Rabu, 14 Januari 2026


Percepat Swasembada Gula, Ribuan Hektare Hutan Jawa Tengah Siap Jadi Kebun Tebu

21 Jul 2025, 09:07 WIBEditor : Herman

Ground Checking lahan hutan untuk dijasikan lahan tebu di Jawa Tengah

TABLOIDSINARTANI.COM, Semarang --- Pemerintah terus memperkuat langkah strategis untuk memenuhi kebutuhan gula nasional yang hingga kini masih bergantung pada impor. Salah satu upaya konkret dilakukan melalui pengembangan budidaya tebu di lahan hutan, khususnya di wilayah Jawa Tengah.

Berdasarkan data kebutuhan nasional, konsumsi gula Indonesia mencapai 230.000 hingga 250.000 ton per bulan. Meski produksi gula konsumsi diproyeksikan mencapai 2,58 juta ton pada 2024, stok akhir tahun diperkirakan hanya 1,47 juta ton. Artinya, Indonesia masih menghadapi defisit sekitar 662 ribu ton yang harus dipenuhi melalui impor.

Sebagai bagian dari strategi nasional, pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 40 Tahun 2023 tentang Percepatan Swasembada Gula Nasional dan Penyediaan Bioetanol sebagai Bahan Bakar Nabati (Biofuel). Salah satu implementasinya adalah pengembangan lahan tebu di area hutan produksi.

Langkah nyata sudah terlihat di Jawa Tengah. Melalui sinergi antara Kementerian Pertanian, PT Sinergi Gula Nusantara (SGN), PT Riset Perkebunan Nusantara, serta Direktorat Jenderal Planologi dan Pemerintah Daerah, dilakukan kegiatan ground checking untuk mengidentifikasi lahan hutan potensial di Kabupaten Cilacap, Brebes, Tegal, dan Grobogan dengan total luas mencapai 1.561 hektare.

Salah satu titik lokasi berada di kawasan Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Balapulang. Bulan lalu, tim gabungan yang melibatkan PT SGN dan jajaran Perhutani melakukan survei kelayakan lahan secara langsung di sejumlah lokasi seperti petak 110 RPH Pamulihan, petak 24 RPH Larangan, petak 81 RPH Dukuhbendol, serta petak 115 RPH Pengarasan.

Administratur KPH Balapulang, Sugeng Bowo Leksono, mengatakan program ini diharapkan tidak hanya meningkatkan produksi gula, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar hutan.

“Kegiatan ini untuk memastikan kesesuaian dan kelayakan lahan bagi budidaya tebu sehingga dapat memberikan nilai tambah bagi perusahaan serta membuka lapangan kerja bagi masyarakat desa hutan,” ujar Sugeng.

Apresiasi juga datang dari PT SGN. Yudha Fitra Saputra Mustopa, Chef Aanplant Pabrik Gula Pangka, menegaskan survei ini sangat krusial untuk menentukan arah pengembangan agroforestry tebu yang produktif.

“Terima kasih kepada Perhutani KPH Balapulang atas kerja sama yang baik. Hasil survei ini akan menjadi landasan penting dalam pengembangan agroforestry tebu menuju produksi yang optimal,” kata Yudha.

Upaya pengembangan tebu nasional semakin dikuatkan melalui berbagai kegiatan sosialisasi, salah satunya melalui forum diskusi di Universitas Gadjah Mada (UGM) beberapa waktu lalu. Direktur Jenderal Perkebunan, Andi Nur Alam Syah, memaparkan tantangan dan peluang pengembangan tebu rakyat.

“Dengan kebutuhan konsumsi gula mencapai 2,93 juta ton di tahun 2024, sementara proyeksi produksi hanya 2,38 juta ton, artinya masih ada kekurangan yang harus dipenuhi. Kita harus mempercepat penguatan produksi dari sektor hulu hingga hilir,” ujar Andi.

Upaya konkret dilakukan mulai dari perluasan lahan, penyediaan benih unggul, sistem kemitraan, penyediaan sarana produksi hingga perbaikan sistem pembiayaan seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk petani tebu.

Direktorat Jenderal Perkebunan juga menggandeng Balai Besar Pengujian Standar Instrumen Sumberdaya Lahan Pertanian (BBPSI-SDLP) untuk pemetaan potensi lahan. Ground checking dilakukan di berbagai wilayah seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, Sulawesi, hingga Nusa Tenggara Timur.

“Dengan kebijakan pengembangan tebu rakyat ini, kami optimis target swasembada gula nasional dapat terwujud pada 2030, sejalan dengan Perpres No. 40 Tahun 2023,” tutup Andi Nur.

 

Reporter : Djoko W
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018