Thursday, 12 March 2026


Pemerintah Ajak Media Kampanyekan Sawit Baik

02 Mar 2026, 16:49 WIBEditor : Yulianto

Diskusi Kampanye Baik yang diselenggarakan Sawitsetara.co

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertanian mengajak media untuk ikut mengkampanyekan sawit itu baik. Dengan potensi yang ada saat ini, sawit telah menjadi penyumbang devisa negara dan penyerap tenaga kerja yang sangat besar.

Direktur Perlindungan Tanaman Perkebunan, Ditjen Perkebunan, Kementerian Pertanian, Hendratmojo Bagus Hudoro mengatakan, sawit di Indonesia melalui perjalanan panjang tahun 1980-an. Saat itu ada program nasionalisasi perkebunan milik pemerintahan Belanda. Artinya, umur sawit Indonesia sudah menginjak usia 40 tahun.

“Tinggal bagaimana menjaga keberlanjutan. Jika tidak pertahankan keberlanjutan, maka akan mengalami kurva penurunan,” katanya saat Kampanye Sawit Baik bersama Media: Sinergi Media untuk Sawit Berkelanjutan yang diselenggarakan Sawitsetara.co di  akarta, Senin (2/3).

Hingga kini penyumbang PDB pertanian dan penggerak ekonomi dan penyerap tenaga kerja yang sangat besar. Sepanjang 2025, total devisa yang dihasilkan dari sektor sawit tercatat menembus 45,2 miliar dollar AS, baik dari ekspor langsung maupun penghematan devisa lewat program substitusi impor biodiesel.

Pekerja langsung 9,7 juta orang (petani 5,2 juta orang dan 4,5 juta karyawan perusahaan dan perkebunan), dan pekerja tidak langsung 6,8 juta orang, baik dalam kegiatan pengembangan produksi dan rantai pasok pendukung supplier sarana dan prasarana.

Saat ini luas kelapa sawit mencapai 16,83 juta ha. Lahan sawit terluas berada di Riau 3,5 juta ha, kemudian Kalimantan Tengah 2,04 juta, Sumatera Utara 2,02 juta ha dan  Kalimantan Barat 1,83 juta ha.

Sedangkan produksi mencapai 48,12 juta ton CPO. Jumlah tersebut lebih tinggi dari tahun 2024 sebanyak 47,47 juta ton dengan produktivitas 3,62 ton/ha. Sementara produktivitas anaman kedelai hanya 0,4 ton/ha, repseed 1,2 ton/ha dan bunga matahari 1,4 ton/ha.

“Data tersebut membuktikan tanaman sawit sangat efisien. Jadi dibandingkan minyak kedelai, bunga matahari dan tanaman lain penghasil minyak nabati,  produktivitas sawit jauh lebih tinggi,” ujarnya.

Dengan keunggulan luas areal dan produktivitas tersebut, masih ada pekerjaan rumah (PR) yang sangat banyak. Salah satunya bagaimanan meningkatkan produktivitas tanaman, khususnya perkebunan rakyat yang luasnya mencapai 42 persen dari total luas lahan sawit di Indonesia.

Namun, Bagus mengakui, perkebunan sawit masih menghadapi tantangan global, Pertama, kampamnye negatif dan regulasi sepihak dari nengara-negara konsumen utama yakni Uni Eropa dan AS. Kedua, permasalahan lingkungan, khsusunya terkait deforestasi, sosial dan kepemilikan lahan.

“Sebagai upaya melawan kampanye negatif, Pemerintah menerapkan kriteria dan prinsip ISPO (Indonesia Sustainable Palm Oil),” katanya.

Selain itu, lanjut Bagus, pemerintah juga mendorong hilirisasi produk perkebuna. Jadi sawit tidak hanya diekspor dalam bentuk mentah, tapi juga produk turunan lainnya seperti food product, farmasi, suplemen bahan pakan, bahan bakar dan serat. “Dengan berkembangnya hilirisasi akan meningkatkan serapan tenaga kerja di industri produk turunan,” ujarnya.

Bagus melihat pergeseran konsumen AS dari minyak kedelai ke minyak sawit menjadi peluang besar untuk pasar minyak sawit dalam negeri.

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018