
BPDP-Bapeltan Jambi gelar Pelatihan Panen dan Pasca Panen Kelapa Sawit Angkatan I y
TABLOIDSINARTANI.COM, Manokwari --- Kualitas Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit ternyata tidak hanya ditentukan dari bagaimana tanaman dirawat dan dibudidayakan. Tahap panen hingga penanganan hasil setelah dipanen juga menjadi penentu penting yang berpengaruh terhadap kualitas dan nilai ekonomi yang diterima pekebun.
Kesalahan menentukan tingkat kematangan tandan, waktu panen yang tidak tepat, hingga penanganan dan pengangkutan yang kurang baik dapat berdampak pada kualitas TBS. Kondisi tersebut pada akhirnya berpengaruh terhadap rendemen minyak sawit, kadar Asam Lemak Bebas (ALB), bahkan harga TBS yang diterima pekebun.
Menyadari pentingnya hal tersebut, peningkatan pengetahuan dan keterampilan pekebun menjadi salah satu langkah strategis untuk meningkatkan kualitas hasil perkebunan kelapa sawit.
Upaya itu dilakukan melalui Pelatihan Panen dan Pasca Panen Kelapa Sawit Angkatan I yang digelar di Manokwari, Papua Barat, pada 8–12 September 2026.
Sebanyak 26 peserta yang terdiri atas pekebun dan sumber daya manusia (SDM) perkebunan kelapa sawit dari Kabupaten Manokwari mengikuti pelatihan tersebut.
Pelatihan ini merupakan bagian dari Program Pengembangan SDM Perkebunan Kelapa Sawit Tahun 2026 dengan dukungan pendanaan dari Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP).
Program tersebut diarahkan untuk memperkuat kapasitas SDM perkebunan melalui peningkatan pengetahuan, keterampilan, profesionalisme, kemandirian, dan daya saing pekebun.
“Panen bukan sekadar mengambil buah dari pohon. Ketepatan menentukan kematangan TBS, waktu panen, hingga penanganan setelah dipanen sangat menentukan kualitas hasil yang diterima pekebun,” menjadi salah satu pemahaman penting yang ditekankan dalam pelatihan.
Selama lima hari, peserta tidak hanya mendapatkan teori, tetapi juga dibekali pemahaman teknis yang berkaitan langsung dengan aktivitas panen di lapangan.
Materi yang diberikan meliputi organisasi dan sistem panen, persiapan panen, kriteria matang panen, taksasi produksi, teknik memanen, penanganan TBS dan brondolan, pengangkutan, hingga aspek ketelusuran hasil.
Peserta juga mendapatkan kesempatan mengikuti kunjungan dan praktik lapangan untuk memperkuat pemahaman terhadap teknik panen dan pascapanen yang telah dipelajari.
Salah satu fokus penting dalam pembelajaran adalah keterkaitan antara tingkat kematangan TBS dengan rendemen Crude Palm Oil (CPO), kadar ALB, kualitas TBS, serta penentuan harga.
Dengan memahami hubungan tersebut, pekebun diharapkan tidak lagi memandang panen hanya sebagai tahap akhir dari proses budidaya, tetapi sebagai bagian penting dalam menentukan nilai ekonomi hasil kebun.
Dalam kegiatan tersebut, Balai Pelatihan Pertanian (Bapeltan) Jambi berperan sebagai lembaga pelaksana yang menyelenggarakan proses pembelajaran sekaligus memfasilitasi peserta selama pelatihan.
Pelaksanaan pelatihan juga didukung narasumber dan pelatih dari berbagai unsur, mulai dari Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Papua Barat, Politeknik Pembangunan Pertanian Manokwari, Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Kabupaten Manokwari, Universitas Papua, hingga Widyaiswara Bapeltan Jambi.
Keterlibatan berbagai unsur tersebut memberikan peserta perspektif yang lebih luas, baik dari sisi teknis budidaya dan panen, pengelolaan hasil, maupun pengembangan kompetensi SDM perkebunan.
Melalui pelatihan ini, pekebun diharapkan mampu menerapkan teknik panen dan penanganan hasil secara lebih tepat.
Penerapan teknik tersebut diharapkan dapat menekan kehilangan hasil, mencegah penurunan kualitas TBS, sekaligus meningkatkan nilai ekonomi hasil perkebunan.