Teknologi pergulaan dari mulai on farm hingga off farm yang dihasilkan lembaga penelitian di Indonesia sudah cukup banyak. Sayangnya, teknologi tersebut belum sepenuhnya diterapkan petani. Akibatnya upaya peningkatan produksi gula juga terhambat.
Direktur Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI), Aris Toharisman, mengemukakan, saat ini teknologi di bidang pergulaan sudah tersedia cukup di dalam negeri, baik menyangkut teknologi di bidang budidaya, varietas maupun menyangkut tebang muat angkut.
Persoalannya sekarang, apakah petani mau dan bisa menerapkan teknologi yang ada tersebut? Ini yang masih menjadi tanda tanya besar, karena terkait dengan banyak faktor. Misalnya, di bidang budidaya, petani sudah mengetahui yang terbaik adalah melakukan pemupukan berimbang. Dengan alasan tak memiliki dana cukup, teknik pemupukan berimbang tidak bisa dilaksanakan.
Demikian juga untuk bongkar ratoon, petani sudah dianjurkan setelah empat kali panen segera lakukan pergantian bibit tanaman. Kenyataan di lapangan menunjukkan sudah 5-7 kali keprasan petani tak juga melakukan bongkar ratoon. Petani beralasan, panen yang dihasilkan masih mendatangkan keuntungan. Pertimbangan tak melakukan bongkar ratoon, lagi-lagi juga terkait dengan masalah biaya.
“Jadi saya pikir pemerintah perlu membantu petani tebu agar mereka bisa melakukan perbaikan-perbaikan dalam usaha taninya termasuk melakukan bongkar ratoon tentunya,” ujar Aris.
Aris mengatakan, teknologi maupun inovasi baru menyangkut budidaya tanaman tebu akan tampak hasilnya bila petani menerapkan secara konsisten. Kini jangankan untuk menerapkan teknologi baru, mau terus berkecimpung dalam kegiatan usaha tani tebu saja petani masih berhitung-hitung. “Mereka merasa tidak memperoleh nilai tambah lebih dari mengusahakan tanaman tebu,” katanya.
Hasil penelitian P3GI, di Jawa lebih dari 50 persen petani tak melaksanakan penanaman tebu dengan tepat waktu. Varietas yang ditanam juga banyak yang tidak sesuai anjuran. Pada November-Desember seharusnya petani menanam varietas tebu berkarakter matang akhir. Karena bibit tak tersedia, petani menanam varietas dengan karakteristik matang awal. Pada saat Mei-Juni, seharusnya tebu sudah digiling, tapi tanaman baru berumur 6-7 bulan. “Penundaan giling jelas berdampak menurunkan rendemen,” katanya.
Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066
Editor : Julianto