Thursday, 12 March 2026


Kualitas Kakao BL50 BRMP TRI Diakui Dunia, Raih Silver Award 2025

23 Feb 2026, 09:23 WIBEditor : Gesha

Kakao BL50 BRMP TRI mencuri perhatian dunia setelah cokelat L’ILE Chocolate berbasis varietas unggul tersebut meraih Silver Award 2025, menegaskan kualitas kakao Indonesia di pasar global.

TABLOIDSINARTANI.COM, Sukabumi -- Kakao BL50 BRMP TRI mencuri perhatian dunia setelah cokelat L’ILE Chocolate berbasis varietas unggul tersebut meraih Silver Award 2025, menegaskan kualitas kakao Indonesia di pasar global.

Varietas kakao BL50 yang dikembangkan Balai Perakitan dan Pengujian Tanaman Industri dan Penyegar kembali mencatatkan prestasi di panggung global.

Melalui brand cokelat artisan L’ILE Chocolate, produk cokelat berbahan kakao BL50 berhasil meraih Silver Award 2025 pada ajang kompetisi internasional bergengsi kategori Bean-to-Bar Plain Dark Chocolate Bar.

Raihan tersebut menjadi kabar menggembirakan bagi industri kakao nasional.

Di tengah persaingan ketat produsen kakao dunia, keberhasilan ini menegaskan bahwa kualitas kakao Indonesia mampu bersaing di pasar premium global sekaligus memperkuat posisi varietas unggul hasil riset dalam negeri.

Penghargaan ini bukan sekadar simbol prestise karen poses penilaiannya dikenal sangat ketat karena melibatkan dewan juri internasional yang terdiri atas pakar cokelat, produsen, chocolate maker, jurnalis, hingga blogger spesialis industri kakao dan cokelat.

Baca Juga : Kecil di Biji, Tapi Kaya Lemak, Kakao BL50 Jadi Primadona Industri Cokelat

Setiap produk diuji secara menyeluruh, mulai dari cita rasa, keseimbangan flavor, tekstur, kompleksitas aroma, hingga kualitas proses pengolahan biji menjadi cokelat batang atau bean-to-bar.

Dari rangkaian pengujian tersebut, kakao BL50 dinilai memiliki karakteristik unggul sebagai bahan baku premium.

Varietas ini dikenal memiliki profil rasa yang kuat, konsistensi mutu tinggi, serta potensi fermentasi optimal.

Keunggulan tersebut membuat BL50 mampu bersaing dengan kakao terbaik dari berbagai negara produsen dunia.

Keberhasilan L’ILE Chocolate juga menunjukkan bahwa produsen dalam negeri tidak hanya mampu menghasilkan bahan baku berkualitas, tetapi juga piawai mengolahnya menjadi produk cokelat artisan berstandar internasional.

Baca Juga : Produktivitas di Atas Rata-rata, BL50 Disiapkan Jadi Tulang Punggung Kakao Nasional

Produk berbasis kakao kini tidak lagi sekadar komoditas mentah, melainkan produk bernilai tambah tinggi yang merepresentasikan kualitas dari hulu hingga hilir.

Lebih dari sekadar kemenangan dalam kompetisi, penghargaan ini membawa pesan strategis bagi pengembangan kakao nasional.

Pengakuan internasional terhadap produk berbasis BL50 memperkuat urgensi hilirisasi kakao di dalam negeri agar nilai tambah tidak berhenti pada ekspor biji mentah.

Model produksi bean-to-bar yang menekankan transparansi asal bahan dan kualitas proses membuka peluang bagi rantai pasok kakao Indonesia menjadi lebih berdaya saing.

Skema ini juga memberikan ruang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk naik kelas dan menembus pasar global, khususnya di segmen specialty chocolate yang terus berkembang.

Di tingkat hulu, prestasi tersebut diharapkan berdampak pada meningkatnya apresiasi terhadap penggunaan varietas unggul serta praktik budidaya yang baik. Permintaan terhadap kakao berkualitas premium berpotensi membuka akses pasar lebih luas bagi petani sekaligus meningkatkan nilai ekonomi komoditas kakao nasional.

Artinya, inovasi varietas seperti BL50 tidak hanya berfokus pada produktivitas, tetapi juga pada kualitas dan positioning Indonesia sebagai produsen kakao premium dunia.

Kisah keberhasilan ini tidak lepas dari peran pelaku usaha yang konsisten mengembangkan produk berbasis kakao lokal. Pemilik L’ILE Chocolate, Priscilla Raisa Partana, mengungkapkan bahwa keikutsertaan dalam ajang internasional tersebut membuka jalan baru bagi pertumbuhan usahanya, terutama dalam menjangkau pasar global.

L’ILE Chocolate merupakan bagian dari PT. Sumatra Coklat, produsen cokelat asal Padang yang mengusung konsep tree-to-bar.

Konsep ini menekankan pengolahan kakao dari hulu hingga hilir secara mandiri, mulai dari penyediaan bahan baku, fermentasi, pengolahan, hingga pengemasan akhir. Seluruh proses produksi dilakukan di Sumatera Barat dengan melibatkan petani lokal sebagai mitra.

Menurut Priscilla, varietas BL50 merupakan klon lokal yang ditemukan petani setempat dan dinilai sangat cocok dengan kondisi tanah serta iklim Sumatera Barat. Produktivitasnya bahkan disebut mampu mencapai 2–3 ton per pohon, jauh lebih tinggi dibanding klon lain yang rata-rata sekitar 500 kilogram.

Meski penuh optimisme saat membangun usaha, perjalanan bisnis tersebut tidak selalu berjalan mulus. Priscilla mengungkapkan pandemi sempat menjadi pukulan berat bagi perusahaannya.

Sejumlah pembeli internasional menghentikan pesanan, sehingga kegiatan ekspor terhenti dan usaha sempat berada dalam kondisi hampir mati suri.

Namun, kondisi tersebut tidak membuat mereka menyerah. Perusahaan memilih menata ulang strategi bisnis secara bertahap dengan memperkuat pasar domestik sebagai fondasi pertumbuhan. Pemulihan dilakukan melalui pengembangan produk turunan cokelat serta pemanfaatan jaringan kafe di Padang untuk memperluas distribusi.

Seiring waktu, permintaan internasional kembali meningkat. Salah satu produk unggulan yang mendapat perhatian pasar adalah chili chocolate cassava rocher, cokelat khas lokal berbahan singkong balado yang menggantikan kacang hazelnut. Produk ini menjadi contoh inovasi berbasis kearifan lokal yang mampu menarik minat pasar global.

Selain itu, pemasaran produk juga telah merambah sektor perhotelan dan restoran, termasuk sejumlah resort di Mentawai dan Bali. Strategi tersebut membantu memperkuat posisi produk cokelat lokal di pasar domestik sekaligus menjadi batu loncatan menuju ekspansi global.

Keberhasilan kakao BL50 di tingkat internasional turut mendapat apresiasi dari Kepala BRMP Tri, Evi Savitri Iriani. Ia menilai capaian tersebut menjadi bukti nyata kapasitas inovasi Indonesia dalam menghasilkan varietas kakao unggul yang diakui dunia.

“Penghargaan ini menunjukkan bahwa varietas kakao hasil inovasi dalam negeri memiliki kualitas berstandar global. Keberhasilan BL50 diharapkan dapat mendorong penguatan hilirisasi kakao nasional, meningkatkan kesejahteraan petani, serta memperkuat daya saing produk Indonesia di pasar internasional,” ujarnya.

Menurut Evi, pencapaian ini menjadi momentum penting untuk memperkuat kolaborasi antara peneliti, petani, pelaku industri, dan pelaku UMKM dalam membangun ekosistem kakao berkelanjutan. Sinergi tersebut dinilai menjadi kunci agar Indonesia tidak hanya dikenal sebagai pemasok bahan mentah, tetapi juga produsen produk cokelat bernilai tinggi.

Dengan raihan Silver Award 2025 ini, kakao BL50 tidak hanya mengharumkan nama lembaga pengembangnya, tetapi juga mempertegas posisi Indonesia dalam peta industri cokelat dunia. Prestasi tersebut menjadi sinyal kuat bahwa komoditas lokal memiliki potensi besar untuk bersaing di pasar premium global.

Momentum ini sekaligus menjadi pijakan bagi penguatan inovasi, peningkatan kualitas produksi, serta pengembangan industri pengolahan kakao nasional. Ke depan, kakao Indonesia diharapkan tidak hanya tumbuh di kebun-kebun petani, tetapi juga terus bersinar di panggung dunia sebagai simbol kualitas, kreativitas, dan daya saing bangsa.

Reporter : NATTASYA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018