Thursday, 16 July 2026


Benih Tebu Varietas BL untuk 1.110 Hektare di Malang Dipastikan Sesuai Standar Kementan

07 Jul 2026, 06:54 WIBEditor : Gesha

Benih tebu varietas BL untuk 1.110 hektare di Kabupaten Malang dipastikan sesuai standar Kementan setelah lolos audit kualitas, jumlah, dan distribusi.

TABLOIDSINARTANI.COM, Malang -- Benih tebu varietas BL untuk 1.110 hektare di Kabupaten Malang dipastikan sesuai standar Kementan setelah lolos audit kualitas, jumlah, dan distribusi.

Penyaluran benih tebu varietas BL untuk program bongkar ratoon seluas 1.110 hektare di Kabupaten Malang dipastikan telah memenuhi standar Kementerian Pertanian (Kementan). Kepastian itu diperoleh setelah tim Inspektorat Jenderal (Itjen) Kementan melakukan audit lapangan terhadap pelaksanaan program bantuan benih yang disalurkan kepada petani.

Audit yang berlangsung di Kecamatan Kalipare, Kabupaten Malang, Senin (6/7/2026), mencakup pemeriksaan menyeluruh terhadap kualitas benih, jumlah bantuan, kesesuaian varietas, hingga mekanisme distribusi kepada kelompok tani dan petani penerima manfaat.

Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa bantuan benih tebu yang disalurkan telah sesuai dengan ketentuan pemerintah, sehingga tidak ditemukan permasalahan baik dari sisi kualitas maupun kuantitas.

Person in Charge (PIC) CV Lang Buana, Safik, mengatakan tim audit dari Itjen Kementan melakukan pengecekan secara menyeluruh terhadap seluruh tahapan pelaksanaan program bongkar ratoon.

"Jadi dari kementerian datang untuk mengecek semuanya. Sedangkan kalau untuk benih, tidak ada permasalahan sama sekali. Baik secara jumlah, kualitas, maupun jenis yang diminta itu sudah benar, tidak ada masalah," ujar Safik.

Menurutnya, program bongkar ratoon tahun 2025 di Kabupaten Malang mengalokasikan bantuan benih untuk lahan seluas 1.110 hektare. Seluruh bantuan tersebut telah tersalurkan kepada kelompok tani sesuai kontrak dan diterima oleh petani penerima manfaat.

"Total benih di tahun 2025 itu diperuntukkan bagi 1.110 hektare," katanya.

Safik menjelaskan, benih yang digunakan merupakan varietas BL atau Bululawang, salah satu varietas tebu unggul yang banyak dikembangkan di Kabupaten Malang. Varietas ini dipilih karena memiliki produktivitas tinggi serta telah sesuai dengan kebutuhan petani tebu di wilayah Malang Raya.

Penggunaan varietas BL juga menjadi bagian dari strategi peningkatan produktivitas tebu melalui program bongkar ratoon, yakni mengganti tanaman tebu yang produktivitasnya mulai menurun dengan tanaman baru yang lebih unggul.

Dalam skema bantuan tersebut, setiap hektare lahan memperoleh alokasi sebanyak 60 ribu mata tunas benih tebu. Pemerintah juga memberikan tambahan toleransi penyusutan atau refraksi sebesar dua persen sehingga total benih yang diterima mencapai sekitar 61.200 mata tunas per hektare.

"Jatahnya per petani untuk per hektare itu 60 ribu mata plus refraksi 2 persen. Sehingga total sekitar 61.200 mata," jelasnya.

Ia menambahkan, mekanisme penyaluran dilakukan melalui kelompok tani (Poktan) maupun gabungan kelompok tani (Gapoktan) sesuai kontrak kerja sama dengan pemerintah. Selanjutnya, kelompok tani bertanggung jawab menyalurkan benih kepada masing-masing petani penerima bantuan.

"Kami berdasarkan kontrak yang disalurkan ke nama poktan atau gapoktan. Setiap kecamatan ada kontraknya. Nanti dari poktan itu yang akan menyalurkan ke petaninya," tutur Safik.

CV Lang Buana sendiri dipercaya sebagai distributor benih program bongkar ratoon untuk sebagian besar wilayah Malang Raya. Meski demikian, terdapat beberapa kecamatan di Kabupaten Malang yang berada di luar wilayah distribusi perusahaan tersebut, termasuk Kecamatan Pujon.

Audit Itjen Kementan tidak hanya memeriksa distribusi benih, tetapi juga mengevaluasi realisasi program bongkar ratoon tahun 2025 sekaligus mengawal pelaksanaan program tahun 2026 yang mulai berjalan sejak Juni lalu. Pemeriksaan juga mencakup penyaluran insentif Hari Orang Kerja (HOK) kepada petani sebagai bagian dari pelaksanaan program.

Safik mengatakan langkah audit tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memastikan setiap bantuan pertanian benar-benar diterima petani sesuai ketentuan dan memberikan dampak terhadap peningkatan produktivitas tebu nasional.

"Yang di tahun 2025 sudah tersalurkan semua. Sedangkan di tahun 2026, Juni kemarin sudah mulai disalurkan. Makanya Inspektorat Jenderal Kementerian Pertanian turun langsung untuk kroscek lagi di lapangan," pungkasnya.

Program bongkar ratoon menjadi salah satu strategi Kementerian Pertanian dalam mempercepat regenerasi tanaman tebu, meningkatkan produktivitas lahan, serta mendukung target peningkatan produksi gula nasional. 

Melalui pengawasan langsung dari Inspektorat Jenderal, pemerintah memastikan bantuan benih tebu yang diterima petani memenuhi standar mutu sehingga dapat memberikan hasil produksi yang optimal.

 

Reporter : NATTASYA
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018