Sunday, 12 April 2026


Hilirisasi Perkebunan: 7 Komoditas, Target 870 Ribu Ha, Anggaran Rp 9,5 T

30 Mar 2026, 15:10 WIBEditor : Yulianto

Produk cokelat menjadi salah satu hasil hilirisasi perkebunan

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta--- Kementerian Pertanian terus mempercepat hilirisasi subsektor perkebunan nasional guna meningkatkan nilai tambah komoditas dan kesejahteraan pekebun. Pemerintah mengalokasikan anggaran sebesar Rp9,5 triliun untuk pengembangan tujuh komoditas tersebut dengan target 870.000 hektare (ha) kebun rakyat pada periode 2025–2027.

Fokus hilirisasi diarahkan Langkah ini dilakukan melalui penyiapan lahan, identifikasi Calon Petani dan Calon Lahan (CPCL), serta koordinasi intensif dengan pemerintah daerah dan berbagai pemangku kepentingan.

Setidaknya tujuh komoditas perkebunan strategis yang menjadi sasaran program hilirisasi, yakni tebu, kopi, kakao, kelapa, lada, pala, dan jambu mete yang dinilai memiliki potensi besar untuk meningkatkan nilai tambah serta memperkuat perekonomian pekebun.

Program ini diharapkan tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga mendorong tumbuhnya ekonomi lokal, khususnya di desa-desa sentra perkebunan.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman menegaskan, hilirisasi menjadi langkah penting agar komoditas perkebunan tidak lagi hanya dijual dalam bentuk bahan mentah. “Kita ingin komoditas perkebunan memiliki nilai tambah yang lebih besar.," ujarnya

Karena itu, pemerintah terus mendorong hilirisasi agar hasil perkebunan dapat diolah menjadi produk bernilai tinggi yang memberikan keuntungan lebih bagi pekebun dan perekonomian nasional.

Ia menambahkan, pemerintah terus memastikan kesiapan berbagai aspek, mulai dari lahan, kelompok tani, hingga ekosistem industri agar program hilirisasi dapat berjalan secara berkelanjutan.

Sementara itu, Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Abdul Roni Angkat mengatakan, penyiapan program hilirisasi dilakukan melalui pemetaan potensi lahan serta verifikasi langsung di lapangan.

Pihaknya, turun langsung ke daerah untuk memastikan kesiapan CPCL, memetakan potensi lahan, serta berkoordinasi dengan pemerintah daerah, pekebun, dan pemangku kepentingan lainnya. "Proses ini memang tidak sederhana, namun menjadi langkah penting agar program hilirisasi dapat berjalan optimal,” ujar Roni.

Menurutnya, selain penguatan budidaya, Kementan juga mendorong pengembangan berbagai produk turunan dari komoditas perkebunan, seperti gula dari tebu, produk olahan kelapa, cokelat dari kakao, hingga beragam produk rempah dari pala dan lada.

Melalui langkah tersebut, subsektor perkebunan diharapkan tidak hanya menjadi penyedia bahan baku, tetapi juga berkembang menjadi industri bernilai tambah tinggi yang mampu membuka peluang usaha baru sekaligus meningkatkan kesejahteraan jutaan pekebun di seluruh Indonesia.

Reporter : Julian
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018