Sabtu, 15 Desember 2018


Ini Kiat Sukses Berkebun Sawit, Murah Namun Tak Murahan

24 Sep 2018, 12:41 WIBEditor : Gesha

Hamparan tanaman sawit di PT. Sari Lembah Subur yang subur berkat rock phosphate | Sumber Foto:Mukhlis

Dengan Rock Phosphate, Sawit Tumbuh Subur

TABLOIDSINARTANI.COM, Riau --- Berkebun sawit ternyata harus memiliki kiat khusus agar bisa sukses, salah satunya kecerdasan petani memilih teknologi. Teknologi yang murah, tapi tidak murahan adalah impian setiap petani atau pengusaha kelapa sawit. Lantas, adakah teknologi semacam itu?.

Selama tiga hari, Tabloid Sinar Tani online diundang oleh Balai Penelitian Tanah (Balittanah) untuk melihat sebuah fakta bagaimana sebuah teknologi kesuburan tanah yang mampu mengefisienkan pengeluaran, tetapi memberikan hasil optimal berkepanjangan.

Lokasi tepatnya berada di areal perkebunan kelapa sawit PT. Sari Lembah Subur/SLS (Anak perusahaan Astra Agro Lestari) di desa Genduang, Kecamatan Pangkalan Lesung, Kabupaten Pelalawan, Propinsi Riau tenologi itu diterapkan dengan luasan 8 hektar.

Direktur Operasional PT. Sari Lembah Subur, Muhammad Marwan berbagi cerita sukses berkebun sawit. Menurutnya, ada lima kunci keberhasilan yakni bibit, pupuk, air, pelepah dan manajemen farm.

Mungkin beberapa faktor itu sudah banyak diketahui oleh petani sawit, namun untuk pupuk dan manajemen farm perlu banyak terobosan. Pupuk misalnya, Marwan menjelaskan bahwa faktor produksi ini harus ada untuk menunjang pertumbuhan tanaman.

Marwan menuturkan sebagian besar lahan yang digunakan untuk sawit ini masuk pada kategori lahan masam, untuk itu sangat memelukan asupan unsur hara P. Selama ini untuk mendapatkan asupan itu, pelaku perkebunan sawit pastinya menggunakan pupuk P bisa dalam bentuk SP 36 atau TSP.

Kebutuhan pupuk untuk perkebunan sawit ini umumnya besar, sehingga jika ada alternatif pemupukan P yang lebih murah akan sangat menguntungkan. Sekitar 50-60 % biaya perawatan tanaman digunakan untuk pembelian pupuk agar produksi optimal.

Sejak tahun 2016 lalu di areal SLS in itelah dilakukan pengujian pemberian langsung rock phosphate ke tanaman sawit, dosis yang diujicobakan beragam. Namun, setelah memperhatikan hampir dalam kurun waktu 3 tahun, Marwan mengakui bahwa ada perbedaan tampilan tanaman yang dipupuk langsung Rock Phospate.

“Setelah diberi Rock Phospate menunjukkan keberhasilan baik pertumbuhan vegetatif maupun generatif. Saya yakin produktivitas sawit ini akan lebih optimal," ujar Marwan menambahkan.

Efisien dan Murah

Dari sisi ilmiah, Kepala Balai Penelitian Tanah (Balittanah) Bogor, Husnain menjelaskan untuk jenis tanah masam diperlukan pupuk P yang tidak cepat larut. Pupuk P yang cepat larut akan cepat hilang dan perlu diaplikasikan setiap musim sehingga banyak pemborosan. Untuk mengatasi hal itu, penggunaan rock phosphate jauh lebih baik, batuan ini cukup reaktif namun bersifat slow release (tidak cepat larut) serta memiliki efek residu.

Baca juga : Berkat Rock Phosphate, Untung Petani Jagung-Sawit Makin Rock n Roll

Untuk diketahui, Pupuk P yang ada selama ini adalah pupuk yang berbahan dasar P yang diimpor kemudian akan melalui proses pabrikasi yang tentunya memerlukan pembiayaan. Sehingga, wajar saja kalau harga pupuk P ini lebih mahal dibandingkan jenis pupuk lainnya. Sementara rock phosphate yang berasal dari Maroko ini adalah jenis batuan yang tidak melalui proses pabrikasi dan dapat diberikan langsung, sehingga harganya akan lebih murah.

Pengujian Rock Phospate di PT. SLS in imenurut Sekjen Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Maryoto adalah indikator bagi pengusaha perkebunan di Indonesia. Keberhailan yang diraih di perkebunan itu  akan segera ditularkan kepada seluruh pengusaha sawit anggota Gapki..

Untuk diketahui, Organisasi sawit ini sekarang memiliki anggota sebanyak  69 perusahaan yang berada di Propinsi Riau.

Nah,bagi petani/pengusaha sawit kalau mau berhasil pilihlah faktor produksi yang murah, namun tidak murahan. Rock Phospate bisa menjadi alternatifnya.

 

Reporter : Mukhlis
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018