
Industri kelapa sawit kian menegaskan perannya sebagai penopang ekonomi nasional. BPDP mencatat sektor ini menyerap 19,5 juta tenaga kerja dari hulu hingga hilir, menghidupi jutaan keluarga di berbagai daerah.
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Industri kelapa sawit kian menegaskan perannya sebagai penopang ekonomi nasional. BPDP mencatat sektor ini menyerap 19,5 juta tenaga kerja dari hulu hingga hilir, menghidupi jutaan keluarga di berbagai daerah.
Industri kelapa sawit masih berdiri tegak sebagai tulang punggung ekonomi nasional. Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP) mencatat, sektor strategis ini menyerap 19,5 juta tenaga kerja dari hulu hingga hilir. Angka itu mencerminkan betapa sawit bukan sekadar komoditas ekspor, tapi mesin penggerak ekonomi rakyat.
BPDP menyebut Indonesia hingga kini masih memegang status sebagai eksportir kelapa sawit terbesar di dunia. Posisi tersebut sekaligus menegaskan peran sawit sebagai salah satu sektor dengan daya ungkit ekonomi paling kuat, terutama dari sisi penciptaan lapangan kerja di berbagai daerah.
Direktur Keuangan, Manajemen Risiko, dan Umum BPDP, Zaid Burhan Ibrahim, menegaskan sawit merupakan aset strategis nasional. Menurutnya, dampak industri sawit terhadap tenaga kerja bersifat luas dan berlapis, menjalar dari kebun hingga industri pengolahan dan jasa pendukung.
“Keberadaan sawit memberi kontribusi besar terhadap penciptaan lapangan kerja. Dampaknya terasa langsung ke ekonomi masyarakat, terutama di daerah sentra perkebunan,” ujar Zaid dalam media briefing di Jakarta, Selasa (10/2/2026).
Zaid mengungkapkan, penyerapan tenaga kerja di sektor sawit menunjukkan tren naik dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2020, jumlah tenaga kerja sawit tercatat sekitar 16,2 juta orang. Kini, angkanya melonjak menjadi 19,5 juta orang.
Tenaga kerja tersebut tersebar di sepanjang rantai industri sawit. Mulai dari pekerja kebun, pemanen, mandor, hingga sektor pengolahan, transportasi, dan berbagai jasa pendukung lainnya. Panjangnya rantai industri membuat manfaat ekonomi sawit mengalir ke banyak sektor sekaligus.
“Mulai dari kebun sampai distribusi, sawit membuka banyak peluang kerja. Ini yang membuat kontribusinya ke ekonomi nasional semakin kuat,” jelas Zaid.
Ia menambahkan, di banyak daerah, sawit bukan hanya sumber penghasilan, tapi juga penggerak kehidupan sosial ekonomi. Warung hidup, transportasi bergerak, hingga jasa lokal tumbuh mengikuti denyut industri sawit.
Meski berperan besar, Zaid tak menampik produktivitas sawit Indonesia masih berada di bawah Malaysia. Namun, dari sisi luas lahan dan total produksi, Indonesia tetap menjadi pemain utama dan produsen sawit terbesar di dunia.
“Kalau bicara produktivitas, kita memang masih perlu mengejar. Tapi dari luas lahan dan volume produksi, Indonesia masih yang terbesar,” katanya.
Upaya peningkatan produktivitas terus didorong, salah satunya melalui program peremajaan sawit rakyat (PSR) dan penguatan tata kelola perkebunan. Langkah ini dinilai penting agar kontribusi sawit terhadap tenaga kerja dan ekonomi bisa semakin optimal.
Selain menyerap tenaga kerja, industri sawit juga memainkan peran penting dalam ketahanan energi nasional. Pemerintah saat ini telah menjalankan program biodiesel B40, di mana 40 persen campuran bahan bakar berasal dari bahan bakar nabati berbasis sawit.
Zaid menyebut program biodiesel memberi dampak nyata terhadap penghematan devisa negara. Dengan B40, ketergantungan terhadap impor bahan bakar fosil bisa ditekan secara signifikan.
“Dengan B40, impor bahan bakar bisa ditekan. Artinya, devisa yang sebelumnya keluar untuk beli BBM dari luar negeri bisa dihemat,” ujarnya.
Pada 2024, program biodiesel berbasis sawit tercatat mampu menghemat devisa hingga Rp147,5 triliun. Penghematan tersebut berasal dari berkurangnya impor solar yang digantikan oleh biodiesel produksi dalam negeri.
Dengan kontribusi besar terhadap tenaga kerja, devisa, dan energi, sektor kelapa sawit diproyeksikan tetap menjadi penyangga utama perekonomian Indonesia. Di tengah tekanan global dan fluktuasi pasar, sawit masih berdiri kokoh, menghidupi jutaan orang, sekaligus menjaga denyut ekonomi nasional tetap menyala.
Di balik kebun-kebun hijau dan truk-truk pengangkut TBS yang hilir mudik, sawit bekerja dalam senyap. Menyerap tenaga kerja, mengalirkan devisa, dan menggerakkan ekonomi—pelan tapi pasti, jadi sandaran hidup bagi jutaan keluarga di negeri ini.