Thursday, 12 March 2026


Hilirisasi Perkebunan 2025–202&, Indonesia Siap Jadi Raksasa Ekspor Kopi, Kakao dan Kelapa

24 Feb 2026, 07:12 WIBEditor : Gesha

Kementan fokus hilirisasi perkebunan 2025–2027, kembangkan kopi, kakao, dan kelapa, dorong industri dalam negeri, ekspor global, dan perkuat ekonomi berbasis desa.

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Kementan fokus hilirisasi perkebunan 2025–2027, kembangkan kopi, kakao, dan kelapa, dorong industri dalam negeri, ekspor global, dan perkuat ekonomi berbasis desa.

Indonesia bergerak cepat mendorong hilirisasi perkebunan untuk periode 2025–2027. Program ini digulirkan Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Perkebunan sebagai bagian dari RPJMN 2025–2029, dengan tujuan mengubah komoditas mentah menjadi produk bernilai tambah tinggi, memperkuat ekspor, dan mengurangi impor.

Program ini menargetkan pengembangan lahan seluas hampir 871 ribu hektare untuk komoditas strategis, termasuk kopi, kakao, kelapa, tebu, jambu mete, lada, pala, dan sagu. Dana dialokasikan bertahap, difokuskan untuk penyediaan benih unggul, pupuk, serta penguatan kapasitas tenaga pekebun.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa hilirisasi bukan sekadar soal produksi, tapi transformasi ekonomi. “Kita harus keluar dari jebakan ekspor bahan mentah. Hilirisasi perkebunan bisa jadi penggerak ekonomi desa, membuka lapangan kerja, menambah devisa, dan memperkuat ketahanan pangan serta energi nasional,” katanya.

BACA JUGA ; Benih Unggul hingga Hilirisasi, Ini Peta Jalan Bappenas Bangun Industri Kakao

Strategi hilirisasi disiapkan dengan mempertimbangkan kesiapan bahan baku, permintaan domestik, potensi ekspor, dan daya saing industri. Transformasi ini diharapkan memberikan harga lebih stabil untuk petani, memperkuat industri lokal, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat perkebunan.

Direktur Jenderal Perkebunan, Abdul Roni Angkat, menambahkan bahwa peningkatan produktivitas menjadi fondasi utama. “Dengan benih bermutu dan pengembangan lahan yang tepat sasaran, pasokan bahan baku industri akan terjamin, sehingga hilirisasi berjalan berkelanjutan,” ujarnya.

Pada 2026, fokus pengembangan lahan diarahkan ke sentra produksi utama. Target luas lahan mencakup kelapa 154.000 hektare, kopi 86.000 hektare, kakao 175.500 hektare, tebu 99.547 hektare, pala 14.800 hektare, lada 3.438 hektare, jambu mete 48.200 hektare, dan sagu 3.350 hektare. Proses penetapan penerima bantuan dilakukan melalui mekanisme CPCL, dengan verifikasi administrasi dan lapangan untuk memastikan tepat sasaran dan akuntabel.

BACA JUGA : Benih Berkualitas untuk Semua Pekebun, Kementan Pangkas Regulasi Ribet

Roni juga mengundang Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) untuk berperan sebagai mitra pengadaan benih atau penerima manfaat. Dukungan pemerintah daerah terlihat dari kehadiran Bupati Bengkulu Selatan, Bupati Sorong Selatan, dan Bupati Barito Kuala, yang siap mendukung pengembangan kawasan hilirisasi di wilayah masing-masing.

Program ini diproyeksikan menyerap tenaga kerja hingga 8,6 juta orang, memperkuat ekonomi pedesaan, serta memperkokoh posisi Indonesia sebagai produsen dan eksportir utama komoditas perkebunan dunia, terutama kopi, kakao, dan kelapa.

Reporter : NATTASYA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018