Jumat, 14 Juni 2024


Setara Jambi: Kesadaran Pekebun Kunci Bangun Kelembagaan

08 Mei 2024, 14:48 WIBEditor : Yulianto

Kelembagaan petani kunci dalam keberhasilan PSR | Sumber Foto:Dok. Sinta

TABLOIDSINARTANI.COM, Jambi---Membangun kesadaran menjadi kata kunci dalam membangun sebuah kelembagaan petani/pekebun. Untuk itu, perlu pendekatan khusus agar petani/pekebun mau untuk bersatu dalam sebuah lembaga.

        

Ibarat sebuah ungkapan satu batang lidi akan mudah dipatahkan dibandingkan menjadi satu seperti sapu. Begitu juga petani/pekebun, ketika mereka berjuang sendiri, akan mudah dikalahkan. Dengan adanya sebuah kelembagaan, posisi tawar petani/pekebun semakin kuat.

Direktur Yayasan Setara Jambi, Baya Zulhakim mengakui, selama ini tantangan utama dalam membangun kelembagaan adalah kesadaran pekebun yang masih minim tentang manfaat berorganisasi serta adanya trauma masa lalu yang menyebabkan kecurigaan.

“Kurangnya motivasi dan dorongan, serta kekurangan fasilitator, juga menjadi hambatan,” katanya saat Talkshow Hybrid Talkshow Hybrid Penguatan Kelembagaan Pekebun untuk Tingkatkan PSR di Jambi yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani bersama BPDPKS, Selasa (30/4).

BACA JUGA : Lembaga Petani Kuat, PSR Menggeliat

Dari pengalaman Yayasan Setara Jambi dalam mengembangkan program pemberdayaan petani sawit swadaya, Baya mengungkapkan, dalam membangun kelembagaan pekebun perlu adanya pendekatan ke pekebun agar diketahui permasalahan yang dihadapi. “Jadi kita harus melakukan pengamatan atau penilaian bersama tentang situasi dan kondisi petani dalam pengelolaan pertanian kelapa sawit,” ujarnya.

Untuk membangun kelembagaan dengan sukses, menurutnya, perlu mengidentifikasi baik kekuatan internal maupun eksternal. Ini termasuk mencari tahu isu-isu yang dapat menyatukan mereka, memperhatikan kekuatan yang dimiliki baik dari dalam maupun dari luar, seperti dukungan dari pihak lain. Dengan memahami hal ini, kita dapat merencanakan perubahan yang diinginkan.

"Dengan memahami kondisi petani, menemukan titik kesamaan dalam isu dan permasalahan yang dihadapi, serta mengidentifikasi kekuatan internal dan eksternal, kita dapat memberikan motivasi kepada petani untuk mencapai perubahan yang diinginkan. Tujuannya, pada akhirnya, adalah kesejahteraan pekebun," jelasnya.

Setara Jambi sendiri perlu pendekatan kepada pekebun sampai 2 tahun untuk memastikan kelompok kelembagaan petani ini bisa berjalan dengan baik.  Pada tahun pertama, kata Baya, dilakukan pendekatan dan sosialisasi. “Bahkan dari 500 orang yang kami ajak sosialisasi, hanya separuhnya yang bersedia untuk berkomitmen dikelompokkan,” ceritanya.

Tahun kedua, Setara Jambi membantu pembuatan legalitas kelompok dan berbagai pelatihan. Kemudian tahun ketiga, pekebun baru diajak membuat sertifikasi lahannya. “Sebagai organisasi di luar pemerintah, kami perlu mengidentifikasi permasalah sebenarnya yang dihadapi pekebun, kekuatan yang dimiliki pekebun dan perubahan seperti apa yang diinginkan pekebun,” ujarnya.

Baya melihat, saat ini petani swadaya dihadapkan pada beragam tantangan. Diantaranya, kekurangan struktur organisasi yang solid, kendala akses dan keterbatasan informasi, keterbatasan pengetahuan dalam budidaya akibat kurangnya pelatihan. “Terkait legalitas dan kekurangan kemitraan yang dapat memberikan dukungan menjadi tantangan pekebun swadaya,” katanya.

Bagaimana strateginya? Baca halaman selanjutnya.

Reporter : Gsh
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018