
elatihan Implementasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) Kelapa Sawit Angkatan I dan II di Kabupaten Manokwari, Provinsi Papua Barat.
TABLOIDSINARTANI.COM, Manokwari --- Upaya meningkatkan kemampuan pekebun kelapa sawit dalam menerapkan praktik perkebunan berkelanjutan terus diperkuat. Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) bersama Balai Pelatihan Pertanian (Bapeltan) Jambi menggelar Pelatihan Implementasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) Kelapa Sawit Angkatan I dan II di Kabupaten Manokwari, Provinsi Papua Barat.
Pelatihan tersebut menjadi bagian dari langkah strategis meningkatkan kualitas sumber daya manusia perkebunan kelapa sawit, khususnya dalam memahami dan menerapkan prinsip-prinsip pengelolaan kebun yang berkelanjutan.
Bapeltan Jambi sebagai Unit Pelaksana Teknis di bawah Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian, Kementerian Pertanian, turut mengambil peran dalam pelaksanaan pelatihan bagi para pekebun.
Kegiatan pembukaan dihadiri Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Provinsi Papua Barat, Kepala Bidang Perkebunan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Provinsi Papua Barat, Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Kabupaten Manokwari, Kepala Bidang Perkebunan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Kabupaten Manokwari, serta perwakilan Polbangtan Manokwari.
Plt. Kepala Bapeltan Jambi dalam sambutannya menegaskan, kelapa sawit bukan sekadar komoditas perkebunan, tetapi memiliki posisi strategis dalam mendukung perekonomian nasional. Karena itu, pengembangan sawit membutuhkan sumber daya manusia yang mampu mengelola perkebunan secara efektif, efisien, sekaligus memperhatikan aspek keberlanjutan.
“Keberlanjutan dan daya saing perkebunan kelapa sawit tidak hanya ditentukan oleh luas lahan dan produksi, tetapi juga oleh kemampuan sumber daya manusia dalam mengelola kebun secara efektif, efisien, dan berkelanjutan,” ujarnya.
Menurutnya, salah satu tantangan yang masih dihadapi pekebun adalah penerapan praktik perkebunan berkelanjutan sekaligus pemenuhan standar dan persyaratan ISPO.
Kondisi tersebut membuat pemahaman mengenai ISPO menjadi semakin penting. Melalui pelatihan ini, para peserta tidak hanya diharapkan mengetahui standar yang harus dipenuhi, tetapi juga mampu menerapkannya dalam pengelolaan kebun sehari-hari.
“Pelatihan ini memiliki keterkaitan erat dengan kebutuhan pekebun di lapangan. Pengetahuan yang diperoleh harus dapat diterapkan sesuai dengan kondisi kebun masing-masing,” katanya.
Implementasi ISPO di tingkat pekebun diharapkan dapat mendorong pengelolaan usaha perkebunan yang lebih tertib dan sesuai ketentuan. Pada saat yang sama, penerapan praktik berkelanjutan juga menjadi salah satu upaya untuk memperkuat daya saing produk kelapa sawit.
Dalam pelatihan, peserta didorong tidak hanya menjadi pendengar. Mereka diminta aktif berdiskusi, mengajukan pertanyaan kepada fasilitator, serta berbagi pengalaman dan persoalan yang selama ini dihadapi dalam mengelola kebun.
Pendekatan tersebut penting agar materi yang diberikan tidak berhenti sebagai pengetahuan di ruang kelas, melainkan benar-benar dapat menjawab persoalan yang dihadapi pekebun ketika kembali ke kebunnya masing-masing.
Lebih jauh, peserta juga diharapkan menjadi penggerak transfer pengetahuan di lingkungan masing-masing. Pengetahuan mengenai implementasi ISPO yang diperoleh selama pelatihan dapat dibagikan kepada anggota kelompok tani dan pekebun lainnya.
Dengan cara tersebut, dampak pelatihan diharapkan tidak hanya dirasakan oleh peserta, tetapi meluas ke kelompok pekebun dan lingkungan perkebunan di Papua Barat.
Peningkatan kapasitas sumber daya manusia pada akhirnya diharapkan ikut mendorong pengelolaan perkebunan yang lebih baik, produktivitas yang meningkat, serta kesejahteraan pekebun.
Pelaksanaan Pelatihan Implementasi ISPO ini sekaligus menjadi bentuk sinergi antara BPDP, Bapeltan Jambi, pemerintah daerah, Polbangtan Manokwari, dan berbagai pihak terkait dalam memperkuat pembangunan perkebunan kelapa sawit di Papua Barat.