Minggu, 14 April 2024


Kopi Mamasa Tembus Ekspor dengan Pendampingan SNI dari BPSIP Sulbar

04 Mar 2024, 09:44 WIBEditor : Gesha

Sertifikasi SNI untuk Kopi Mamasa | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI, Mamasa -- Dengan didampingi BPSIP Sulbar, Kopi Mamasa merek Pokiringan siap menembus pasar internasional setelah berhasil memperoleh sertifikasi SNI. Langkah ini menandai pencapaian besar bagi produsen kopi lokal yang ingin meraih pengakuan global untuk cita rasa khasnya.

Kopi telah menjadi salah satu komoditas unggulan di Indonesia, didukung oleh potensi pertanian yang luas dan letak geografis tropis yang strategis.

Di antara berbagai jenis kopi yang dikenal, seperti Arabica, Robusta, Liberika, dan Exelsa, kopi Arabica menjadi primadona yang pertama kali dikembangkan di Indonesia.

Kabupaten Mamasa, meskipun berada di wilayah Sulawesi Barat yang tidak langsung menghadap ke pantai, memiliki keunggulan geografis dengan ketinggian 600–2000 mdpl yang cocok untuk pertumbuhan kopi Arabika dan Robusta.

Sebagai salah satu penghasil kopi terkemuka di Sulawesi Barat, Mamasa menawarkan cita rasa kopi yang istimewa, memperkaya warisan budaya kopi Indonesia.

Kopi Mamasa, meskipun berkualitas tinggi, terbatas dalam popularitasnya sebagai brand kopi Toraja, dengan sebagian besar produksinya diarahkan ke kebutuhan pasar industri di Kabupaten Toraja.

Fenomena ini mengindikasikan adanya kehilangan nilai tambah ekonomi di Mamasa, terutama dalam proses pasca panen dan pengolahan sebelum mencapai daerah industri.

Tingginya biaya transportasi dari Mamasa ke pasar di wilayah lain menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan ketidakseimbangan penawaran, sementara pengetahuan terbatas petani dalam penciptaan brand produk juga menjadi hambatan.

Akibatnya, daerah industri di sekitarnya dapat menyerap nilai tambah yang lebih besar dalam proses pengolahan dan pengemasan produk, meninggalkan Mamasa dengan kehilangan nilai tambah ekonomi yang berkelanjutan di sektor kopi.

CV. Poki Cahaya Abadi, yang mengembangkan usaha kopi Mamasa dengan merek "Pokiringan", telah menunjukkan pertumbuhan yang mengesankan sejak berdiri pada tahun 2015.

Awalnya hanya melayani jasa goreng-giling kopi skala kecil, namun sekarang telah berkembang menjadi produsen kopi terkemuka di Sulawesi Barat.

Prestasinya tercermin dari nilai Cupping Score yang tinggi, dengan beberapa varian kopi meraih penghargaan nasional.

Pada 28 November 2022, Pokiringan Coffee memperoleh sertifikasi SNI 8964:2021 untuk bubuk kopi, membuktikan komitmen pada kualitas dan standar industri.

Meskipun telah sukses mengekspor ke Denmark dalam bentuk biji kopi, CV. Poki Cahaya Abadi masih dihadapkan pada kendala sertifikasi organik untuk biji kopi arabikanya.

Hal ini menjadi hambatan dalam proses ekspor langsung ke negara tujuan, karena sertifikasi organik menjadi salah satu persyaratan penting.

Pendampingan SNI

Kegiatan pendampingan penerapan standar instrumen pertanian kopi di Kabupaten Mamasa, khususnya dalam sistem budidaya pertanian organik Kopi Mamasa, telah dilakukan dengan melibatkan CV. Poki Cahaya Abadi sebagai lembaga penerap.

Standar Nasional Indonesia (SNI) 6729:2016 pertanian organik menjadi pedoman utama dalam proses ini.

Standar ini mengatur persyaratan sistem pertanian organik dari mulai lahan pertanian hingga pemasaran produk, termasuk penanganan, penyimpanan, pengangkutan, pelabelan, sarana produksi, serta bahan tambahan yang diperbolehkan.

Tujuannya adalah untuk memastikan keamanan pangan dan menciptakan persaingan pasar yang sehat.

Ruang lingkup SNI ini mencakup aspek normatif, definisi, klasifikasi, syarat mutu, cara uji, pengemasan, dan penandaan, sehingga memberikan panduan yang komprehensif bagi pelaku usaha kopi organik di Mamasa.

Kegiatan pendampingan penerapan standar instrumen pertanian kopi di Kabupaten Mamasa melibatkan identifikasi pelaku usaha, seperti CV. Poki Cahaya Abadi, serta lembaga sertifikasi organik (LSO) terakreditasi KAN, seperti LSO UPT BPMKP Dinas Ketahanan Pangan Sulawesi Selatan.

Standar mutu SNI yang diterapkan adalah SNI 6729:2016 pertanian organik, yang dipedomani melalui koordinasi dengan mitra jejaring Kantor Layanan Terpadu BSN Makasar.

Proses pendampingan mencakup koordinasi dengan instansi terkait, survey lokasi, sosialisasi SNI, pendampingan kelengkapan dokumen sertifikasi, audit inspeksi oleh tim LSO, penyelesaian ketidaksesuaian hasil audit, pengujian sampel kopi, dan penerbitan sertifikat organik.

Keberhasilan proses pendampingan ini tidak terlepas dari peran berbagai pihak, termasuk pemerintah pusat (BBPSIP, PSI Perkebunan, BPSIP Sulbar), pemerintah daerah (Dinas Perkebunan Prov. Sulawesi Barat, Dinas Pertanian Kab. Mamasa, Dinkoperindak UMKM, BPP), serta mitra seperti LSO UPTD BPKMP Dinas Ketahanan Pangan Prov. Sulawesi Selatan, perbankan BI, lembaga keuangan, dan eksportir.

Dengan penerapan sertifikasi kopi organik Mamasa sesuai dengan SNI 6729:2016, diharapkan Kopi Pokiringan dapat melakukan ekspor langsung ke Denmark dalam bentuk biji kopi tanpa melalui Surabaya, sehingga menjadi salah satu sumber pendapatan asli daerah (PAD) Kabupaten Mamasa.

Reporter : Ketut Indrayana, S.TP
Sumber : BPSIP SULBAR
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018