Tembakau khas Sumatera yang sudah melegenda di tanah Eropa sejak awal abad 19 itu, kini tengah sekarat (menunggu mati) masa depannya. Manajemen pembudidaya Tembakau Deli, PT Perkebunan Nusantara 2 (PTPN2), berniat menghentikan penanamannya, Maret 2016.
“PTPN2 mau menghentikan penanaman tembakau Deli. Produksinya terus menurun, lahannya banyak diganggu dan diserobot orang. Memang skala usahanya sudah tidak cocok, namun tembakau ini masih sangat disenangi di luar negeri, kontraknya jangan diputus,” pinta Soedjai Kartasasmita Ketua Dewan Penasehat Gabungan Perusahaan Perkebunan Indonesia (GPPI) yang lahir tahun 1926.
Harga tembakau Deli Sumatera Utara di Eropa sekitar 43-45 euro per kg daun. Daunnya yang lebar dan lembut sangat digemari sebagai pembungkus cerutu. Tidak kalah penggemar dan melegendanya dengan tembakau Havana dari Cuba.
“Tapi kalau kita mengabaikan, negara lain sudah siap. Brasil sudah menanam tembakau pesaing tembakau Deli Sumatera Utara ini. Brasil menanam tembakau Brazil Sumatera. Equador menanam tembakau Equador Sumatra. Mexico juga menanam tembakau Mexico Sumatera.
Ibarat anggur, tembakau Deli (baca juga Pioner Perkebunan Premium Berkelanjutan) adalah anggur Bordeaux. Anggur yang paling digemari di Eropa. Meski mahal harganya, tetap diburu para konsumen fanatiknya.
Indonesia Tercoreng
“Seandainya tembakau Deli ini punah, tembakau dari Negara lain akan masuk menggantikan ketenaran tembakau Deli. Dan tembakau Deli tak pernah masuk ke pasar lagi. Kedua, reputasi Indonesia tercoreng,” tambah Soedjai.
Soedjai meminta agar Indonesia tidak mudah memutuskan kontrak dagang seperti ini. Berita tidak dilanjutkannya penanaman tembakau Deli Ini dinilainya mendadak. “Maret kemungkinannya,” tambahnya.
Banyak protes datang dari pembeli tembakau Deli di Eropa. Khabarnya pejabat Kementerian Pertanian sudah datang ke Medan berbicara dengan Direksi PTPN2, mencari jalan untuk menyelamatkan sang legenda cerutu ini.
“Penghentian penanaman tembakau Deli ini menurut menajemen PTPN2 karena kami rugi terus, kami akan hentikan. Siapa yang menaggung,” cerita Soedjai.
Selain merugi, juga adanya gangguan keamanan pada kebun-kebun temabakau Deli. Lahannya terus menciut, karena gangguan keamanan lahan. Produksi tembakaunya pun terus menurun. Di era kejayaan manajemen tembakau ini bisa menanam 200 ribu ha dengan produksi dan ekspor daun tembakau Deli sebanyak 45 ribu bal per tahun. Kini tinggal sekitar 1.500 bal per tahun.
“Oleh karena itu, kawasan perkebunan tembakau Deli harus dijaga. Harus ada dukungan pemerintah untuk ini. Lokasi untuk tanam tembakau Deli sangat spesifik. Beda 5 meter saja, hasilnya berbeda. Tanahnya sangat subur,” jelas Soejai Kartasasmita.
Pernah ada seorang pengusaha cerutu datang untuk melihat langsung lahan budidayanya. Dia menangis, karena melihat kebun tembakau tersebut sudah menjadi gudang dan property lainnya. “Kalaupun jadi ditutup, mereka meminta tidak sekarang, pembeli daun cerutu Deli di Eropa meminta waktu sampai tahun 2017, supaya bisa siap-siap.”
Jangan Karena Emosi
Soedjai juga berharap selain dukungan penuh pemerintah, PTPN2 kembali bisa menemukan cara inovatif untuk menyelamatkan masa depan tembakau Deli. “Punya akal untuk jalan keluarnya. Jaga reputasinya. Di dunia ini tembakau Deli dianggap benderanya Indonesia,” tambahnya.
Menurutnya tidak ada kesulitan pemasaran tembakau Deli. Selain sebagai daun pembungkus, daun tembakau Deli juga dijadikan tembakau kunyah. Di masyarakat AS, masih banyak yang memiliki budaya itu.
Rencana penghentian produksi tembakau Deli pernah terjadi pada tahun 2004. Alasannya sama dengan kejadian tahun ini. Pabrikan cerutu di Eropa bingung, mereka menghubungi GPPI. Akhirnya pertanaman tembakau Deli bisa bertahan belasan bulan. Dan ketika dilantik Batara Muda Nasution sebagai Dirut PTPN2 yang baru ditemukan cara inovatif untuk keberlangsungan masa depan temabakau Deli. Cara inovatif itu adalah meminjam dana 2 juta Euro dari Bank Eropa atas kepercayaan yang digalang Soedjai Kartasasmita pada tahun 2006.
Berkat upaya Dirut PTPN2 Batara Muda Nasution yang bagus dalam produksi dan pemasaran tembakau Deli, akhirnya datang pembeli dari berbagai negara. Dalam setahun hutang tersebut lunas. Harganya daun tembakau Deli waktu itu memang lagi bagus, sekitar 70-90 Euro per bal
Dalam bisnis, kata Soedjai, intinya adalah kepercayaan, kalau tidak percaya mereka tidak akan mau berbisnis. Kalau terpaksa berbisnis, mereka akan memberlakukan pola pengurangan harga. “Perlu diingat, kita lagi sibuknya jaring investor dari luar. Cerita ini dari mulut ke mulut. Investor agak ragu.”
Sudah 150 tahun lebih tembakau Deli jadi icon Indonesia di kancah dunia. Tidak boleh ikon ini diputuskan karena emosi. “Mungkin emosi itu karena gangguan keamanan itu,” kata Soedjai Kartasasmita dengan nada kesal karena yang mengganggu keamanan perkebunan itu terkadang penggarap liar. Som
Pioner Perkebunan Premium Berkelanjutan
Perkebunan tembakau Deli adalah pioner pengelolaan perkebunan secara berkelanjutan sejak era penjajahan Belanda. Kualitas daunnya untuk pembungkus cerutu sangat superior. Harganya sangat mahal, menjadi idaman konsumen kelas atas. Tidak beda dengan anggur Bordeaux di kalangan para penggemar anggur di Eropa.
Sudah lebih dari 150 tahun industri perkebunan tembakau Deli dikembangkan di tanah Deli. Adalah adik ipar Sultan Deli, Said Abdullah bin Bilfagih yang mengembangkan tembakau kelas dunia ini. Ia adalah warga Indonesia keturunan Arab yang bervisi luar biasa.
Pada awal tahun 1860-an, ia mengadakan road show dari Deli ke Batavia (Jakarta) dan Surabaya untuk menjaring investor yang berminat menanamkan modalnya di Tanah Deli yang menurutnya memiliki potensi ekonomi yang luar biasa.
Kerja gigih Said Abdullah berhasil meyakinkan dan menjaring perusahaan BelandaP. van den Arend . Perusahaan itu memutuskan untuk mengirim kapal Josephine pada 1 Mei 1863 ke tanah Deli bersama seorang ahli tembakau dari Lumajang, Jacobus Nienhuys. Setelah melihat Deli, Nienhuys tanpa ragu-ragu dengan cepat mengembangkan Tembakau Deli di beberapa lokasi yang dipilihnya.
Nienhuys atas nama P. van den Arend melakukan ekspor Tembakau Deli ke Amsterdam. Pemerintah Hindia Belanda sadar keistimewaan tembakau Deli. Sumatra Timur (nama Sumatra Utara waktu zaman kolonial) lalu menjadi tujuan sejumlah investor dari Belanda dan beberapa Negara di Eropa.
Keberlanjutan Usaha
“Perkebunan di Sumatra Timur boleh dikatakan pionirnya sustainability (keberlanjutan) karena dengan penuh kesadaran para planter waktu itu sudah menerapkan praktek-praktek pertanian yang bersahabat dengan lingkungan yang kemudian jadi acuan bagi industri perkebunan negara-negara lain,” kata Ketua Dewan Penasehat Gabungan Pengusaha Perkebunan Indonesia (GPPI) Soedjai Kartasasmita yang lahir tahun 1926.
Lembaga-lembaga penelitian perkebunan didirikan, tidak terbatas pada tembakau, melainkan juga tanaman perkebunan lainnya, antar lain di Medan untuk tembakau (kantor Gubernur sekarang), di Laras untuk sisal, untuk karetdi Medan (AVROS)dan Sei Karang (RCMA). Untuk penelitian kelapa sawit selain didirikan di Avros juga di Bah Jambi kebun milik HVA di Kabupaten Simalungun.
Berkat langkah-langkah ini produk-produk perkebunan Sumatra Utara pada zaman itu sangat digemari oleh konsumen sehingga harga yang dicapai bisa lebih tinggi dari harga pasar.
“Tembakau Deli sebagai bahan cerutu yang superior walaupun harganya mahal tetap menjadi idaman konsumennya tidak beda dengan anggur Bordeaux di kalangan para penggemar anggur,” tutur pria yang sangat dekat dengan produsen dan konsumen cerutu di Eropa ini.
Sumatra palm oil, Sumatra rubber dan Sumatra tea juga sangat disenangi oleh pasar sehingga komoditas-komoditas tersebut sering mendapat premium di atas harga pasar. Som
Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066
Editor : Julianto