Rabu, 14 Januari 2026


Program Hilirisasi Perkebunan 2026: Desa-desa Kini Jadi Pusat Ekonomi dan Lapangan Kerja

08 Jan 2026, 09:36 WIBEditor : Gesha

Program hilirisasi perkebunan tahun 2026 membawa desa jadi pusat ekonomi baru, menyerap ribuan tenaga kerja dan mendorong pertumbuhan UMKM melalui penangkaran bibit unggulan.

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Program hilirisasi perkebunan tahun 2026 membawa desa jadi pusat ekonomi baru, menyerap ribuan tenaga kerja dan mendorong pertumbuhan UMKM melalui penangkaran bibit unggulan.

Program hilirisasi perkebunan 2026 yang digagas Kementerian Pertanian (Kementan) di bawah Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mulai menunjukkan dampak nyata.

Desa-desa penghasil benih kini berubah menjadi pusat ekonomi baru, membuka lapangan kerja dan memberikan kesempatan bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk tumbuh.

Pemerintah melalui program ini menyalurkan Rp 9,5 triliun untuk pengembangan tujuh komoditas perkebunan utama yaitu kakao, kopi, kelapa, pala, lada, mente, dan tebu, selama periode 2025–2027.

Dana ini diharapkan tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga meningkatkan daya saing produk perkebunan Indonesia di pasar global.

Menurut Plt. Direktur Jenderal Perkebunan, Abdul Roni Angkat, sektor perkebunan memiliki potensi besar dalam mendukung ketahanan pangan sekaligus memperkuat perekonomian lokal.

“Dengan dana yang cukup besar dan komitmen pemerintah, kami berharap pengembangan sektor ini akan membuka peluang baru, baik untuk petani maupun masyarakat desa. Hilirisasi ini bukan hanya tentang memperbaiki kualitas hasil perkebunan, tetapi juga meningkatkan daya saing produk perkebunan Indonesia di pasar global,” ujar Roni.

Tahun 2026, program ini mencatatkan sejarah baru dengan pembibitan masif.

Ketua Perkumpulan Penangkar Benih Tanaman Perkebunan, Badaruddin, menyebut bahwa produsen benih akan menghasilkan 115 juta batang kakao, 38 juta batang kopi, 2,7 juta batang kelapa, serta 1.500 hektar kebun benih tebu.

“Ini adalah jumlah penangkar terbesar dalam sejarah perkebunan Indonesia, melibatkan lebih dari 500 produsen benih yang bekerja sama sebagai penyedia langsung atau mitra,” kata Badaruddin.

Selain meningkatkan produksi, program ini berdampak langsung pada lapangan kerja di desa.

Bibit kakao menyerap 5.720 pekerja, kopi 1.115 pekerja, dan kelapa 866 pekerja.

Total perputaran uang di desa diperkirakan mencapai Rp 23,3 miliar per bulan, memberikan kontribusi signifikan bagi perekonomian lokal.

Program hilirisasi perkebunan juga membuka peluang bagi UMKM di daerah.

Agus Nirmala, penangkar kopi asal Jember, menuturkan bahwa program ini telah mengubah perekonomian Desa Silo.

“Dahulu banyak warga yang merantau untuk menjadi tenaga serabutan. Sekarang, berkat program ini, mereka kembali ke desa dan bekerja di pembibitan. Ini membuka lapangan kerja baru sekaligus menumbuhkan semangat ekonomi di desa,” jelasnya.

Wawan Setiyawan, pemilik CV Langbuana yang mengelola kebun benih tebu seluas 250 hektar di Blitar, menambahkan bahwa program ini menjadi angin segar bagi penangkar benih, yang mayoritas adalah pelaku UMKM.

“Selain membuka lapangan pekerjaan, program ini menciptakan perputaran uang yang sangat dibutuhkan masyarakat,” ujar Wawan.

Penyediaan bibit unggul menjadi langkah awal untuk mengembangkan sektor perkebunan berkelanjutan.

Wawan menekankan bahwa bibit berkualitas akan mendukung produksi kopi, kakao, dan tebu serta memperkuat industri hilirisasi.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan, hilirisasi perkebunan adalah pilar utama untuk memperkuat perekonomian nasional sekaligus meningkatkan daya saing produk Indonesia di dunia.

“Sektor perkebunan bukan hanya sumber pangan, tetapi juga sektor ekonomi yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Melalui hilirisasi, kita tingkatkan kualitas produk, ciptakan lapangan kerja, dan memperkuat ketahanan ekonomi desa,” pungkas Mentan.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018