
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman saat di Kabupaten Bener Meriah, Aceh, Selasa (14/7).
TABLOIDSINARTANI.COM, Bener Meriah---Pemerintah tidak akan mentoleransi praktik yang merugikan petani sawit. Jika ada perusahaan yang sengaja menekan harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit, maka akan ditindak tegas karena berdampak langsung terhadap kesejahteraan jutaan petani.
Pernyataan tersebut disampaikan Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman saat berdialog dengan petani dan pemerintah daerah di Kabupaten Bener Meriah, Aceh, Selasa (14/7).
Saat ini kata Amran. pemerintah terus mengawal harga komoditas strategis agar manfaat kenaikan harga dunia dapat dirasakan langsung oleh petani. Beberapa waktu lalu, harga sawit dunia mencapai sekitar Rp27 ribu/kg, sementara di Indonesia hanya berada di kisaran Rp14-15 ribu/kg.
”Ketika nilai dolar menguat, yang seharusnya menikmati keuntungan adalah petani sawit, petani kopi, petani kakao, dan petani kelapa. Tapi justru harga sempat turun. Ini ada apa?” kata Amran.
Saat harga TBS turun, pemerintah mengambil langkah cepat dan kini mulai menunjukkan hasil. Setelah pemerintah mengumumkan penguatan pengawasan terhadap harga sawit, harga TBS berangsur pulih. Namun, ia mengingatkan masih ada pihak-pihak yang berupaya kembali menekan harga.
“Alhamdulillah, setelah kita umumkan langkah pemerintah, harga langsung bergerak naik dan sekarang sudah mulai pulih. Tetapi saya ingatkan, masih ada yang coba-coba menurunkan harga lagi. Kalau ada, Satgas akan menindak tegas,” ujarnya.
Amran menegaskan, pemerintah tidak akan membiarkan praktik tata niaga yang merugikan petani terus berlangsung. Keberhasilan pembangunan pertanian harus diukur dari meningkatnya kesejahteraan petani sebagai pelaku utama produksi pangan dan perkebunan.
“Kalau mau negara berhasil, jangan sakiti rakyat. Temani rakyat, dorong rakyat untuk berproduksi. Itu tugas kita,” tegasnya.
Amran mengatakan, sawit merupakan salah satu komoditas strategis nasional dengan nilai ekspor yang sangat besar. Karena itu, pemerintah terus melakukan pembenahan tata niaga agar nilai tambah komoditas dapat dinikmati lebih besar oleh petani sekaligus meningkatkan devisa negara.
“Kalau seluruh potensi sawit bisa dioptimalkan dan harga petani terjaga, nilai ekspor Indonesia akan meningkat signifikan. Karena itu pemerintah akan terus hadir memastikan petani memperoleh harga yang adil,” kata Amran.