Senin, 15 Juli 2024


Pinang Betara Jambi, Primadona Dunia

27 Peb 2024, 09:44 WIBEditor : Gesha

Pinang Betara asal Jambi | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Tanjung Jabung Barat -- Pinang Betara Jambi telah menarik perhatian dunia sebagai primadona yang mempesona, terutama hasil produknya yang kian terstandar.

Sejak diperkenalkan pada tahun 2013, Pinang Betara Jambi telah menjadi simbol kebanggaan bagi Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi.

Dikenal sebagai varietas unggul pertama di Indonesia yang tumbuh subur di lahan gambut atau pasang surut, keberadaannya telah melampaui batas nasional dan menjadi buah primadona yang diminati oleh pasar internasional.

Dengan ciri khas ukuran buah yang besar dan produktivitas tinggi, setiap tandan Pinang Betara mampu menghasilkan butiran berlimpah, menjadikannya sebagai pilihan utama bagi para pembeli luar negeri.

Ekspor pinang Jambi mencatat pencapaian luar biasa pada tahun 2021, mencatatkan total nilai sebesar US$ 141 juta, menyumbang hampir 40 persen dari total ekspor pinang secara nasional. 

Peningkatan signifikan ini mengukuhkan posisinya sebagai yang terbaik di dunia, dengan Thailand menjadi salah satu tujuan utama ekspornya, disusul oleh Bangladesh, Iran, India, dan Nepal. Dari Malaysia hingga Uni Emirat Arab, Pinang Betara Jambi telah merajai pasar internasional dengan reputasi yang tak tergoyahkan.

Meskipun saat ini harga pinang mengalami penurunan signifikan, berkisar antara Rp. 4.000 hingga Rp. 9.000 per kilogram dibandingkan dengan harga sebelumnya yang mencapai Rp. 17.000 hingga Rp. 20.000 per kilogram, namun tanaman ini tetap menjadi fokus utama dalam pengembangan komoditas pertanian dan ekspor.

Tantangan pengembangan tanaman ini masih terjadi karena belum semua pelaku usaha pinang Betara menerapkan standar mutu yang sesuai, di antaranya adalah praktek budidaya yang belum sepenuhnya sesuai dengan Good Agricultural Practices (GAP), serta implementasi Good Handling Practices (GHP) dan Good Manufacturing Practices (GMP) yang masih memerlukan pendampingan lebih lanjut.

Penyelarasan dengan standar nasional seperti SNI:01-3450-1997 juga menjadi hal yang perlu ditingkatkan, dengan penekanan biji pinang bukan untuk dijadikan obat.

Meskipun demikian, upaya terus dilakukan untuk meningkatkan kualitas dan mutu Pinang Betara Jambi agar tetap bersaing di pasar internasional dengan harga yang lebih stabil dan sesuai dengan nilai sebenarnya.

Dengan pemantapan praktek budidaya dan implementasi standar yang tepat, Pinang Betara dapat terus menjadi idola dalam pengembangan komoditas pertanian serta menjaga permintaan ekspor yang tinggi.

Pendampingan Penerapan Standar

Kini Pinang Betara Jambi telah diberdayakan melalui pendirian sebuah lembaga baru yang bernama Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis Pinang Betara Tanjung Jabung Barat Jambi (MPIG PBTJBJ) sebagai badan hukum pada tahun 2013.

Keberadaan MPIG bukan hanya sekadar badan hukum, tetapi juga merupakan langkah penting dalam proses pengajuan paten Indikasi Geografis (IG) Pinang Betara yang telah terdaftar di Kemenkumham pada Juni 2023.

MPIG akan mengawal dan menerapkan standar Pinang Betara sesuai dengan buku deskripsi IG yang sedang diproses.

Namun, dalam proses pendampingan, beberapa kendala teridentifikasi, seperti penurunan harga pinang selama dua tahun terakhir, kurangnya informasi tentang inovasi teknologi budidaya dan pasca panen, penggunaan alat pasca panen manual oleh petani, dan rendahnya kualitas biji pinang yang diproduksi.

Untuk mengatasi hal tersebut, berbagai solusi telah diusulkan, termasuk menurunkan regulasi pajak impor, pengembangan produk turunan pinang Betara, pendampingan teknis budidaya dan pasca panen, serta penerapan standar instrumen pertanian Pinang Betara.

Dalam pelaksanaannya, Balai Penerapan Standar Instrumen Pertanian (BPSIP) Jambi telah berkolaborasi dengan berbagai instansi terkait seperti Dinas Perkebunan, Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah, serta lembaga terkait lainnya.

Melalui kerjasama ini, diharapkan dapat mencapai hasil yang diinginkan, seperti dokumen buku deskripsi dan sertifikat Indikasi Geografis Pinang Betara, serta dokumen kesepakatan bersama antara BPSIP Jambi dengan MPIG Pinang Betara Jambi mengenai penerapan standar instrumen pertanian.

Meskipun masih terdapat beberapa hambatan, termasuk belum adanya Lembaga Sertifikasi Produk (LSPro) pinang di Indonesia untuk melakukan sertifikasi SNI, diharapkan penunjukkan LSPro dan revisi SNI Pinang dapat segera dilakukan.

Dengan demikian, proses sertifikasi untuk MPIG Pinang Betara dapat segera direalisasikan, memberikan perlindungan yang lebih baik bagi produk unggulan ini.

Penulis : Desi Hernita, Hendri Purnama, Widia Sari Murni dan Lutfi Izhar

Balai Penerapan Standar Instrumen Pertanian (BPSIP) Jambi

Reporter : BPSIP Jambi
Sumber : BBPSIP
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018