Jumat, 12 Juli 2024


APKASINDO Desak Regulator dan ICDX Perkuat Sosialisasi Bursa CPO Indonesia

28 Mei 2024, 08:49 WIBEditor : GESHA

Ketika peresmian Bursa CPO Indonesia | Sumber Foto:ISTIMEWA

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Ketua Umum Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO), Gulat Manurung, meminta agar Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) dan pihak regulator lebih gencar dalam mensosialisasikan Bursa Crude Palm Oil (CPO) Indonesia.

Ketua Umum Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO), Gulat Manurung, menyarankan agar Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) dan pihak regulator lebih gencar dalam mensosialisasikan Bursa Crude Palm Oil (CPO) Indonesia. Hal ini disampaikannya menyusul adanya pertanyaan dari calon pembeli terkait platform penjualan CPO. 

Sebagai salah satu platform pasar CPO, Gulat menilai bahwa sosialisasi yang massif dari ICDX mengenai Bursa CPO Indonesia sangat diperlukan. 

"Supaya mereka tahu ini (Bursa CPO Indonesia) barang baru. Kalau KPBN (Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara) nggak iklan pun dia teriklan sendiri kalau dia (pembeli) download. Nah, bursa kita nggak ada yang download. Saya sebagai komite menyarankan itu keras," ujar Gulat.

Gulat menilai bahwa Bursa Crude Palm Oil (CPO) Indonesia berperan penting bagi kesejahteraan petani sawit. Menurutnya, tanpa adanya Bursa CPO Indonesia, para petani hanya memperoleh keuntungan sekitar Rp217.

"Satu liter CPO mereka dapat Rp4.000, kami cuma dapat Rp217 perak, sangat tidak adil. Sangat tidak adil," ungkap Gulat.

Selain itu, Gulat juga meminta pihak regulator untuk menetapkan harga Tandan Buah Segar (TBS) sesuai dengan dinamika yang terjadi di bursa. Dia menilai harga TBS yang mengacu pada Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) tidak transparan.

"Selama ini kita berkiblat ke KPBN, benar? Tidak transparan. Itu bukan persaingan, itu tertutup. Arisan ‘Gua yang menang kemarin, lu jangan kasih harga tinggi. Gua yang menang,’ begitu lah terus. Akhirnya harga CPO kita diatur-atur," jelasnya.

Lebih jauh, Gulat berharap sosialisasi dapat digalakkan oleh pihak regulator dan penyedia platform pasar sawit. Dengan demikian, menurutnya, geliat transaksi di Bursa CPO Indonesia akan terus bertumbuh.

"Kalau bisa tahun depan kita sudah on fire, tidak ada lagi rujukan lain," pungkasnya.

Sementara itu, Vice President Membership ICDX, Yohanes F. Silaen, memperkirakan bahwa jumlah transaksi di Bursa CPO Indonesia terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Dia menyatakan bahwa peningkatan transaksi di Bursa CPO Indonesia menjadi anugerah bagi ICDX sebagai penyelenggara bursa yang dipercaya oleh pemerintah.

"Untuk value transaksinya sendiri itu bisa mencapai, tahun 2024 saja kurang lebih hampir Rp3.878 triliun dan ini terus berkembang tiap tahunnya," ujar Yohanes.

Menurut data ICDX dari Oktober 2023 hingga Mei 2024, tercatat bahwa transaksi CPO fisik di bursa mencapai sebanyak 10 Lot atau sekitar 250 ton, sementara transaksi CPOTR mencapai 5,193 Lot atau sekitar 25,965 ton.

Yohanes tidak menampik bahwa nilai transaksi yang tercatat oleh ICDX masih tergolong kecil, ini disebabkan oleh jumlah perusahaan yang terdaftar sebagai anggota di Bursa CPO Indonesia yang masih sangat terbatas. Hingga saat ini, hanya terdapat 49 perusahaan yang terdaftar sebagai anggota di Bursa CPO Indonesia.

 

Reporter : NATTASYA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018