teh hitam, dan kayu menjadi ciri khas yang membuat kopi Robusta Kepahiang menjadi favorit. 

Pengakuan nasional atas keunggulan ini tercermin dalam sertifikat Indikasi Geografis (IG) yang diberikan oleh Kementerian Hukum dan HAM pada tahun 2018, memperkuat posisi Bengkulu sebagai produsen kopi terkemuka di Indonesia.

Kepahiang bersama daerah produsen kopi di Indonesia sebenarnya memiliki tantangan yang sama ketika digeluti pelaku usaha lokal di industri kopi. Masalah sanitasi dan higienitas dalam proses produksi, serta kualitas kopi bubuk yang belum mencapai standar, menjadi tantangan umum yang dihadapi oleh Industri Kecil dan Menengah (IKM) di sektor kopi.

Kondisi ini juga mencerminkan kurangnya kesesuaian proses produksi dengan pedoman Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik (CPPOB).

Faktor-faktor seperti sarana sanitasi dan higiene yang kurang lengkap, layout tempat produksi yang tidak memadai, kurangnya dokumentasi proses, perizinan dan paten merk yang belum terpenuhi, serta beberapa struktur bangunan yang perlu diperbaiki, semuanya berkontribusi terhadap ketidaksesuaian ini.

Bagi pelaku usaha lokal, peningkatan sanitasi, higienitas, dan kualitas produk menjadi langkah kritis untuk dapat bersaing di pasar global yang semakin kompetitif.

Perbaikan terhadap proses produksi yang mengikuti pedoman CPPOB dan pemenuhan standar sanitasi dapat membuka pintu peluang lebih besar di panggung internasional, memastikan bahwa kopi Indonesia tidak hanya melimpah, tetapi juga dikenal karena kualitasnya yang superior. 

Dukungan pemerintah dan lembaga terkait dalam memfasilitasi pelatihan, perizinan, dan peningkatan infrastruktur menjadi kunci untuk meningkatkan daya saing industri kopi lokal di tingkat global.

Pendampingan BPSIP Bengkulu

Karenanya, Balai Penerapan Standar Instrumen Pertanian (BPSIP) Bengkulu berkeinginan untuk meningkatkan brand kopi Kepahiang, melalui kegiatan pendampingan peningkatan mutu dan menerapkan SNI 8964-2021 kopi sangrai dan kopi bubuk. 

Peninjauan rumah produksi kopi IKM Bukit Coffee

Tim kegiatan melakukan peninjauan pada enam IKM Kopi yang ada di Kecamatan Kabawetan Kabupaten Kepahiang, yaitu Kelio Coffee, Kopi Sengkuang, Baja Coffee, Pamor Katon, Bukit Coffee, dan Kopi Mantep. 

Kunjungan itu dilakukan untuk mengidentifikasi kesenjangan atau Gap Analysis kondisi lapangan dengan persyaratan SNI kopi, Good Manufacturing Practices (GMP), sekaligus pengambilan sampel produk kopi bubuk dan biji kopi untuk diuji di laboratorium yang kompeten dan sudah diakreditasi atau diakui. 

Lembaga penerap yang dipilih adalah Bukit Coffee yang memiliki komitmen kuat untuk menerapkan SNI kopi. IKM ini juga sudah memiliki perizinan yang lengkap, seperti: P-IRT, NIB, SNI bina-UMK, Halal, tanda merk, dan BPOM. 

Tahapan kegiatan pendampingan dimulai dengan langkah krusial, yaitu sosialisasi Standar Nasional Indonesia (SNI), bertujuan memberikan pemahaman mendalam bagi Industri Kecil Menengah (IKM) agar mampu menjaga konsistensi dan komitmen dalam menghasilkan produk berkualitas. 

Sertifikasi awal SPPT SNI oleh LsPro BIPA Palembang

Acuan yang diikuti adalah SNI yang dikembangkan oleh Badan Standardisasi Nasional (BSN). Proses selanjutnya melibatkan penyusunan dokumen mutu, perbaikan infrastruktur, pelatihan Good Manufacturing Practices, serta penerapan Hazard Analysis and Critical Control Points bagi IKM. 

Tahap-tahap penting lainnya melibatkan audit internal, tinjauan manajemen, pengujian produk, pemilihan lembaga sertifikasi, proses sertifikasi, dan perbaikan hasil audit.

Meskipun perjalanan menuju sertifikasi SNI kopi penuh dengan komitmen, tantangan finansial terbatas bagi IKM menjadi hambatan yang nyata. 

Penyusunan dokumen mutu juga menjadi kendala karena kurangnya pemahaman dari pihak pengelola IKM.

Di sisi produksi, peralatan yang belum standar, seperti timbangan, termometer, perangkat keselamatan kerja, wadah penampung produk, dan wadah penyimpanan, menjadi perhatian utama.

Untuk mengatasi kendala ini, BSIP Bengkulu berhasil melakukan kolaborasi efektif dengan Kantor Layanan Teknis Badan Standardisasi Nasional Palembang, Balai Standardisasi Pengujian Jasa Industri Palembang, Dinas Perdagangan, Koperasi, dan UMK Kabupaten Kepahiang, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Bengkulu, serta Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Bengkulu.

Melalui kolaborasi ini, target awal kegiatan pendampingan dan penerapan SNI kopi sangrai dan kopi bubuk, termasuk pemilihan lembaga penerap, dapat tercapai. 

Dukungan komitmen lembaga penerap dan kolaborasi antar lembaga menghasilkan Sertifikat Kesesuaian (Conformity Certificate) Nomor 014/BSPJI-Palembang/MS.5/XII/2023. 

Proses pengajuan Sertifikat Produk Penggunaan Tanda SNI ke BSN juga telah dilakukan, menandai langkah positif dalam memperkuat standar kualitas produk kopi di Bengkulu.

Reporter : Hamdan BPSIP Bengkulu
Sumber : BBSIP
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018