
Tim Kementerian PPN/Bappenas yang dipimpin Direktur Koperasi dan UMKM, Mahatmi Prawitasari Saronto, melakukan kunjungan ke Purbalingga untuk berdialog langsung dengan petani, pengepul, hingga pelaku usaha penyulingan minyak nilam
TABLOIDSINARTANI,COM, Purbalingga --- Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) melakukan kajian pengembangan budidaya sekaligus hilirisasi produk nilam di daerah tersebut sebagai upaya memperkuat komoditas berorientasi ekspor dan meningkatkan kesejahteraan petani.
Tim Kementerian PPN/Bappenas yang dipimpin Direktur Koperasi dan UMKM, Mahatmi Prawitasari Saronto, melakukan kunjungan ke Purbalingga untuk berdialog langsung dengan petani, pengepul, hingga pelaku usaha penyulingan minyak nilam guna menyerap berbagai masukan dari pelaku usaha di lapangan.
Kepala Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan (DPPP) Kabupaten Purbalingga, Ir. Prayitno, M.Si., IPU, mengatakan, luas areal tanaman nilam di Kabupaten Purbalingga saat ini telah mencapai 58 hektare dan diperkirakan akan terus bertambah seiring membaiknya harga daun nilam kering.
"Harga daun nilam kering saat ini berada di kisaran Rp7.000 hingga Rp8.000 per kilogram. Sebelumnya sempat turun hingga sekitar Rp2.500 per kilogram, sehingga banyak petani enggan menanam nilam. Kini harga kembali membaik setelah bencana alam di Aceh yang merupakan salah satu sentra produksi nilam nasional," ujar Prayitno.
Optimisme terhadap pengembangan nilam juga didorong masuknya investasi dari PT Indika Nature melalui inisiatif Natura Aromatik Nusantara (Natura) yang mengembangkan model budidaya regeneratif di Desa Karangjengkol, Kecamatan Kutasari.

Program tersebut menargetkan pengembangan 10 hektare lahan inti serta 26,8 hektare lahan kemitraan yang dikelola sekitar 70 petani, dengan target produksi mencapai 1.500 kilogram. Di luar petani mitra perusahaan, terdapat sekitar 20 hektare lahan nilam yang dikelola secara mandiri, baik dengan sistem monokultur maupun tumpangsari.
Prayitno menjelaskan, sentra budidaya nilam di Purbalingga tersebar di lima kecamatan, yakni Karangreja seluas 23 hektare, Kutasari 14 hektare, Karangjambu 12,5 hektare, Rembang 5 hektare, dan Karangmoncol 4 hektare.
"Dengan luasan tersebut, total produksi minyak nilam di Purbalingga mencapai sekitar 95.950 kilogram," katanya.
Produksi tersebut meningkat signifikan dibandingkan tahun 2024, ketika luas tanam baru mencapai 29 hektare dengan produksi sekitar 55.900 kilogram minyak nilam.
Menurut Prayitno, sebagian besar petani menanam varietas Sidikalang karena memiliki kualitas minyak yang tinggi sekaligus lebih tahan terhadap serangan penyakit jamur maupun keriting daun.
Direktur Koperasi dan UMKM Kementerian PPN/Bappenas, Mahatmi Prawitasari Saronto, mengatakan nilam menjadi salah satu komoditas strategis yang tengah dikaji untuk dikembangkan melalui pendekatan hilirisasi karena memiliki pasar ekspor yang sangat besar.
Indonesia saat ini menyumbang sekitar 90 persen kebutuhan minyak nilam dunia, dengan nilai ekspor yang mencapai sekitar USD150 juta per tahun.
"Nilam memiliki potensi ekonomi yang sangat besar dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat pedesaan. Kami memilih Purbalingga karena kualitas produksinya bagus dan sudah menjadi incaran konsumen dari Swiss maupun negara-negara lainnya," ujar Mahatmi.
Membaiknya harga nilam turut dirasakan para petani. Sukirman, petani nilam asal Desa Karangjengkol, Kecamatan Kutasari, mengaku budidaya nilam saat ini kembali memberikan keuntungan yang menjanjikan.
Menurutnya, biaya budidaya untuk lahan seluas satu hektare berkisar Rp8 juta hingga Rp10 juta, sementara hasil panen dapat menghasilkan pendapatan sekitar Rp30 juta hingga Rp35 juta.
"Biaya terbesar berasal dari pengolahan lahan dan pupuk kandang, terutama ongkos angkut pupuk ke lokasi kebun. Kendala utama sebenarnya fluktuasi harga. Namun sejak bencana di Aceh, harga relatif stabil dan cukup menguntungkan," katanya.
Hal senada disampaikan Ketua Gapoktan Desa Cendana, Kecamatan Kutasari, Ali. Ia mengelola lahan nilam seluas sekitar 400 ubin atau sekitar 5.600 meter persegi.
"Dengan modal sekitar Rp4 juta, hasil panen bisa mencapai sekitar Rp28 juta. Sekarang harganya sedang bagus sehingga hasil panen cukup menguntungkan," ungkapnya.
Ali menambahkan, tanaman nilam dapat dipanen hingga dua kali dalam satu siklus tanam sehingga memberikan nilai ekonomi yang menarik bagi petani.
Di sektor hilir, pelaku usaha penyulingan minyak nilam juga mulai menikmati meningkatnya produksi.
Nuryanto, pelaku usaha penyulingan minyak nilam di Purbalingga, mengungkapkan usahanya mampu memasok 400 hingga 550 kilogram minyak nilam setiap bulan kepada PT Indesso di Purwokerto.
"Kami sudah bekerja sama sejak tahun 2010. Sebenarnya untuk menjadi buyer langsung diperlukan kapasitas produksi sekitar delapan ton per tahun, dan saat ini kami masih belum mampu memenuhi jumlah tersebut," ujarnya.