Saturday, 05 September 2026


Produksi Menurun, Perubahan Iklim Ancam Kopi Tanah Air

10 Aug 2026, 14:17 WIBEditor : Herman Pratikno

Tanaman Kopi

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Perubahan iklim mulai menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan perkebunan kopi Indonesia. Kenaikan suhu, perubahan pola curah hujan, musim kemarau yang semakin panjang, hingga meningkatnya serangan hama dan penyakit mulai dirasakan petani di berbagai sentra produksi kopi.

Dampaknya bukan sekadar mengganggu pertumbuhan tanaman. Perubahan iklim juga mulai memukul produktivitas, menurunkan kualitas biji kopi, hingga membuat pendapatan petani ikut tertekan.

Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah, pelaku industri, eksportir, hingga koperasi karena kopi merupakan salah satu komoditas perkebunan unggulan Indonesia yang memiliki pasar hingga mancanegara.

Diungkapkan pada acara Early Warning System (EWS) RRI Pro 3 beberapa waktu lalu, Jakup Ginting dari Direktorat Tanaman Semusim dan Tahunan (TST), Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian, mengatakan perubahan iklim sudah sangat dirasakan pada tanaman kopi.

Menurutnya, kenaikan suhu dapat mempercepat proses pematangan buah kopi. Kondisi tersebut berpotensi membuat karakter rasa dan aroma kopi menjadi kurang kompleks.

“Perubahan iklim sangat dirasakan di tanaman kopi kita. Ini menyebabkan penurunan kualitas hasil panen karena perubahan suhu yang tinggi akan mempercepat pematangan buah kopi,” ujar Jakup.

Tidak hanya suhu, pola curah hujan yang semakin tidak menentu juga memberikan tekanan terhadap produksi kopi. Curah hujan yang tidak sesuai dengan kebutuhan tanaman dapat menyebabkan perkembangan buah terganggu sehingga ukuran biji kopi menjadi lebih kecil dan mutu hasil panen menurun.

Ancaman tersebut semakin berat ketika fenomena iklim seperti El Nino terjadi. Ketidakstabilan cuaca dapat menyebabkan produksi kopi berfluktuasi sekaligus meningkatkan risiko serangan organisme pengganggu tanaman (OPT).

“Perubahan iklim global seperti El Nino memperburuk ketidakstabilan produksi. Selain itu, serangan hama seperti penggerek buah kopi dan penyakit lainnya juga semakin menekan kualitas kopi kita,” jelasnya.

Ancaman perubahan iklim bahkan diperkirakan dapat mengubah peta wilayah produksi kopi Indonesia dalam beberapa dekade mendatang.

Jakup mengungkapkan, hampir seluruh wilayah sentra produksi kopi Indonesia memiliki tingkat kerentanan terhadap perubahan iklim. Sejumlah studi bahkan menunjukkan bahwa pada 2050, area yang sesuai untuk budidaya kopi arabika di Aceh dan Sumatera Utara berpotensi menyusut sangat signifikan.

“Dari studi-studi yang ada menunjukkan pada tahun 2050 area yang cocok untuk budidaya kopi arabika di Aceh dan Sumut ini sangat memungkinkan berkurang sampai 90 persen, terutama akibat kenaikan suhu, perubahan curah hujan dan meningkatnya cuaca ekstrem,” katanya.

Jika tidak diantisipasi sejak sekarang, kondisi tersebut tentu dapat berdampak terhadap keberlanjutan produksi kopi nasional dan kesejahteraan jutaan petani yang menggantungkan penghidupan dari komoditas tersebut.

Karena itu, pemerintah melalui Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian terus mendorong berbagai langkah adaptasi dan mitigasi perubahan iklim di tingkat perkebunan.

Salah satunya melalui pembangunan demplot yang menjadi lokasi percontohan penerapan teknologi dan teknik budidaya yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim.

Selain itu, pemerintah juga mengembangkan desa pertanian organik berbasis tanaman kopi serta memperkuat pengendalian organisme pengganggu tanaman dengan memanfaatkan agen pengendali hayati dan pestisida nabati.

“Ini semua sudah dilakukan agar perubahan iklim tidak dirasakan secara buruk. Untuk mengurangi dampak perubahan iklim ini sudah kami lakukan, sehingga kopi kita tidak mengalami dampak yang sangat buruk,” ujar Jakup.

Dampak perubahan iklim juga dirasakan langsung pelaku usaha kopi di daerah.

Direktur Utama PT Bangun Flores Indonesia sekaligus Ketua Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI) Provinsi NTT, Handrianus Yovin Karwayu, mengatakan perubahan iklim mulai memengaruhi produksi kopi di Flores.

Menurutnya, sejumlah sentra kopi di NTT seperti Bajawa, Ende, Manggarai dan Flores Timur sangat bergantung pada kondisi cuaca dan pola hujan.

“Kalau yang kami rasakan di Flores, yang menjadi konsen kita adalah produksinya. Jadi produksi hasil pertanian, dalam hal ini kopi, hasil panennya menjadi terganggu,” kata Yovin.

Flores memiliki karakter geografis yang unik karena berada di kawasan Ring of Fire dan memiliki banyak gunung berapi. Kondisi tersebut menjadi salah satu kekuatan alam yang mendukung karakter tanah dan perkebunan kopi di wilayah tersebut.

Namun, perubahan iklim dapat mengganggu keseimbangan tersebut.

Menurut Yovin, salah satu dampak paling nyata adalah perubahan sebaran hujan yang akhirnya berpengaruh terhadap jumlah produksi kopi.

“Ketika terjadi perubahan iklim, dia berpengaruh kepada hasil panen. Yang kami rasakan, perubahan iklim memengaruhi sebaran hujan, akhirnya jumlah produksi menurun,” ujarnya.

Dampak perubahan iklim bahkan dirasakan lebih tajam petani dan koperasi di lapangan.

Fahmi Ahmad, pengurus Koperasi Sekunder Javeast, mengungkapkan penurunan produksi kopi yang terjadi pada 2026 sangat signifikan.

Jika sebelumnya satu hektare lahan dapat menghasilkan sekitar 1,2 hingga 1,5 ton green bean, kini hasilnya hanya berkisar 200 hingga 400 kilogram.

Artinya, terjadi penurunan produksi sekitar 70 hingga 80 persen.

“Perubahan iklim sangat berpengaruh di kami. Biasanya satu hektare kami dapat green bean 1,2 sampai 1,5 ton, sekarang hanya 200 sampai 400 kilogram. Jadi penurunannya berkisar 70 sampai 80 persen,” ungkap Fahmi.

Menurutnya, kondisi tersebut berbeda dengan tahun sebelumnya ketika produksi masih bisa mencapai lebih dari satu ton per hektare.

Tekanan terhadap petani semakin berat karena penurunan produksi terjadi bersamaan dengan harga kopi yang dinilai tidak sebaik tahun sebelumnya.

Kondisi itu membuat sebagian petani memilih menahan hasil panennya sambil menunggu harga yang dianggap lebih layak.

“Ditambah lagi harga kopi tahun ini tidak sebagus kemarin dan kondisi panen tidak sebanyak tahun kemarin. Jadi petani masih menahan untuk menjual, menunggu harga yang layak,” katanya.

Rangkaian kondisi tersebut menunjukkan bahwa perubahan iklim bukan lagi ancaman yang hanya diperkirakan terjadi di masa depan. Dampaknya sudah mulai dirasakan dari kebun hingga rantai perdagangan kopi.

Karena itu, upaya mempertahankan keberlanjutan kopi Indonesia membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, petani, koperasi, pelaku usaha dan eksportir.

Adaptasi melalui budidaya ramah iklim, penggunaan varietas unggul yang sesuai dengan kondisi lingkungan, pengendalian OPT secara berkelanjutan, penguatan kelembagaan petani serta penerapan inovasi teknologi menjadi semakin penting.

 

Reporter : Eko
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018