Sabtu, 24 Februari 2024


Lada Putih Terstandar dari Bangka Belitung Siap Taklukkan Pasar Global

29 Jan 2024, 17:16 WIBEditor : Gesha

Lada putih dari Bangka Belitung | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Bangka Belitung --- Dengan daya saing yang semakin kuat di pasar global, lada putih terstandar dari Bangka Belitung hadir sebagai jawaban atas permintaan konsumen akan bumbu berkualitas tinggi dan berkelanjutan.

Tanpa lada, masakan kehilangan sentuhan kesempurnaan. Si Raja Rempah ini, elemen krusial dapur, memberikan sensasi pedas nikmat dalam hidangan berkuah seperti sop atau pada menu bakaran seperti ikan, ayam, daging, dan cumi bakar.

Lada nasional, yang sebagian besar berasal dari Bangka Belitung atau sahang, dikenal sebagai penghasil lada putih terbaik di dunia. Keistimewaan lada Bangka terletak pada agroklimatnya yang menghasilkan lada dengan tingkat kepedasan mencapai 5-7 persen dan aroma minyak atsiri khas, menjadikannya favorit konsumen.

 

Sebagai pilar ekonomi di Bangka Belitung, lada telah menjadi bagian penting sejak abad ke-19. Pada masa itu, ketika pertambangan timah beralih ke mekanik, masyarakat Tionghoa beralih ke sektor pertanian, termasuk budidaya lada putih, menjadikannya sejajar dengan timah.

Lada putih Bangka dihasilkan melalui panen buah yang matang dengan biji berwarna merah. Proses selanjutnya mencakup perendaman selama 12-14 hari, pencucian untuk mengupas kulit biji, dan pengeringan di bawah sinar matahari hingga kadar air mencapai 10-12 persen.

Langkah berikutnya adalah sortasi, untuk menyeragamkan ukuran biji dan memisahkan lada putih dari sisa-sisa tangkai dan benda asing. Dengan proses teliti ini, lada siap untuk dikemas dan dipasarkan, menjaga reputasinya sebagai lada putih Bangka yang unggul di tingkat global.

Tapi, tahukah anda bahwa Badan Standardisasi Nasional (BSN) telah mengatur standar mutu produk lada putih melalui SNI 0004:2013?. 

Dalam SNI ini diuraikan persyaratan ketat seperti kerapatan minimal 600 g/l, kadar air maksimal 15 persen, biji enteng dibawah 2 persen, benda asing kurang dari 2 persen, warna kehitam-hitaman kurang dari 2 persen, cemaran kapang dibawah 3 persen, dan hasil uji salmonella serta E. coli yang harus negatif atau di bawah 3 MPN/g.

Meskipun SNI lada putih bersifat sukarela, pelaku usaha yang mengadopsi standar ini dapat meraih penerimaan pasar yang lebih baik. Konsumen umumnya mencari kualitas dan cenderung memilih produk yang telah teruji serta bersertifikasi SNI.

Bagi pelaku usaha ekspor lada, perhatian terhadap standar di negara tujuan sangat penting. Amerika, Jerman, Singapura, Jepang, dan Inggris memiliki toleransi mikroba khusus untuk Salmonella dan E. Coli. Lada yang diarahkan ke Amerika harus memenuhi spesifikasi American Spice Trade Association (ASTA) dan United State Food and Drug Administration (USFDA), serta melewati pemeriksaan ketat.

Lada menuju Uni Eropa harus sesuai dengan standar Europe Standard Association (ESA) Di sisi lain, International Standard Organization (ISO) juga menetapkan standar mutu internasional.

Karenanya, Penyelarasan standar mutu lada Indonesia dengan ISO, ASTA, dan ESA menjadi krusial, terutama untuk pasar potensial di Amerika dan Eropa.

 

Pendampingan BPSIP 

Balai Penerapan Standar Instrumen Pertanian (BPSIP) di Kepulauan Bangka Belitung, sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) dari Badan Standardisasi Instrumen Pertanian (BSIP) di daerah, memainkan peran penting dalam menerapkan standar instrumen pertanian untuk lada, komoditas unggulan Bangka Belitung.

BPSIP berfokus pada peningkatan kualitas lada dengan mendampingi petani dan pelaku usaha dalam menerapkan praktik pertanian yang baik (GAP), manufaktur yang baik (GMP), dan penanganan yang baik (GHP).

Pada tahun 2023, BPSIP bermitra dengan dua Unit Mikro Kecil (UMK) di Kecamatan Air Gegas, Bangka Selatan, yaitu Bumdes Bersama Mitra Lada Bersatu dan Hangu Grup, yang berperan integral dalam sentra lada Bangka Belitung.

 

Proses pendampingan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk lembaga sertifikasi produk PT Multicert Global Indonesia.

Setelah uji laboratorium di BPSMB Disperindag Provinsi, lada putih dari kedua UMK tersebut memenuhi standar SNI. Proses audit lanjutan di rumah produksi, dilakukan oleh PT Multicert Global Indonesia pada November 2023, memastikan kebersihan dan keamanan konsumsi sesuai kaidah dan prinsip yang ditetapkan.

Hasil Pendampingan

Bukan hanya dari hasil audit, Bumdes Bersama Mitra Lada Bersatu mendapat apresiasi luar biasa dari Inspektur Jenderal Kementerian Pertanian, Dr. Jan Samuel Maringka, saat kunjungan kerjanya ke Bangka Belitung, dirinya mengakui Bumdesma sebagai role model dalam pengembangan ekonomi pedesaan.

Prestasi ini juga mendapat perhatian internasional, Mr. Antoine, pembeli lada asal Prancis dan pemilik perusahaan Le Roy Poivre, memberikan apresiasi setelah mengunjungi Bumdes Bersama Mitra Lada Bersatu. Ia terkesan dengan kualitas lada Bangka Belitung dan berjanji untuk mempromosikan produk ini di negaranya. Kesuksesan ini bukan hanya pencapaian lokal, tapi juga membawa lada Bangka Belitung ke pasar internasional.

 

 

Reporter : Zikril, Irma, Agus BPSIP Bangka Belitung
Sumber : BBPSIP
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018