Thursday, 12 March 2026


CLOPT, Cara Baru Menilai Kopi yang Lebih Masuk Akal buat Lidah Orang Indonesia

17 Nov 2025, 14:43 WIBEditor : Gesha

CLOPT hadir sebagai cara baru menilai kopi yang lebih sederhana, jujur, dan sesuai selera peminum Indonesia, tanpa ribet istilah teknis ala cupping. Metode ini bikin penilaian rasa kopi jadi lebih masuk akal.

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor -- CLOPT hadir sebagai cara baru menilai kopi yang lebih sederhana, jujur, dan sesuai selera peminum Indonesia, tanpa ribet istilah teknis ala cupping. Metode ini bikin penilaian rasa kopi jadi lebih masuk akal.

Selama ini, ketika membahas soal penilaian kopi, yang terbayang biasanya metode cupping ala luar negeri yang ribet, penuh istilah teknis, dan butuh pelatihan khusus sebelum seseorang bisa menilai rasa kopi dengan tepat.

Padahal, mayoritas peminum kopi di Indonesia hanya ingin tahu satu hal sederhana yaitu “Enak atau tidak?”

Di titik itulah muncul metode CLOPT (Coffee Lovers Preference Taste), cara baru menilai cita rasa kopi yang menurut banyak orang jauh lebih “masuk akal” untuk lidah masyarakat Indonesia.

Metode ini digagas oleh Jamil Musanif, pengurus Dewan Kopi Indonesia, yang sejak awal ingin menghadirkan standar penilaian rasa kopi yang benar-benar relevan dengan selera peminum lokal.

CLOPT pertama kali diperkenalkan pada 2019 dan resmi diluncurkan pada 10 Agustus 2023 di Jakarta.

Menurut Jamil, idenya sederhana banyak kopi yang dinilai tinggi secara teknis ternyata tidak sesuai dengan selera konsumen, sementara kopi yang disukai masyarakat justru sering mendapat penilaian tidak begitu tinggi dalam cupping.

Ada kesenjangan antara standar profesional dan selera harian, dan CLOPT diciptakan untuk menjembatani kesenjangan itu.

Berbeda dengan cupping, CLOPT sangat mudah digunakan. Penguji cukup memberi nilai pada sepuluh parameter dasar seperti aroma, cita rasa, pahit, asam, ketebalan, manis, keseimbangan, kesan tertinggal, hingga “rasa asing” yang justru bisa diberi nilai minus.

Jamil menyebut, rasa asing yang tidak wajar harus dianggap kekurangan, karena pengalaman meminum kopi tidak boleh terganggu oleh rasa yang aneh.

Setiap parameter punya bobot tertentu, dan hasil akhirnya akan mengategorikan kopi ke dalam kelas Bronze, Silver, Gold, atau Platinum.

Sistem ini mudah dipahami dan dapat digunakan oleh siapa pun, petani, pelaku UMKM, barista, sampai penikmat kopi biasa.

Menurut Jamil, itu inti dari CLOPT yaitu membuat penilaian rasa kopi kembali ke kerangka yang sederhana, jujur, dan dekat dengan lidah konsumen Indonesia.

Metode ini tidak lahir sendirian, pengembangan CLOPT melibatkan banyak tokoh lintas sektor, mulai dari industri pariwisata, keuangan, ritel, pangan, hingga para inovator mesin kopi.

Keterlibatan mereka membuat CLOPT lebih kuat sebagai standar nasional yang dibangun lewat kolaborasi, bukan keputusan sepihak.

Ketika ditanya apakah CLOPT dibuat untuk menggantikan cupping, Jamil menegaskan bahwa tujuannya bukan untuk menyaingi, tetapi untuk melengkapi.

Cupping tetap penting untuk teknis mutu dan ekspor. Namun dalam konteks pasar Indonesia, yang sangat luas dan beragam dan CLOPT lebih relevan untuk memahami selera peminum dan membantu pelaku usaha menilai apakah produk mereka benar-benar disukai pasar.

Sejak diluncurkan, metode ini mulai digunakan di berbagai kegiatan dan komunitas kopi. Bahkan, beberapa pelaku UMKM sudah mencantumkan nilai CLOPT pada kemasan produknya sebagai penanda mutu dan daya tarik tambahan.

Menurut Jamil, langkah ini menunjukkan bahwa CLOPT tidak sekadar metode penilaian, tetapi juga alat komunikasi antara produsen dan konsumen.

Indonesia adalah produsen kopi besar. Karena itu, Jamil menilai wajar jika negara sebesar ini memiliki standar penilaian cita rasanya sendiri.

“Kalau kita bisa menanam, mengolah, sampai menciptakan berbagai produk kopi, kenapa untuk menilai rasanya kita masih sepenuhnya bergantung pada standar luar negeri?” ujarnya.

Pada akhirnya, CLOPT bukan hanya metode. Ia adalah bentuk keberanian untuk membuat standar sendiri yang lebih dekat dengan karakter dan selera masyarakat Indonesia.

Semakin banyak pelaku industri yang menggunakannya, makin besar peluang CLOPT menjadi acuan baru penilaian rasa kopi di masa depan.

Tidak mustahil, beberapa tahun ke depan label “CLOPT Gold” atau “CLOPT Platinum” menjadi penanda yang dicari konsumen ketika memilih kopi yang lebih jujur, lebih membumi, dan, tentu saja, lebih masuk akal untuk lidah orang Indonesia.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018